TribunMP3 | Zona Artikel dan Download Musik™

Kumpulan Artikel juga Tutorial Simpel dan Mengutamakan Kualitas juga Menyediakan Musik Gratis Untuk Didengar secara cuma-cuma

Breaking

Senin, 14 Januari 2019

Perkembangan Public Relations Komunikasi Massa

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Perkembangan Public Relations
Pihak pertama yang mulai menerpakan teknik-teknik public relaton dalam pemerintahannya adalah negara Eropa dan Amerika. Di negara Eropa diawali tahun 1809 departemen keuangan inggris raya menunjuk juru bicara resmi. Tahun 1854 dinas pos Inggis raya melakukan penjelasan secara luas atas pelayanan yang dilakukan pada masyarakat umum.
Di Amerika Serikat dibentuk biro konsultan PR pertama oleh mantan wartawan yang bernama Ivy Ledbetter Lee, sejak itu PR merupakan studi yang diminati negara ketiga guna mengahadaapi kebutuhan untuk menyebarkan berbagai macam pengetahuan dan pemahaman kepada penduduknya baik sector swasta maupun pemerintah di dunia ketiga.
Sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia mulai menerapkan praktik PR yang di akui keberadaanya sejak terbentuknya Bakohumas tanggal 13 Maret 1971. Bakohumas ini menghimpun para pejabat dan staf PR di lingkungan departemen, lembaga pemerintah dan BUMN. perkembanganPR di Indonesia cukup pesat dengan adanya tiga faktor yang membelakangi yaitu :
·         Kemajuan teknologi
·         Pertumbuhan
·         Kebutuhan masyarakat akan informasi.
Dalam kurun waktu 100 tahun terkahir ini PR mengalami perkembangan yang sangat cepat. Namun perkmbangannya dalam setiap negara itu tak sama baik bentuk maupun kualitasnya. Proses perkembangan PR lebih banyak ditentukan oleh situasi masyarakat yang kompleks.
Dalam sejarahnya istilah Public Relations sebagai sebuah teknik dengan adanya aktivitas yang dilakukan oleh pelopor Ivy Ledbetter Lee yang tahun 1906berhasil menanggulangi kelumpuhan industri batu bara dia Amerika Serikat dengan sukses. Atas upaya ini dia diangkat menjadi The Father of Public Relations.
Perkembangan PR sebenarnya bisa dikaitkan dengan keberadan manusia. Unsur-unsur memberi informasi kepada masyarakat, mebujuk masyarakat, dan mengintegrasikan masyarakat, adalah landasan bagi masyarakat.
            Berikut gambaran kronologis PR di dunia:
  1. Abad ke-19                                                                                                                 PR di Amerika Serikat dan Eropa merupakan program studi yang mandiri didasarkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  2. 1865-1900
Publik masih dianggap bodoh.
  1. 1900-1918
Publik diberi informasi dan dilayani
  1. 1918-1925
Publik diberi pendidikan dan dihargai
  1. 1925
Di New York, PR sebagai pendidikan tinggi resmi
  1. 1928
Di Belanda memasuki pendidikan tinggi dan minimal di fakultas sebagai mata   kuliah wajib. Disamping itu banyak diadakan kursus-kursus yang bermutu
  1. 1968-1979
Publik dikembangkan diberbagai bidang, pendekatan tidak hanya satu aspek saja
  1. 1979-1990
Profesional/internasional memasuki globalisasi dalam perubahan mental dan kualitas
  1. 1990-sekarang
1.      Perubahan mental, kualitas, pola pikir, pola pandang, sikap dan pola prilaku secara nasional/internasional
2.      Membangun kerja sama secara lokal, nasional, imternasional
3.      Saling belajar di bidang politik, ekonomi, sosil budaya, iptek, sesuai engan kebutuhan era global/informasi.

B.     PUBLIC RELATIONS DAN MEDIA MASSA
Di era sekarang ini, media memiliki peran dalam menyampaikan berita fakta atupun sebagai penyebar informasi dari berbagai pihak yang berkepentingan. Disinilah peran media harus jelas dan berimbang, disatu sisi media berperan sebagai jembatan masyarakat untuk mendapatkan informasi yang benar, sebaliknya disisi lain media juga berperan menyebarkan suatu informasi tertentu untuk kepentingan pihak tertentu kepada masyarakat.
Pada jaman sekarang telah berkembang pesat berbagai macam jenis media massa. Mulai dari televisi, radio, surat kabar, dan lain sebagainya dapat dimanfaatkan sebagai media di era informasi media untuk saat sekarang. Sehingga media merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari.
Peran media yang sebagai pemenuhan kebutuhan masyarakat akan informasi yang benar adalah hal utama yang harus dilakukan media, dari sinilah asas orang-orang media yang independent, non-partisan, menjunjung kode etik jurnalis dijalankan. Lebih dari pada itu, seorang jurnalis atau wartawan harus memiliki berbagai pengetahuan yang merata di segala bidang, teritama dibidang dimana seorang wartawan ditempatkan.
Public Relations dalam suatu organisasi/perusahaan harus menjalin hubungan baik dengan pihak media. Hal ini penting, karena disatu sisi pihak media mendapatkan sumber berita yang berkualitas dengan penjelasan yang detail tanpa harus menganalisis berita, kemudian disisi lain pihak perusahaan mendapatkan kesempatan untuk mempublikasikan diri di media yang bersangkutan.
Untuk kedepannya kedua pihak harus terus bekerjasama, karena dengan itulah salah satu alternative dari kedua belah pihak dapat tercapai, yaitu publikasi yang didapatkan perusahaan, khususnya pihak Public Relations untuk menjelaskan secara detail tentang perusahaannya diberbagai media, sedangkan lingkungan media terus mendapatkan tantangan dengan semakin berkembangnya era informasi, sehingga liputan berkualitas yang dapat memberikan informasi kepada masyarakat dapat dipenuhi.
Public relations  (PR) dan mitranya media massa atau pers, tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya,keduanya saling membutuhkan membentuk sinergi yang positif. PR menjadi sumber berita bagi pes, sedang pers menjadi sarana publisitas bagi PR agar perusahaan dan para komunikator lebih dikenal oleh public  atau masyarakat.kedua belah pihak ,PR dan pers harus saling memiliki kepercayaan bahwasannya PR bukan “bulanan-bulanan ” pers,dan pers tidak boleh diperalat oleh PR, sehingga memuat pemberitahuan  yang mencerminkan kebohongan kepada public (Ardianto.2004:91).

Kegiatan yang paling banyak dilakukan Pr adalah berkaittan dengan media massa, dimana fungsi komunikasi praktik PR menjadi  bagia yang tidak terpisahkan . tidaklah berlebihan bila PR  dan media massa mempunyai  saling berketergantungan . tanpa adanya sumbangsih  PR, media massa cetak dan elektronik tidak dapat memperoleh atau mendekati suatu keakuratan berita,sebagaimana yang di inginkan.
Komunikasi PR, meskipun tidak dibatasi terhadap media massa, dapat dilakukan dengan pembuatan berita khusus, seperti dalam  booklet atau media yang terbit secara periodik ( house jurnal) ,motion picture ( gambar hidup ),slide,film, video dan persentasi audio visual lainnya yang diperuntukkan public khusus.
PR adalah sebuah paying besar yang menaungi banyak bidang keahlian, dan jelas lebih luas daripada sekadar penghubung antara  pers dank lien seperti yang biasa dilakukan sebelumnya. Publisitas  hanya bagian kecil dari PR, demikian juga dengan penggunaan berbagai jenis media  mulai dari Koran, film, atau majalah (rivers,et.al, 2003: 265). Bernays dan para pakar Pr lainnya menyebut PR sebagai suatu “program total” yang mengikuti banyak kegiatan yang lebih kompleks daripada publiksitas.
Selain memasuki berbagai materi yang layak diterbitkan atau disiarkan, pejabat PR perlu memahami media massa,seperti  bagaimana surat kabar dan majalah itu diterbitkan , bagaimnapula caranya memproduksi program-program  siara radio dan televise sebagian pengetahuan tentang media dapat dipelajari  dengan mengamatinya saja . untuk itu, adakanlah kunjungan  ke sejumlah penerbitan,stasiun radia siaran dan studio televise ( atau rumah produksi yang memaok program-programnya). Pejabat PR harus mengetahui segala sesuatunya tentang media selengkapmungkin . di inggris dulu sejumlah penerbitan yang memuat banyak informasi penting mengenai seluk-beluk dunia pers atau mediamassa.
Minsalnya benn’ media directory atau PR plammer, yang juga memiliki edisi-edisi khusus berbahasa lain untuk sejumlah Negara di erofa.
Menurut jefkins (1995) , hal-hal pokok pers  yang perlu di ketahui  oleh seseorang PR adalah:
1.      kebijakan redaksi
2.      frekuensi penerbitan
3.       tanggal terbit
4.      peruses pencetakan
5.      daerah sirkulasi
6.      jangkauan pembaca
7.      metose distribusi

lebih jauh jefkins menyebutkan prinsip-prinsip hubungan   pers  yang baik: Pertama , memahami dan melayani media. Seorang PR harus mampu menjalin kerjasama dengan pihak media. Ia harus menciptakansuatu hubungan timbal balik yang saling menguntungkan.
Kedua, membangun repotasi sebagai orang yang dapar di percaya. Para pejabat PR harus  senantiasa siap menyediakan waktu atau memasuk materi-materi yang akurat dimana saja dan kapan saja hal itu dibutuhkan. Hanya dengan carainilah ia akan  dinilai sebagai suatu sumber informasi  yang akurat dan dapat di percaya oleh pers.
Ketiga, menyediakan salinan nakah yang baik. Misalnya saja menyediakan reprduksi  foto-foto yang baik ,menarik, dan jelas. Dengan adanya teknologi input langsung melalui computer akan sangat mudah mengoreksi dan menyusun ulang  siaran berita  atau news release.
Keempat, bekerjasama dalam  penyediaan materi. Sebagai contoh , pejabat PR  dan wartawan dapat bekerja sama dalam mempersiapkan sebuah wawancara atau temu pers dengan tokoh-tpkoh tertentu.
Kelima, menyediakan fasilitas verifikasi. Para pejabar PR juga perlu member kesempatan kepada para wartawan untuk melakukan verifikasi (membuktikan kebenaran) atas setiap materi mereka  terima. Contoh konkretya, para wartawan itu diizinkan melihat fasilitas atau kondisi-kondisi organisasiyang hendak diberitakan.
Keenam, membangun hubungan personal yang kokoh. Suatu hubungan  personal yang kokoh dan positif hanya akan tercipta serta erpelihara apbiladilandasi oleh keterbukaan, kejujuran,kerjasama, dan sikap saling menghormati profesi masing-masing.
1.      Hubungan baik dengan pers dapat dibina dengan mengamati beerapa prinsip yang diajukan oleh pejabat PR  tidewateroil company, dalam moor. 1998 sebagai berikut:
2.      keterbukaan dan kejujuran harus  menjadi  asas utama,jangan berdalih
3.      selalu siap menerima pers.
4.      Jangan mencampurbaurkan siaran berita dengan menerima pers.
5.      Jangan melebih-lebihkan perusahaan atau mewarnai fakta.
6.      Selalu siapkan diri untuk dikutip dalam berita dan berhati-hatilah serta seksamalah dalam membuat  pernyataan .
7.      Hindari pernyataan off the record, tetapi kalau perlu,perjelaslah sebagai peryataan  “untuk tidak publikasi” ,jangan mendiskriminasi atau menganakemaskan salah satu media.
8.      Jangan mengeluh karena permasalahan kecil dalam percetakan.
9.      Jangan membingungkan wartawan, jik anda tidak dapat berbicara,katakana saja demikian.
10.  Jangan menyalahkan redaktur ,jika sebuah berita tidak dimuat.
11.  Jangan melangkahi wartawan dengan langsung mengadu kepada atasannya.
12.  Ketahui dulu minat seorang wartawan dan siapkan faktanya
13.  Bantulah dengan berita baik dan buruk maupun yng baik ( noore.1987:202-203).
Hubungan dengan media ( media relations), ungkap moore 1987, yang semula merupakan hubungan kerja yang sederhana antara pjabat PR dengan pers, telah menjadi semakin kompleks, karna meningkatnya jumlah media.
Media semakin terspesialisasi, dan persaingannya media semakin tajam. Kendati para penjabat PR makin propesional dalam melakukan publiksitas, media tetap bersikap kritis terhadap prusahaannya. Penelola media seperti redaktur menyadari bahwa PR merupakan sumber berita asli dan sumber informasi teknis, ynag dapat megembangkan kisah berita,gambar,artikel, dan bahan penunjang lainnya.
Menurut soemirat dan ardianto (2002), dalam upaya membina media relations maka pR melakukan beberapa kegiatan yang bersentuhan dengan media masaata pers antara lain
a.      Konverensi pers, temu pers atau jumpa pers yaitu informasi yang diberikan secara simultan atau berbarengan oleh seorang pejabat pemerintah atau swasta kepada kelompok wartawan, bahkan diseratusan wartawan sekaligus misalnya presiden,raja,menteri,gubenur,bupati,direktur, atau pengusaha ternama,tokoh olahraga, tokoh kebudayaan, bias saja memberikan konferensi pers ( Amar,dalam soemirat dan ardianto,2002). Ia menyebutkan syarat utama dari sebuah koferensi pers adalah sebuah berita yang disampaikan sangat penting. Sebuah konferensi pers akan kehilangan fungsinya bila berita yang disampaikan kurang penting, apalagi jika diliput juga oleh televise dan radio siaran . menurut oemi abdurachman,konfereansi pers di  selenggarakan bila ada peristiwa-pristiwa penting di suatu instansi /perusahaan/ badan,atas ini siatif sendiri atau permintaan  wakil-wakil pers.
b.      Press beating, yait pemberian informasi diselengarakan secara regular oleh seorang pejabat PR. Dalam kegiatan ini disampaikan informasi-informasi mengenai kegiatan yang baru terjadi kepada pers, juga diadakan tanggapan atau pertanyaan bila wartawan belum puas  dan menginginkan keterangan lebih perinci.
c.       Press tour, yaitu kegiatan yang diselenggarakan oleh suatu perusahaan atau lembaga untuk mengunjungi daerah tertentu dan merekapun (pers/media)  diajak menikmati objek wisata yang menarik,. Misalnya suatu departemen mengajak wartawan brwisata sambil meninjau proyek-proyek pembangunan seperti bendungan, pelabuhan,dan lainnya atau suatu perusahaan kayu  yang berkantor pusat di Jakarta mengajak pers berwisata sambil melihat pabrik kayu lapisnya di Kalimantan.
d.      Pres release (news release) atau siaran pers sebagai publisitas,yaitu media yang banya digunakan dalam kegiatan PR untuk menyebarkan berita.
e.       Special events, yaitu pristiwa khusus sebagai suatu kgiatan PR yang penting dan memuaskan banyak orang untuk ikut serta dalam suatu kesempatan,yang mampu meningkatkan pengetahuan dan memenuhi selera public, seperti peresmian gedung, peringatan ulang tahun perusahaan ,seminar,pameran, loka karya, open house, dan lainnya. Dalam kegiatan ini PR biasanya mengundang pers atau media untuk meliputnya.
f.       Press luncheon, yaitu pejabat PR mengadakan jamuan makan siang bagi para wakil media massa/wartawan/reporter,sehingga pada kesempatan ini piak persdapat bertemu dengan tp manajment perusahaan/lembaga guna mendengarkan perkembangan perusahaan atau lembaga tersebut.
g.      Wawancara pers, yaitu wawancara yang sifatnya lebih pribadi , lebih individu.PR atau top manajmet yng diwawanarai hanya berhadapan dengan wartawan atau  reporter yang bersangkutan. Mekipun pejabat itu diwawancarai seusai meresmikan suatu acara oleh banyak wartawan, bahkan di liput radio siaran dan televisi, tetap saja wawancara itu besifat individu.
Abdullah(2000) mengungkap sosok wartawan yang konon di mitoskan dengan label tertentu, yang sebetulnya jauh dari realitas sosok wartawan , sebagai berikut:
a.      “ wartawan bias di uandang kapan saja”. Hal ini merupakan mitos. Seringkali undangan konferensi pers suau perusahaan atau  lembaga tidak banyak dihadiri wartawan. Ketidak hadiran itu biasanya diebabkan wartawan menganggap undangan tersebut kurang memiliki nilai berita, loksi undangan terlalu jauh dan sukar di jangkau  kendaraan umum, waktunya terlalu malam, wartawan sudah lelah, dikejar deadline naskah berita yang lain, dan sebagainya.Lain halnya jika ada berita bersifat hars news , seperti kebaran super mall, tabrakan kereta apai, pesawat jatuh, rampokan, bencana alam dan tragedy lainnya. Wartawn akan mengejar prisiwa ini, kendati dia sudah tertidur lelap dirumahnya.
b.      “wartawan selalu memberitakan hal-hal yang negatif”. hal ini hanya mitos . wartawan tidak bole sembarangan membuat berita.sebuah berita harus di legkapi fakta yang akurat. Selain itu, eorang redaktur sebagai kepanjang tanganan pemimpin redaksi akan melihat pantas tidaknya sebuah berita di turunkan.
c.       “wrtawan selalu komersial” . Dengan semakin baiknya tingkat kesehatan manajment perusahaan surat kabar dan bermunculannya wartawan muda yang berpendidikan tinggi  praktik-pratik meminta imbalan (amplop) dari sumbe berita bukan jamannya lagi.
d.      “wartawan selalu urakan”. Wartawan masa kini yang berpendidikan tinggi dan mereka udah dibekali etika ketika meliput, sehingga ketika meliputpun mengenakan pakaian yang rapid an pantas.
e.       “wartawan manusia pintar” mitos yang melekat dalam masyarakat bahwa wartawan meruakan manusia yang memiliki intelegensia tinggi sehingga harus diwaspadai karena lewat wawancaranya yang tajam bias menjerumuskan sumber berita. Hal ini tidak sepenuhnya benar. Masih banyak wartawan yang bertanya tentang hal yang sederhana , yang mengesahkan ketidak pengertian wartawan tersebut atas informasi yang diterimanya,
f.       “wartawan yang membutuhkan berita”. Wartawanyang disuruh membayar ketika akan meliput seminar,akan meninggakan acara.kalaupun meliput, ia hanya akan meliput pembicara dalam seminar setelah acara tersebut selesai.ini merupakan kerugian bagi perusahaan, karena leluput dari publisitas media massa.
g.      “wartawam manusia kebal hokum”. Pada kenyataannya  Wartawan tidak kebal hokum.jika ia melanggar lalu lintas tetap di tangkap polisi.
h.      “wartawan sosok yang menakutkan”. Akibat mitos ini tidak sedikit oknum wartawan atau wartawan palsu yang bergentayangan mencari sumber berita yang ujung-ujungnya meminta uang.
i.        “wartawan bias menulis apa saja”. Dengan mengacu kepada  kaidah-kaidah junalistik wartawan tidak bias menulis berita sekehendak hatinya. Meskipun ia penulisnya ,belum tentu berita tersebut di setujui redaktur.
j.        “wartawan manusia sakti”. Wartawan mampu mengurus apa saja dan menembus rumitnya birokrasi. Karena itu muncul mitos bahwa jika ingin mengurus sesuatu sebaiknya menitipkan pada kenalan seseorang wartawan. Pada kenyataannya, seorang wartawa tetap saja engikuti prsedur resmi dalam mengurs sesuatu, misalnya perpanjangan sim dan stnk.

C.    BIDANG PRAKTIS PUBLIC RELATION
            Sejumlah aktivitas public relation (PR) dalam organisasi non profit antara lain (AGEE, et, 2001):
a.      Asosiasi, profesi dan perdagangan. Di Amerika terdapat sekitar 4000 organisasi nasional,40.000 asosiasi organisasi profesi tingkat negara bagian, baik lokal, regional,  termasuk kamar dagang dan industri (kadin), asosiasi hotel dan motel. Semua asosiasi itu memerlukan kegiatan pr.
b.      Organisasi sosial dan kesehatan, termasuk layanan sosial (palang merah Amerika), agensi-agensi sosial (asosiasi jantung Amerika), rumah sakit, organisasi keagamaan, agesi-agensi kesejahteraan sosial ( balai keselamatan, kantor-kantor pemerintah , organisasi budaya dan yayasan). Semua organisasi ini juga memerlukan sentuhan pr .
c.       Sekolah tinggi dan universitas. Ribuan praktisi pr berkerja di sekolah tinggi dan universitas untuk menulis, mengedit dan merancang publikasi, memproduksi siaran dan bahan-bahan audiovisual, dan sebagainya.  Sebagian lagi bekerja di kantor-kantor pengenbangan dan alumni, dengan meupayakan penggalangan dana.
d.      Sekolah menengah negeri dan swasta. Pr bekerja di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah. Hampri sama dengan pr pada tingkat sekolah tinggi, sekolah ini merekrut para praktisi pr dalam jumlah besar.
Keempat contoh aktivitas pr pada organisasi non provit diatas, memberikan gambaran bahwa pr tidak diperlukan di dunia bisnis saja, melainkan diperlukan dalam organisasi nirlaba. Kemampuan pr yang selama ini dterapkan, dibagi kedalam dua bidang yaitu generalis  dan spesialis. Seorang generalis jumlahnya terbatas, biasanya terdapat pada tingkat eksekutif atau menajerial. Mereka bertanggung jawab untuk menganalisis masalah, mengembangkan program-program, turut serta dalam pengambila keputusan tingkat manejemen, dan mengawasi pelaksanaan program.
Para spesialis jumlahnya banyak. Mereka ahli dalam berbagai teknik komunikasi dan terampil dalam bidang pr yang bersifat praktis. Para spesialis ini bekerja di bawah perintah para generalis. Para spesialis menulis news release dan naskah pidato, mempersipakan booklet, malayani permintaan pers, merancang spesial events (kegiatan-kegiatan khusus, menngemabangkan presentasi audio visual dan material yang berhubungan dengan pendidilkan, dan sebagaiya. Banyak karir pr sebagai generalis dimulai dari tingkat spesialis
Berbicara tentang publikasi, banyak sekali perusahaan dan kelompok nonprofit  yang menerbitkan masalah dan newsletter untuk pelanggan, kariawan, pemasar da kelompok manajemen tertentu. Media pr ini dibagi kedalam publikasi internal yang didistribusikan didalam perusahaan dan publikasi ekternal yang di distribusikan keluar perusahaan. Tetapi ada juga perusahaan yang membuat satu media yang diperuntukkan publikasi internal dan publikasi eksternal.



D.     PROFESIONALISME PUBLIC RELATIONS
            Sebanyak 15.000 anggota public relation society of Amerika (PRSA) memiliki sertifikasi profesionalisme pr, melalui sebuah program akreditasi ( AGEE, et Al . 2001 dan Willcox, et Al.2003). pengakuan akreditasi diberikan kepada seseorang yang paling sedikit memiliki pengalaman 5 tahun sebagai praktisi pr atau dosen pr di perguruan tinggi. Untuk memiliki sertifikasi sedikitnya ada dua sponsor dari anggota PRSA yang memberikan rekomendasi bahwa yang bersangkutan dinilai memiliki integritas dan kemampuan, juga harus mengikuti ujian tertulis dan lisan sebelum memperoleh sertifikasi.
            Program akreditasi PRSA, dikembangkan tahun 1965, sebagai tahap utama menerapkan profesionalisme di bidang pr. Untuk menjadi anggota asosiasi PRSA, tidak selalu harus mempunyai pengalaman bertahun-tahun di bidang pr. Keaggotaan terbuka bagi mahasiswa pr, dengan kualifikasi an anggota muda. Berbagai organisasi kemahasiswaan yang mengarah kepada profesionalisme pr memperoleh dukungan dari PRSA.  Sedikitnya 175 sekolah tinggi dan univerisitas yang mengelola program studi pr memiliki kerja sama yang erat dengan PRSA. Lebih dari 8000 anggota PRSA dari kalangan mahasiswa, dan 6000 diantaranya wanita.
            Selain PRSA terdapat pula internasional association of business communicators (IABC ) dan difisi pr association for Education In Journallism and Mass comunication, yang memberikan kontribusi untuk meningkatkan standarisasi kurikulum untuk studi pr tingkat sarjana strata satu dan tingkat master profesional.
            The internasional public relation association (IPRA) yang didirikan pada tahun 1955, menerima keanggotaan secara individu bagi provesional pr yang berorientasi secara internasional. Setiap tiga tahun sekali IPRA menyelenggarakan kogres pr sedunia, yang dihadiri lebih dari 600 praktisi dari Amerika, Eropa, Amerika Latin, Asia Timur, dan Asia Tenggara seperti Malaysia, Indonesia, Thailand, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam. Organiasai pr di indonesia disebut perhumas ( public relation association of Indonesia) yang didirikan sejak tahun 1972. Pada tahun 2004 ini telah berdiri pula PRSI (public relation societi of Indonesia).
            Bidang pr merupakan salah satu aspek manajemen yang diperulukan oleh setiap organisasi, baik itu organisasi yang bersifat komersial (perusahaan), maupun organisasi nonkomersial. Mulai dari yayasan, perguruan tinggi, dinas militer, sampai dengan lembaga-lembaga pemerintah, bahkan pesantren. Kehadirannya dibutuhkan karena pr merupakan salah ssatu elemen yang menetukan kelangsungan suatu organisasi secara positif. Arti penting pr sebagai sumber informasi terpercaya kian terasa pada era globalisasi dan banjir informasi seperti saat ini (Anggoro, 2000 ).
            Menurut Anggoro, pr mencakup semua bentuk komunikasi yang terselenggara antara organisasi yang bersangkutan dengan siapa saja yang berkepentingan dengan nya.  Setiap orang pada dasarnya juga selalu melakukan pr selama ia masih mejalin kontak manusia lainya.
            Bagi kalangan awam, pr terkesan sebagai sebuah “barang baru” mungkin baru muncul sejak berakhirnya perang dunia ke-II pada permulaan abad ke 20. Di negara yang lama merdeka dan mencapai status negara industri, pr sudah menjadi bagian dari kegiatan komunikasi massa. Namun demikian, dinegara maju pun masih ada anggapan yang keliru tentang sejarah pr. Pendapat umum yang ada bahwa pr tercipta di Amerika Serikat. Padahal pr sudah ada jauh sebelum benua Amerika itu di ketemukan oleh columbus, atau bahkan bangsa viking.
            Pratik pr yang paling hakiki sudah ada dinusantara sebelum kedatangan belanda. Sebagai contohnya usaha panembahan senopati, pendiri kerjaan mataran karna untuk menyebarkan gosip banwa ia dan keturunannya akan menjadi pasangan lindungan Nyai Roro Kidul. Pada dasarnya, menurut salah satu versi sejarah, usaha itu dimasudkan menyaingi pengaruh Adipati dipesisir pantai utara jawa yang kekuasaannya direstui oleh sunan(wali) yang sangat disegani.
            Namun secara kelembagaan atau institusional, profesi pr diakui dengan sendirinya sejak terbentuknya bako humas pada tanggal 13 Maret 1971. Dewasa ini, terutama sejak akhir dasawarsa 1980-An, perkembangan pr di indonesia begitu mencuat. Jika sdilihat sepintas lalu, tampaknya fungsi pr cendurung hampir sama dengan periklanan. Keduanya, merupakan fungsi yang berbeda dan saling melengkapi, dalam kegiatan pemasaran. Dalam tahap-tahap awal pengenalan produk atau jasa, fungsi pr lebih menonjol, sedangkan pada tahap-tahap akhir mejelang konsumen mengambil sikap atau keputusan tentang produk atau jasa tersebut, fungsi periklanan lebih berperan. Konsep baru yang memadukan marketing public relation (MPR) mengunakan berbagai sarana sebagai upaya memberikan informasi yang lebih rinci dan lengkap dalam rangka membangun citra perusahaan dan produk, ataupun menunjang dan melengkapi kegitaan periklanan
            Sejak diperkenalkan oleh Philip Kotler di Jakarta awal dasawarsa 1990-An, MPR kian marak diperbincangkan. Menurut penggagasnya, Thomas El. Haris, MPR berfungsi merancang pembelian dan kepuasan konsumen melalui komunikasi mengenai informasi yang dapat dipercaya dan melalui pembangkitan kesan-kesan. Sebagai kecenderungan baru pemasaran, MPR menarik banyak minat perusahaan di indonesiauntuk memperatikkanya.

Perusahaan farmasi,makanan,minuman yang telah merintis MPR antara lain Kalbe Farma,Indofood,McDonalds,dan cola cola.Belakangan ini MPR kembali mendapat perhatian setelah berbagai media massa elektronik dan industri menerapkannya.Statiun televisi swasta seperti RCTI,SCTV,Indosiar,Anteve,dan lainnya, mecoba menggaet pemirsa tidak saja lewat iklan di berbagai media cetak, tetapi juga menggelar publisitas dalam melaksanakan strategi MPR di tengah strategi strategi pemasaran lainnya.
Menurut putra 1999, salah satu tantangan besar yang kini dihadapai bidang public relations adalah bagaimana menjadikan praktisi pr semakin lebih profesional . menjadi lebih frofesional memerlukan banyak hal, antara lain; semakin dikuasainya keterampilan keterampilan teknis mendasar untuk pelaksanaan implementasi program pr yang sudah direncanakan ,dan semakin mandirinya praktisi pr dalam menjalankan pekerjaan mereka , baik dalam setting pengorganisasian maupun sebagai setting dalam konsultan pr.
Pr sebagai metode komunikasi sering disebut sebagai lembaga public relations as state og being .Pr sebagai lembaba umumnya hanya terdapat pada organisasi organisasi besar .kegiatan pr sebenarnya harus dilaksanakan oleh pemimpinnya sendiri. Akan tetapi oleh karena publik yang menjadi sasaran  kegiatannya terlalu banyak jumlahnya, baik yang didalam maupun diluar organisasi maka dibentukalah suatu bagian khusus Biro pr atau istilah-istilah lain sesuai dengan struktur organisasi bersangkutan. Jadi tekni-teknik komunikasi yang seharusnya dilakukan oleh pemimpin organisasi, kini dikembangkan oleh seorang yang ditugaskan, yang lazim disebut public Relations Officer (PRO).
Jadi tugas dan wewenang pimpinan organisasi ditujukan kepada PRO untuk melakukan komunikasi dengan public yang begitu banyak jumlahnya. Dalam hubungan itu PRO mengkonsepkan, merencanakan dan mengorganisasikan kegiatan untuk komunikasi secara metodoligis dan sistemmatis untuk dapat dijalankan secara efektif.  Karena kegiatan yang dilakukan oleh PRO itu luas, maka diperlukan model komunikasi secara khusus. Atas dasar kenyataan itu pula, maka PRO disebut metode komunikasi.
PR sebagai alat manajemen moderen secara struktur merupakan bagian integral dari suatu kelembagaan atau organisasi, artinya PR bukanlah fungsi terpisah dari fungsi kelembagaan atau organisasi tersebut. Jadi fungsi pr bersifat melekat pada manajemen perusahaan, yaitu bagaimana pr dpaat meyeelengarakan komunikasi dua arah antara organisasi atau kelembagaan yang diwakili dengan publicnya, artinya peranan ini turut menentukan sukses atau tidaknya  misi, fisi, dan tujuan bersama dari organisasi atau lembaga tersebut (Ruslan. 1988:22).
Ruslan mengungkapkan pula peranan umum pr dalam manajemen suatu badan atau organisasi itu terlihat dari adanya aktivitas berikut:
a.      Mengepaluasi sikap atau opini public.
b.      Mengidentifikasi kebijakan dan prosedur organisasi / perusahaan dengan kepentingan publicnya.
c.       Merencanakan dan melaksanakan penggiatan aktivitas pr.
Membahas manajemen pr, sama halnya dengan mempelajari kiat dan strategi dalam manajemen pemasran, menejemen personaliah, manajemen perusahaan, dan sebagainya. Dalam manajemen pr, terdapat dua pokok bahasan yang ahrus diperhatikan, yaitu manajemen dan PR. Keduanya slaing berkaitan dengan konsepsi dan aplikasi dilapangan praktik, atau pengiatan suatu proses pekerjaan dan fungsi manajemen organisasi/perusahaan .
Dikaitkan dengan pemahaman manajemen PR, fungsi manjemen dalam kegiatan komunikasi, merupakan faktor utama yang dapat menentukan kelancaran tugas PR, yang pada umumya melalui tahapan berikutnya:
a.      Perencanaan (planning)
b.      Perorganisasian (organizing)
c.       Mengomunikasikan (comunicating)
d.      Pengawasan (conntroling)
e.       Penilaian (evaluating)

Ruslan yang mengitir pendapat cutlip dan Center, dalam bukunya effetive  public relations mengungkapkan bahwa PR adalah fungsi manajemen yang menilai sikap publik, mengidentifikasikan kebijakan dan tata cara organisasi demi kepentingan publiknya, serta merencanakan suatu program kegiatan dan komunikasi untuk memperoleh pengertian dan dukungan publiknya.
Secara otomatis fungsi PR adalah termasuk fungsi manajemen dalam rangka mencapai tujuan sentral organisasi/lembaga/perusahaan. Peranan komunikasi timbal balik dua arah didalam aktivitas manajemen organisasi/lembaga masa kini atau perusahaan besar biasanya diarahkan atau dilaksanakan oleh pihak PR.
Pengggunaan internet oleh para professional merupakan cikal bakal dari perkembangan teknologi internet. Banyak ahli menyebutkan, pemakaian internet terutama pada masa krisis komunikasi, mengidentifikasi masalah, manajemen dan komunikasi interaktif. Penggunaan lainnya adalah pembuatan newsletter (terbitan berkala) elektronik, pengiriman pesan kepada khalayak sasaran, dan aplikasi internet dan web one to one dalam kegiatan marketing dan komunikasi (Holtz.1999:3).
Menurut Holtz, kebanyakan aktivitas Public Relations (PR) dalam internet masih terbatas pada penggunaan media satu arah, dari atas ke bawah untuk penerbitan informasi masih menggunakan formula komunikasi massa yang tradisional. Ditambah lagi banyak perusahaan yang belum mengadopsi internet sebagai media PR atau perusahaan. Saat ini banyak praktisi PR, sebut Holtz (1999), berbicara atas nama perusahaan telah mempertimbangkan penggunaan internet sebagai salah satu strategi komunikasi PR. Mereka tidak punya pilihan lain dan menjadikan Internet menjadi bagian dari budaya perusahaan. Melalui internet ini pula setiap individu bisa menjadi penerbit, konsumen atau melakukan kampanye untuk mempengaruhi perilaku konsumen. Khusus dalam bidang membuka perspektif baru.
Teknologi internet telah mengubah pola komunikasi PR sebelumnya yang masih konvensional seperti komunikasi dari atas ke bawah, bawah ke atas, horisontal, atau pola komunikasi massa yang dilakukan. Semua itu telah mereka tinggalkan dengan pola yang lebih actual setelah lahirnya internet.
Internet dan intranet ini membawa perspektif dan pola baru di era informasi dalam bentuk jaringan teknologi yang memungkinkan setiap orang mengakses kemana saja untuk memenuhi kebutuhannya. Bagi organisasi atau perusahaan yang mengadopsi internet akan mengalami perkembangan pesat di tengah-tengah masyarakat informasi yang semakin heterogen dan dapat meraup khalayak atau pasar sasaran yang lebih
besar jumlahnya.
Melalui internet pula annual report (laporan tahunan) yang dibuat divsisi PR perusahaan dapat memasukkannya ke dalam situs/web perusahaan atau perusahaan jasa PR di internet. Tidak perlu mengirimkannya seperti cara-cara konvensional melalui pengiriman via pos dan lainnya.
Internet, bagi PR, dapat melakukan penggunaan internet dan commercial online yang mampu menjangkau publik yang lebih luas. Kini, dunia PR memasuki masa keemasan, karena teknologi internet ini telah membawa praktisi mampu mencapai publik sasaran secara langsung, tanpa intervensi dari pihak-pihak lain, seperti
redaksi atau wartawan di media massa, yang biasanya bertindak sebagai penjaga gawang pesan komunikasi dan melakukan penyensoran terhadap pesan informasi PR bagi khalayak (publik).

Beberapa di antaranya yang bisa dilakukan praktisi PR melalui penggunaan internet adalah sebagai berikut:
a.       Pertama, PR harus menyadari bahwa khalayak/publik dapat mengakses semua Press Release atau News Release yang dikirimkan melalui internet atau server, dengan menggunakan katakata yang mudah dicari dan dipahami khalayak.
b.      Kedua, publik dapat mengakses press release dalam home page yang ada di World Wide Web (bila perusahaan itu telah memiliki home page).
c.       Ketiga, PR dapat membuat mailing list dari publiknya. Mailing list adalah perangkat elektronik yang dapat menyebarkan press release kepada publiknya melalui kotak e-mail.
Semua aktivitas PR di atas, yang melalui internet tersebut, memungkinkan PR menjalin hubungan baik untuk mempertahankan dukungan publik internal dan eksternalnya. Publik akan sangat tergantung kepada PR sebagai sumber informasi berita yang tidak tersaji di suratkabar dan media massa lain. Melalui iternet, PR dapat
menghemat biaya dibanding harus mengirim press
release melalui pos atau faks.
Kendati PR melakukan penggunaan internet, tidak berarti harus menyepelekan media lainnya. Media selain internet tetap menjadi bagian penting dalam melakukan penyebaran berita atau informasi PR.
Keuntungan PR dalam menggunakan internet:
(1) informasi cepat sampai pada publik;
(2) bagi PR, internet dapat berfungsi sebagai iklan, media,
      alat marketing, sarana penyebaran informasi, dan promosi;
(3) siapa pun dapat mengakses internet;
(4) tidak terbatas oleh ruang dan waktu;
(5) internet dapat membuka kesempatan melakukan
     hubungan komunikasi dalam bidang pemasaran
                             secara langsung.
Lebih jauh, Shel Holtz (1999), dalam buku Public Relations on the Net mengemukakan beberapa pendekatan strategi PR , yaitu di antaranya:
a.      pertemuan antar pihak manajemen (yang telah dibreafing oleh PR) dengan perwakilan dari kantor pajak;
b.       mengadakan open house untuk menginformasikan program-porgam perusahaan yang telah mempekerjakan karyawan local (komunitas terdekat) yang memiliki keahlian memadai;
c.        mengirim press release tentang investasi perusahaan sebagai informasi komunitas (lokal) dan dampknya terhadap sosial ekonomi mereka;
d.      membuat website (situs web) perusahaan membentuk citra positif di mata publiknya;
e.        berpartispasi dalam kelompok diskusi tertentu dan membicarakan perkembangan dan situasi negara.

Keberhasilan program PR tergantung pada siapa publiknya, bagaimana strategi yang digunakan, dapat tidaknya mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam membina hubungan baik dan dialog yang sehat agar perusahaan dan publiknya semakin dekat.



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar