BAB II
PEMBAHASAN
A.
Perkembangan Public
Relations
Pihak pertama yang mulai menerpakan
teknik-teknik public relaton dalam pemerintahannya adalah negara Eropa dan
Amerika. Di negara Eropa diawali tahun 1809 departemen keuangan inggris raya
menunjuk juru bicara resmi. Tahun 1854 dinas pos Inggis raya melakukan
penjelasan secara luas atas pelayanan yang dilakukan pada masyarakat umum.
Di
Amerika Serikat dibentuk biro konsultan PR pertama oleh mantan wartawan yang
bernama Ivy Ledbetter Lee, sejak itu PR merupakan studi yang diminati negara
ketiga guna mengahadaapi kebutuhan untuk menyebarkan berbagai macam pengetahuan
dan pemahaman kepada penduduknya baik sector swasta maupun pemerintah di dunia
ketiga.
Sebagai
salah satu negara berkembang, Indonesia mulai menerapkan praktik PR yang di
akui keberadaanya sejak terbentuknya Bakohumas tanggal 13 Maret 1971. Bakohumas
ini menghimpun para pejabat dan staf PR di lingkungan departemen, lembaga
pemerintah dan BUMN. perkembanganPR di Indonesia cukup pesat dengan adanya tiga
faktor yang membelakangi yaitu :
·
Kemajuan teknologi
·
Pertumbuhan
·
Kebutuhan masyarakat
akan informasi.
Dalam
kurun waktu 100 tahun terkahir ini PR mengalami perkembangan yang sangat cepat.
Namun perkmbangannya dalam setiap negara itu tak sama baik bentuk maupun
kualitasnya. Proses perkembangan PR lebih banyak ditentukan oleh situasi
masyarakat yang kompleks.
Dalam
sejarahnya istilah Public Relations sebagai sebuah teknik dengan adanya
aktivitas yang dilakukan oleh pelopor Ivy Ledbetter Lee yang tahun 1906berhasil
menanggulangi kelumpuhan industri batu bara dia Amerika Serikat dengan sukses.
Atas upaya ini dia diangkat menjadi The Father of Public Relations.
Perkembangan
PR sebenarnya bisa dikaitkan dengan keberadan manusia. Unsur-unsur memberi
informasi kepada masyarakat, mebujuk masyarakat, dan mengintegrasikan
masyarakat, adalah landasan bagi masyarakat.
Berikut
gambaran kronologis PR di dunia:
- Abad
ke-19 PR
di Amerika Serikat dan Eropa merupakan program studi yang mandiri
didasarkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
- 1865-1900
Publik
masih dianggap bodoh.
- 1900-1918
Publik
diberi informasi dan dilayani
- 1918-1925
Publik
diberi pendidikan dan dihargai
- 1925
Di
New York, PR sebagai pendidikan tinggi resmi
- 1928
Di Belanda memasuki pendidikan
tinggi dan minimal di fakultas sebagai mata kuliah
wajib. Disamping itu banyak diadakan kursus-kursus yang bermutu
- 1968-1979
Publik dikembangkan diberbagai
bidang, pendekatan tidak hanya satu aspek saja
- 1979-1990
Profesional/internasional memasuki
globalisasi dalam perubahan mental dan kualitas
- 1990-sekarang
1. Perubahan
mental, kualitas, pola pikir, pola pandang, sikap dan pola prilaku secara
nasional/internasional
2. Membangun
kerja sama secara lokal, nasional, imternasional
3. Saling
belajar di bidang politik, ekonomi, sosil budaya, iptek, sesuai engan kebutuhan
era global/informasi.
B. PUBLIC
RELATIONS DAN MEDIA MASSA
Di
era sekarang ini, media memiliki peran dalam menyampaikan berita fakta atupun
sebagai penyebar informasi dari berbagai pihak yang berkepentingan. Disinilah
peran media harus jelas dan berimbang, disatu sisi media berperan sebagai
jembatan masyarakat untuk mendapatkan informasi yang benar, sebaliknya disisi
lain media juga berperan menyebarkan suatu informasi tertentu untuk kepentingan
pihak tertentu kepada masyarakat.
Pada
jaman sekarang telah berkembang pesat berbagai macam jenis media massa. Mulai
dari televisi, radio, surat kabar, dan lain sebagainya dapat dimanfaatkan
sebagai media di era informasi media untuk saat sekarang. Sehingga media
merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari.
Peran
media yang sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat akan informasi yang benar
adalah hal utama yang harus dilakukan media, dari sinilah asas orang-orang
media yang independent, non-partisan, menjunjung kode etik jurnalis dijalankan.
Lebih dari pada itu, seorang jurnalis atau wartawan harus memiliki berbagai
pengetahuan yang merata di segala bidang, teritama dibidang dimana seorang
wartawan ditempatkan.
Public
Relations dalam suatu organisasi/perusahaan harus menjalin hubungan baik dengan
pihak media. Hal ini penting, karena disatu sisi pihak media mendapatkan sumber
berita yang berkualitas dengan penjelasan yang detail tanpa harus menganalisis
berita, kemudian disisi lain pihak perusahaan mendapatkan kesempatan untuk
mempublikasikan diri di media yang bersangkutan.
Untuk
kedepannya kedua pihak harus terus bekerjasama, karena dengan itulah salah satu
alternative dari kedua belah pihak dapat tercapai, yaitu publikasi yang
didapatkan perusahaan, khususnya pihak Public Relations untuk menjelaskan
secara detail tentang perusahaannya diberbagai media, sedangkan lingkungan
media terus mendapatkan tantangan dengan semakin berkembangnya era informasi,
sehingga liputan berkualitas yang dapat memberikan informasi kepada masyarakat
dapat dipenuhi.
Public
relations (PR) dan mitranya media massa
atau pers, tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya,keduanya saling membutuhkan
membentuk sinergi yang positif. PR menjadi sumber berita bagi pes, sedang pers
menjadi sarana publisitas bagi PR agar perusahaan dan para komunikator lebih
dikenal oleh public atau
masyarakat.kedua belah pihak ,PR dan pers harus saling memiliki kepercayaan
bahwasannya PR bukan “bulanan-bulanan ” pers,dan pers tidak boleh diperalat
oleh PR, sehingga memuat pemberitahuan
yang mencerminkan kebohongan kepada public (Ardianto.2004:91).
Kegiatan
yang paling banyak dilakukan Pr adalah berkaittan dengan media massa, dimana
fungsi komunikasi praktik PR menjadi
bagia yang tidak terpisahkan . tidaklah berlebihan bila PR dan media massa mempunyai saling berketergantungan . tanpa adanya
sumbangsih PR, media massa cetak dan
elektronik tidak dapat memperoleh atau mendekati suatu keakuratan
berita,sebagaimana yang di inginkan.
Komunikasi
PR, meskipun tidak dibatasi terhadap media massa, dapat dilakukan dengan
pembuatan berita khusus, seperti dalam
booklet atau media yang terbit secara periodik ( house jurnal) ,motion
picture ( gambar hidup ),slide,film, video dan persentasi audio visual lainnya
yang diperuntukkan public khusus.
PR adalah sebuah paying besar yang
menaungi banyak bidang keahlian, dan jelas lebih luas daripada sekadar
penghubung antara pers dank lien seperti
yang biasa dilakukan sebelumnya. Publisitas
hanya bagian kecil dari PR, demikian juga dengan penggunaan berbagai
jenis media mulai dari Koran, film, atau
majalah (rivers,et.al, 2003: 265). Bernays dan para pakar Pr lainnya menyebut
PR sebagai suatu “program total” yang mengikuti banyak kegiatan yang lebih
kompleks daripada publiksitas.
Selain memasuki berbagai materi
yang layak diterbitkan atau disiarkan, pejabat PR perlu memahami media
massa,seperti bagaimana surat kabar dan
majalah itu diterbitkan , bagaimnapula caranya memproduksi program-program siara radio dan televise sebagian pengetahuan
tentang media dapat dipelajari dengan
mengamatinya saja . untuk itu, adakanlah kunjungan ke sejumlah penerbitan,stasiun radia siaran
dan studio televise ( atau rumah produksi yang memaok program-programnya).
Pejabat PR harus mengetahui segala sesuatunya tentang media selengkapmungkin .
di inggris dulu sejumlah penerbitan yang memuat banyak informasi penting
mengenai seluk-beluk dunia pers atau mediamassa.
Minsalnya benn’ media directory
atau PR plammer, yang juga memiliki edisi-edisi khusus berbahasa lain untuk
sejumlah Negara di erofa.
Menurut jefkins (1995) , hal-hal
pokok pers yang perlu di ketahui oleh seseorang PR adalah:
1.
kebijakan redaksi
2.
frekuensi penerbitan
3.
tanggal terbit
4.
peruses pencetakan
5.
daerah sirkulasi
6.
jangkauan pembaca
7.
metose distribusi
lebih jauh jefkins menyebutkan
prinsip-prinsip hubungan pers yang baik: Pertama , memahami dan melayani
media. Seorang PR harus mampu menjalin kerjasama dengan pihak media. Ia harus
menciptakansuatu hubungan timbal balik yang saling menguntungkan.
Kedua, membangun repotasi sebagai
orang yang dapar di percaya. Para pejabat PR harus senantiasa siap menyediakan waktu atau
memasuk materi-materi yang akurat dimana saja dan kapan saja hal itu
dibutuhkan. Hanya dengan carainilah ia akan
dinilai sebagai suatu sumber informasi
yang akurat dan dapat di percaya oleh pers.
Ketiga, menyediakan salinan nakah
yang baik. Misalnya saja menyediakan reprduksi
foto-foto yang baik ,menarik, dan jelas. Dengan adanya teknologi input
langsung melalui computer akan sangat mudah mengoreksi dan menyusun ulang siaran berita
atau news release.
Keempat, bekerjasama dalam penyediaan materi. Sebagai contoh , pejabat
PR dan wartawan dapat bekerja sama dalam
mempersiapkan sebuah wawancara atau temu pers dengan tokoh-tpkoh tertentu.
Kelima, menyediakan fasilitas
verifikasi. Para pejabar PR juga perlu member kesempatan kepada para wartawan
untuk melakukan verifikasi (membuktikan kebenaran) atas setiap materi
mereka terima. Contoh konkretya, para
wartawan itu diizinkan melihat fasilitas atau kondisi-kondisi organisasiyang
hendak diberitakan.
Keenam, membangun hubungan personal
yang kokoh. Suatu hubungan personal yang
kokoh dan positif hanya akan tercipta serta erpelihara apbiladilandasi oleh
keterbukaan, kejujuran,kerjasama, dan sikap saling menghormati profesi
masing-masing.
1. Hubungan
baik dengan pers dapat dibina dengan mengamati beerapa prinsip yang diajukan
oleh pejabat PR tidewateroil company,
dalam moor. 1998 sebagai berikut:
2. keterbukaan
dan kejujuran harus menjadi asas utama,jangan berdalih
3. selalu
siap menerima pers.
4. Jangan
mencampurbaurkan siaran berita dengan menerima pers.
5. Jangan
melebih-lebihkan perusahaan atau mewarnai fakta.
6. Selalu
siapkan diri untuk dikutip dalam berita dan berhati-hatilah serta seksamalah
dalam membuat pernyataan .
7. Hindari
pernyataan off the record, tetapi kalau perlu,perjelaslah sebagai
peryataan “untuk tidak publikasi”
,jangan mendiskriminasi atau menganakemaskan salah satu media.
8. Jangan
mengeluh karena permasalahan kecil dalam percetakan.
9. Jangan
membingungkan wartawan, jik anda tidak dapat berbicara,katakana saja demikian.
10. Jangan
menyalahkan redaktur ,jika sebuah berita tidak dimuat.
11. Jangan
melangkahi wartawan dengan langsung mengadu kepada atasannya.
12. Ketahui
dulu minat seorang wartawan dan siapkan faktanya
13. Bantulah
dengan berita baik dan buruk maupun yng baik ( noore.1987:202-203).
Hubungan dengan media ( media
relations), ungkap moore 1987, yang semula merupakan hubungan kerja yang
sederhana antara pjabat PR dengan pers, telah menjadi semakin kompleks, karna
meningkatnya jumlah media.
Media semakin terspesialisasi, dan
persaingannya media semakin tajam. Kendati para penjabat PR makin propesional
dalam melakukan publiksitas, media tetap bersikap kritis terhadap prusahaannya.
Penelola media seperti redaktur menyadari bahwa PR merupakan sumber berita asli
dan sumber informasi teknis, ynag dapat megembangkan kisah
berita,gambar,artikel, dan bahan penunjang lainnya.
Menurut soemirat dan ardianto
(2002), dalam upaya membina media relations maka pR melakukan beberapa kegiatan
yang bersentuhan dengan media masaata pers antara lain
a.
Konverensi pers, temu
pers atau jumpa pers yaitu informasi yang diberikan secara simultan atau
berbarengan oleh seorang pejabat pemerintah atau swasta kepada kelompok
wartawan, bahkan diseratusan wartawan sekaligus misalnya
presiden,raja,menteri,gubenur,bupati,direktur, atau pengusaha ternama,tokoh
olahraga, tokoh kebudayaan, bias saja memberikan konferensi pers ( Amar,dalam
soemirat dan ardianto,2002). Ia menyebutkan syarat utama dari sebuah koferensi
pers adalah sebuah berita yang disampaikan sangat penting. Sebuah konferensi
pers akan kehilangan fungsinya bila berita yang disampaikan kurang penting,
apalagi jika diliput juga oleh televise dan radio siaran . menurut oemi
abdurachman,konfereansi pers di
selenggarakan bila ada peristiwa-pristiwa penting di suatu instansi
/perusahaan/ badan,atas ini siatif
sendiri atau permintaan wakil-wakil
pers.
b.
Press beating, yait
pemberian informasi diselengarakan secara regular oleh seorang pejabat PR.
Dalam kegiatan ini disampaikan informasi-informasi mengenai kegiatan yang baru
terjadi kepada pers, juga diadakan tanggapan atau pertanyaan bila wartawan
belum puas dan menginginkan keterangan
lebih perinci.
c.
Press tour, yaitu kegiatan
yang diselenggarakan oleh suatu perusahaan atau lembaga untuk mengunjungi
daerah tertentu dan merekapun (pers/media)
diajak menikmati objek wisata yang menarik,. Misalnya suatu departemen
mengajak wartawan brwisata sambil meninjau proyek-proyek pembangunan seperti
bendungan, pelabuhan,dan lainnya atau suatu perusahaan kayu yang berkantor pusat di Jakarta mengajak pers
berwisata sambil melihat pabrik kayu lapisnya di Kalimantan.
d.
Pres release (news
release) atau siaran pers sebagai publisitas,yaitu media yang banya digunakan
dalam kegiatan PR untuk menyebarkan berita.
e.
Special events, yaitu
pristiwa khusus sebagai suatu kgiatan PR yang penting dan memuaskan banyak
orang untuk ikut serta dalam suatu kesempatan,yang mampu meningkatkan
pengetahuan dan memenuhi selera public, seperti peresmian gedung, peringatan
ulang tahun perusahaan ,seminar,pameran, loka karya, open house, dan lainnya.
Dalam kegiatan ini PR biasanya mengundang pers atau media untuk meliputnya.
f.
Press luncheon, yaitu
pejabat PR mengadakan jamuan makan siang bagi para wakil media
massa/wartawan/reporter,sehingga pada kesempatan ini piak persdapat bertemu
dengan tp manajment perusahaan/lembaga guna mendengarkan perkembangan
perusahaan atau lembaga tersebut.
g.
Wawancara pers, yaitu
wawancara yang sifatnya lebih pribadi , lebih individu.PR atau top manajmet yng
diwawanarai hanya berhadapan dengan wartawan atau reporter yang bersangkutan. Mekipun pejabat
itu diwawancarai seusai meresmikan suatu acara oleh banyak wartawan, bahkan di
liput radio siaran dan televisi, tetap saja wawancara itu besifat individu.
Abdullah(2000) mengungkap sosok
wartawan yang konon di mitoskan dengan label tertentu, yang sebetulnya jauh
dari realitas sosok wartawan , sebagai berikut:
a.
“ wartawan bias di
uandang kapan saja”. Hal ini merupakan mitos. Seringkali undangan konferensi
pers suau perusahaan atau lembaga tidak
banyak dihadiri wartawan. Ketidak hadiran itu biasanya diebabkan wartawan menganggap
undangan tersebut kurang memiliki nilai berita, loksi undangan terlalu jauh dan
sukar di jangkau kendaraan umum,
waktunya terlalu malam, wartawan sudah lelah, dikejar deadline naskah berita
yang lain, dan sebagainya.Lain halnya jika ada berita bersifat hars news ,
seperti kebaran super mall, tabrakan kereta apai, pesawat jatuh, rampokan,
bencana alam dan tragedy lainnya. Wartawn akan mengejar prisiwa ini, kendati
dia sudah tertidur lelap dirumahnya.
b.
“wartawan selalu
memberitakan hal-hal yang negatif”. hal ini hanya mitos . wartawan tidak bole
sembarangan membuat berita.sebuah berita harus di legkapi fakta yang akurat.
Selain itu, eorang redaktur sebagai kepanjang tanganan pemimpin redaksi akan
melihat pantas tidaknya sebuah berita di turunkan.
c.
“wrtawan selalu
komersial” . Dengan semakin baiknya tingkat kesehatan manajment perusahaan
surat kabar dan bermunculannya wartawan muda yang berpendidikan tinggi praktik-pratik meminta imbalan (amplop) dari
sumbe berita bukan jamannya lagi.
d.
“wartawan selalu urakan”. Wartawan masa kini
yang berpendidikan tinggi dan mereka udah dibekali etika ketika meliput,
sehingga ketika meliputpun mengenakan pakaian yang rapid an pantas.
e.
“wartawan manusia
pintar” mitos yang melekat dalam masyarakat bahwa wartawan meruakan manusia
yang memiliki intelegensia tinggi sehingga harus diwaspadai karena lewat
wawancaranya yang tajam bias menjerumuskan sumber berita. Hal ini tidak
sepenuhnya benar. Masih banyak wartawan yang bertanya tentang hal yang
sederhana , yang mengesahkan ketidak pengertian wartawan tersebut atas informasi
yang diterimanya,
f.
“wartawan yang
membutuhkan berita”. Wartawanyang disuruh membayar ketika akan meliput
seminar,akan meninggakan acara.kalaupun meliput, ia hanya akan meliput
pembicara dalam seminar setelah acara tersebut selesai.ini merupakan kerugian
bagi perusahaan, karena leluput dari publisitas media massa.
g.
“wartawam manusia kebal
hokum”. Pada kenyataannya Wartawan tidak
kebal hokum.jika ia melanggar lalu lintas tetap di tangkap polisi.
h.
“wartawan sosok yang
menakutkan”. Akibat mitos ini tidak sedikit oknum wartawan atau wartawan palsu
yang bergentayangan mencari sumber berita yang ujung-ujungnya meminta uang.
i.
“wartawan bias menulis
apa saja”. Dengan mengacu kepada
kaidah-kaidah junalistik wartawan tidak bias menulis berita sekehendak
hatinya. Meskipun ia penulisnya ,belum tentu berita tersebut di setujui
redaktur.
j.
“wartawan manusia
sakti”. Wartawan mampu mengurus apa saja dan menembus rumitnya birokrasi.
Karena itu muncul mitos bahwa jika ingin mengurus sesuatu sebaiknya menitipkan
pada kenalan seseorang wartawan. Pada kenyataannya, seorang wartawa tetap saja
engikuti prsedur resmi dalam mengurs sesuatu, misalnya perpanjangan sim dan
stnk.
C. BIDANG
PRAKTIS PUBLIC RELATION
Sejumlah
aktivitas public relation (PR) dalam organisasi non profit antara lain (AGEE,
et, 2001):
a.
Asosiasi, profesi dan
perdagangan. Di Amerika terdapat sekitar 4000 organisasi nasional,40.000
asosiasi organisasi profesi tingkat negara bagian, baik lokal, regional, termasuk kamar dagang dan industri (kadin),
asosiasi hotel dan motel. Semua asosiasi itu memerlukan kegiatan pr.
b.
Organisasi sosial dan
kesehatan, termasuk layanan sosial (palang merah Amerika), agensi-agensi sosial
(asosiasi jantung Amerika), rumah sakit, organisasi keagamaan, agesi-agensi
kesejahteraan sosial ( balai keselamatan, kantor-kantor pemerintah , organisasi
budaya dan yayasan). Semua organisasi ini juga memerlukan sentuhan pr .
c.
Sekolah tinggi dan
universitas. Ribuan praktisi pr berkerja di sekolah tinggi dan universitas
untuk menulis, mengedit dan merancang publikasi, memproduksi siaran dan
bahan-bahan audiovisual, dan sebagainya.
Sebagian lagi bekerja di kantor-kantor pengenbangan dan alumni, dengan
meupayakan penggalangan dana.
d.
Sekolah menengah negeri
dan swasta. Pr bekerja di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah. Hampri
sama dengan pr pada tingkat sekolah tinggi, sekolah ini merekrut para praktisi
pr dalam jumlah besar.
Keempat
contoh aktivitas pr pada organisasi non provit diatas, memberikan gambaran
bahwa pr tidak diperlukan di dunia bisnis saja, melainkan diperlukan dalam
organisasi nirlaba. Kemampuan pr yang selama ini dterapkan, dibagi kedalam dua
bidang yaitu generalis dan spesialis.
Seorang generalis jumlahnya terbatas, biasanya terdapat pada tingkat eksekutif
atau menajerial. Mereka bertanggung jawab untuk menganalisis masalah,
mengembangkan program-program, turut serta dalam pengambila keputusan tingkat
manejemen, dan mengawasi pelaksanaan program.
Para
spesialis jumlahnya banyak. Mereka ahli dalam berbagai teknik komunikasi dan
terampil dalam bidang pr yang bersifat praktis. Para spesialis ini bekerja di
bawah perintah para generalis. Para spesialis menulis news release dan naskah
pidato, mempersipakan booklet, malayani permintaan pers, merancang spesial
events (kegiatan-kegiatan khusus, menngemabangkan presentasi audio visual dan
material yang berhubungan dengan pendidilkan, dan sebagaiya. Banyak karir pr
sebagai generalis dimulai dari tingkat spesialis
Berbicara
tentang publikasi, banyak sekali perusahaan dan kelompok nonprofit yang menerbitkan masalah dan newsletter untuk
pelanggan, kariawan, pemasar da kelompok manajemen tertentu. Media pr ini
dibagi kedalam publikasi internal yang didistribusikan didalam perusahaan dan
publikasi ekternal yang di distribusikan keluar perusahaan. Tetapi ada juga
perusahaan yang membuat satu media yang diperuntukkan publikasi internal dan
publikasi eksternal.
D. PROFESIONALISME PUBLIC RELATIONS
Sebanyak
15.000 anggota public relation society of Amerika (PRSA) memiliki sertifikasi
profesionalisme pr, melalui sebuah program akreditasi ( AGEE, et Al . 2001 dan
Willcox, et Al.2003). pengakuan akreditasi diberikan kepada seseorang yang
paling sedikit memiliki pengalaman 5 tahun sebagai praktisi pr atau dosen pr di
perguruan tinggi. Untuk memiliki sertifikasi sedikitnya ada dua sponsor dari
anggota PRSA yang memberikan rekomendasi bahwa yang bersangkutan dinilai
memiliki integritas dan kemampuan, juga harus mengikuti ujian tertulis dan
lisan sebelum memperoleh sertifikasi.
Program
akreditasi PRSA, dikembangkan tahun 1965, sebagai tahap utama menerapkan
profesionalisme di bidang pr. Untuk menjadi anggota asosiasi PRSA, tidak selalu
harus mempunyai pengalaman bertahun-tahun di bidang pr. Keaggotaan terbuka bagi
mahasiswa pr, dengan kualifikasi an anggota muda. Berbagai organisasi
kemahasiswaan yang mengarah kepada profesionalisme pr memperoleh dukungan dari
PRSA. Sedikitnya 175 sekolah tinggi dan
univerisitas yang mengelola program studi pr memiliki kerja sama yang erat
dengan PRSA. Lebih dari 8000 anggota PRSA dari kalangan mahasiswa, dan 6000
diantaranya wanita.
Selain
PRSA terdapat pula internasional association of business communicators (IABC )
dan difisi pr association for Education In Journallism and Mass comunication,
yang memberikan kontribusi untuk meningkatkan standarisasi kurikulum untuk
studi pr tingkat sarjana strata satu dan tingkat master profesional.
The
internasional public relation association (IPRA) yang didirikan pada tahun
1955, menerima keanggotaan secara individu bagi provesional pr yang
berorientasi secara internasional. Setiap tiga tahun sekali IPRA
menyelenggarakan kogres pr sedunia, yang dihadiri lebih dari 600 praktisi dari
Amerika, Eropa, Amerika Latin, Asia Timur, dan Asia Tenggara seperti Malaysia,
Indonesia, Thailand, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam. Organiasai pr di
indonesia disebut perhumas ( public relation association of Indonesia) yang didirikan
sejak tahun 1972. Pada tahun 2004 ini telah berdiri pula PRSI (public relation
societi of Indonesia).
Bidang
pr merupakan salah satu aspek manajemen yang diperulukan oleh setiap
organisasi, baik itu organisasi yang bersifat komersial (perusahaan), maupun
organisasi nonkomersial. Mulai dari yayasan, perguruan tinggi, dinas militer,
sampai dengan lembaga-lembaga pemerintah, bahkan pesantren. Kehadirannya
dibutuhkan karena pr merupakan salah ssatu elemen yang menetukan kelangsungan
suatu organisasi secara positif. Arti penting pr sebagai sumber informasi
terpercaya kian terasa pada era globalisasi dan banjir informasi seperti saat
ini (Anggoro, 2000 ).
Menurut
Anggoro, pr mencakup semua bentuk komunikasi yang terselenggara antara
organisasi yang bersangkutan dengan siapa saja yang berkepentingan dengan
nya. Setiap orang pada dasarnya juga
selalu melakukan pr selama ia masih mejalin kontak manusia lainya.
Bagi
kalangan awam, pr terkesan sebagai sebuah “barang baru” mungkin baru muncul
sejak berakhirnya perang dunia ke-II pada permulaan abad ke 20. Di negara yang
lama merdeka dan mencapai status negara industri, pr sudah menjadi bagian dari
kegiatan komunikasi massa. Namun demikian, dinegara maju pun masih ada anggapan
yang keliru tentang sejarah pr. Pendapat umum yang ada bahwa pr tercipta di
Amerika Serikat. Padahal pr sudah ada jauh sebelum benua Amerika itu di
ketemukan oleh columbus, atau bahkan bangsa viking.
Pratik
pr yang paling hakiki sudah ada dinusantara sebelum kedatangan belanda. Sebagai
contohnya usaha panembahan senopati, pendiri kerjaan mataran karna untuk
menyebarkan gosip banwa ia dan keturunannya akan menjadi pasangan lindungan
Nyai Roro Kidul. Pada dasarnya, menurut salah satu versi sejarah, usaha itu
dimasudkan menyaingi pengaruh Adipati dipesisir pantai utara jawa yang
kekuasaannya direstui oleh sunan(wali) yang sangat disegani.
Namun
secara kelembagaan atau institusional, profesi pr diakui dengan sendirinya
sejak terbentuknya bako humas pada tanggal 13 Maret 1971. Dewasa ini, terutama
sejak akhir dasawarsa 1980-An, perkembangan pr di indonesia begitu mencuat.
Jika sdilihat sepintas lalu, tampaknya fungsi pr cendurung hampir sama dengan
periklanan. Keduanya, merupakan fungsi yang berbeda dan saling melengkapi,
dalam kegiatan pemasaran. Dalam tahap-tahap awal pengenalan produk atau jasa,
fungsi pr lebih menonjol, sedangkan pada tahap-tahap akhir mejelang konsumen
mengambil sikap atau keputusan tentang produk atau jasa tersebut, fungsi
periklanan lebih berperan. Konsep baru yang memadukan marketing public relation
(MPR) mengunakan berbagai sarana sebagai upaya memberikan informasi yang lebih
rinci dan lengkap dalam rangka membangun citra perusahaan dan produk, ataupun
menunjang dan melengkapi kegitaan periklanan
Sejak
diperkenalkan oleh Philip Kotler di Jakarta awal dasawarsa 1990-An, MPR kian
marak diperbincangkan. Menurut penggagasnya, Thomas El. Haris, MPR berfungsi
merancang pembelian dan kepuasan konsumen melalui komunikasi mengenai informasi
yang dapat dipercaya dan melalui pembangkitan kesan-kesan. Sebagai
kecenderungan baru pemasaran, MPR menarik banyak minat perusahaan di
indonesiauntuk memperatikkanya.
Perusahaan
farmasi,makanan,minuman yang telah merintis MPR antara lain Kalbe
Farma,Indofood,McDonalds,dan cola cola.Belakangan ini MPR kembali mendapat
perhatian setelah berbagai media massa elektronik dan industri
menerapkannya.Statiun televisi swasta seperti RCTI,SCTV,Indosiar,Anteve,dan
lainnya, mecoba menggaet pemirsa tidak saja lewat iklan di berbagai media cetak,
tetapi juga menggelar publisitas dalam melaksanakan strategi MPR di tengah
strategi strategi pemasaran lainnya.
Menurut
putra 1999, salah satu tantangan besar yang kini dihadapai bidang public
relations adalah bagaimana menjadikan praktisi pr semakin lebih profesional .
menjadi lebih frofesional memerlukan banyak hal, antara lain; semakin
dikuasainya keterampilan keterampilan teknis mendasar untuk pelaksanaan
implementasi program pr yang sudah direncanakan ,dan semakin mandirinya
praktisi pr dalam menjalankan pekerjaan mereka , baik dalam setting
pengorganisasian maupun sebagai setting dalam konsultan pr.
Pr
sebagai metode komunikasi sering disebut sebagai lembaga public relations as
state og being .Pr sebagai lembaba umumnya hanya terdapat pada organisasi
organisasi besar .kegiatan pr sebenarnya harus dilaksanakan oleh pemimpinnya
sendiri. Akan tetapi oleh karena publik yang menjadi sasaran kegiatannya terlalu banyak jumlahnya, baik
yang didalam maupun diluar organisasi maka dibentukalah suatu bagian khusus
Biro pr atau istilah-istilah lain sesuai dengan struktur organisasi
bersangkutan. Jadi tekni-teknik komunikasi yang seharusnya dilakukan oleh
pemimpin organisasi, kini dikembangkan oleh seorang yang ditugaskan, yang lazim
disebut public Relations Officer (PRO).
Jadi
tugas dan wewenang pimpinan organisasi ditujukan kepada PRO untuk melakukan
komunikasi dengan public yang begitu banyak jumlahnya. Dalam hubungan itu PRO
mengkonsepkan, merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan untuk komunikasi
secara metodoligis dan sistemmatis untuk dapat dijalankan secara efektif. Karena kegiatan yang dilakukan oleh PRO itu
luas, maka diperlukan model komunikasi secara khusus. Atas dasar kenyataan itu
pula, maka PRO disebut metode komunikasi.
PR
sebagai alat manajemen moderen secara struktur merupakan bagian integral dari
suatu kelembagaan atau organisasi, artinya PR bukanlah fungsi terpisah dari
fungsi kelembagaan atau organisasi tersebut. Jadi fungsi pr bersifat melekat
pada manajemen perusahaan, yaitu bagaimana pr dpaat meyeelengarakan komunikasi
dua arah antara organisasi atau kelembagaan yang diwakili dengan publicnya,
artinya peranan ini turut menentukan sukses atau tidaknya misi, fisi, dan tujuan bersama dari
organisasi atau lembaga tersebut (Ruslan. 1988:22).
Ruslan
mengungkapkan pula peranan umum pr dalam manajemen suatu badan atau organisasi
itu terlihat dari adanya aktivitas berikut:
a.
Mengepaluasi sikap atau
opini public.
b.
Mengidentifikasi
kebijakan dan prosedur organisasi / perusahaan dengan kepentingan publicnya.
c.
Merencanakan dan
melaksanakan penggiatan aktivitas pr.
Membahas
manajemen pr, sama halnya dengan mempelajari kiat dan strategi dalam manajemen
pemasran, menejemen personaliah, manajemen perusahaan, dan sebagainya. Dalam
manajemen pr, terdapat dua pokok bahasan yang ahrus diperhatikan, yaitu
manajemen dan PR. Keduanya slaing berkaitan dengan konsepsi dan aplikasi
dilapangan praktik, atau pengiatan suatu proses pekerjaan dan fungsi manajemen
organisasi/perusahaan .
Dikaitkan
dengan pemahaman manajemen PR, fungsi manjemen dalam kegiatan komunikasi,
merupakan faktor utama yang dapat menentukan kelancaran tugas PR, yang pada
umumya melalui tahapan berikutnya:
a.
Perencanaan (planning)
b.
Perorganisasian
(organizing)
c.
Mengomunikasikan
(comunicating)
d.
Pengawasan (conntroling)
e.
Penilaian (evaluating)
Ruslan
yang mengitir pendapat cutlip dan Center, dalam bukunya effetive public relations mengungkapkan bahwa PR
adalah fungsi manajemen yang menilai sikap publik, mengidentifikasikan
kebijakan dan tata cara organisasi demi kepentingan publiknya, serta
merencanakan suatu program kegiatan dan komunikasi untuk memperoleh pengertian
dan dukungan publiknya.
Secara
otomatis fungsi PR adalah termasuk fungsi manajemen dalam rangka mencapai
tujuan sentral organisasi/lembaga/perusahaan. Peranan komunikasi timbal balik
dua arah didalam aktivitas manajemen organisasi/lembaga masa kini atau
perusahaan besar biasanya diarahkan atau dilaksanakan oleh pihak PR.
Pengggunaan internet oleh para
professional merupakan cikal bakal dari perkembangan teknologi internet. Banyak
ahli menyebutkan, pemakaian internet terutama pada masa krisis komunikasi,
mengidentifikasi masalah, manajemen dan komunikasi interaktif. Penggunaan
lainnya adalah pembuatan newsletter (terbitan berkala) elektronik, pengiriman
pesan kepada khalayak sasaran, dan aplikasi internet dan web one to one dalam
kegiatan marketing dan komunikasi (Holtz.1999:3).
Menurut Holtz, kebanyakan aktivitas
Public Relations (PR) dalam internet masih terbatas pada penggunaan media satu
arah, dari atas ke bawah untuk penerbitan informasi masih menggunakan formula
komunikasi massa yang tradisional. Ditambah lagi banyak perusahaan yang belum
mengadopsi internet sebagai media PR atau perusahaan. Saat ini banyak praktisi
PR, sebut Holtz (1999), berbicara atas nama perusahaan telah mempertimbangkan
penggunaan internet sebagai salah satu strategi komunikasi PR. Mereka tidak
punya pilihan lain dan menjadikan Internet menjadi bagian dari budaya
perusahaan. Melalui internet ini pula setiap individu bisa menjadi penerbit,
konsumen atau melakukan kampanye untuk mempengaruhi perilaku konsumen. Khusus
dalam bidang membuka perspektif baru.
Teknologi internet telah mengubah
pola komunikasi PR sebelumnya yang masih konvensional seperti komunikasi dari
atas ke bawah, bawah ke atas, horisontal, atau pola komunikasi massa yang
dilakukan. Semua itu telah mereka tinggalkan dengan pola yang lebih actual
setelah lahirnya internet.
Internet dan intranet ini membawa
perspektif dan pola baru di era informasi dalam bentuk jaringan teknologi yang
memungkinkan setiap orang mengakses kemana saja untuk memenuhi kebutuhannya.
Bagi organisasi atau perusahaan yang mengadopsi internet akan mengalami
perkembangan pesat di tengah-tengah masyarakat informasi yang semakin heterogen
dan dapat meraup khalayak atau pasar sasaran yang lebih
besar jumlahnya.
Melalui internet pula annual report
(laporan tahunan) yang dibuat divsisi PR perusahaan dapat memasukkannya ke
dalam situs/web perusahaan atau perusahaan jasa PR di internet. Tidak perlu
mengirimkannya seperti cara-cara konvensional melalui pengiriman via pos dan
lainnya.
Internet, bagi PR, dapat melakukan
penggunaan internet dan commercial online yang mampu menjangkau publik yang
lebih luas. Kini, dunia PR memasuki masa keemasan, karena teknologi internet
ini telah membawa praktisi mampu mencapai publik sasaran secara langsung, tanpa
intervensi dari pihak-pihak lain, seperti
redaksi atau wartawan di media massa,
yang biasanya bertindak sebagai penjaga gawang pesan komunikasi dan melakukan
penyensoran terhadap pesan informasi PR bagi khalayak (publik).
Beberapa di antaranya yang bisa
dilakukan praktisi PR melalui penggunaan internet adalah sebagai berikut:
a.
Pertama, PR harus
menyadari bahwa khalayak/publik dapat mengakses semua Press Release atau News
Release yang dikirimkan melalui internet atau server, dengan menggunakan
katakata yang mudah dicari dan dipahami khalayak.
b.
Kedua, publik dapat
mengakses press release dalam home page yang ada di World Wide Web (bila
perusahaan itu telah memiliki home page).
c.
Ketiga, PR dapat
membuat mailing list dari publiknya. Mailing list adalah perangkat elektronik
yang dapat menyebarkan press release kepada publiknya melalui kotak e-mail.
Semua aktivitas PR di atas, yang
melalui internet tersebut, memungkinkan PR menjalin hubungan baik untuk
mempertahankan dukungan publik internal dan eksternalnya. Publik akan sangat
tergantung kepada PR sebagai sumber informasi berita yang tidak tersaji di
suratkabar dan media massa lain. Melalui iternet, PR dapat
menghemat biaya dibanding harus mengirim
press
release melalui pos atau faks.
Kendati PR melakukan penggunaan
internet, tidak berarti harus menyepelekan media lainnya. Media selain internet
tetap menjadi bagian penting dalam melakukan penyebaran berita atau informasi
PR.
Keuntungan PR dalam menggunakan
internet:
(1)
informasi cepat sampai pada publik;
(2)
bagi PR, internet dapat berfungsi sebagai iklan, media,
alat marketing, sarana penyebaran
informasi, dan promosi;
(3) siapa pun dapat mengakses internet;
(4) tidak terbatas oleh ruang dan
waktu;
(5)
internet dapat membuka kesempatan melakukan
hubungan komunikasi dalam bidang pemasaran
secara langsung.
Lebih jauh, Shel Holtz (1999),
dalam buku Public Relations on the Net mengemukakan beberapa pendekatan
strategi PR , yaitu di antaranya:
a.
pertemuan antar pihak
manajemen (yang telah dibreafing oleh PR) dengan perwakilan dari kantor pajak;
b.
mengadakan open house untuk menginformasikan
program-porgam perusahaan yang telah mempekerjakan karyawan local (komunitas
terdekat) yang memiliki keahlian memadai;
c.
mengirim press release tentang investasi
perusahaan sebagai informasi komunitas (lokal) dan dampknya terhadap sosial
ekonomi mereka;
d.
membuat website (situs
web) perusahaan membentuk citra positif di mata publiknya;
e.
berpartispasi dalam kelompok diskusi tertentu
dan membicarakan perkembangan dan situasi negara.
Keberhasilan program PR tergantung
pada siapa publiknya, bagaimana strategi yang digunakan, dapat tidaknya
mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam membina hubungan baik dan dialog yang
sehat agar perusahaan dan publiknya semakin dekat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar