TribunMP3 | Zona Artikel dan Download Musik™

Kumpulan Artikel juga Tutorial Simpel dan Mengutamakan Kualitas juga Menyediakan Musik Gratis Untuk Didengar secara cuma-cuma

Breaking

Senin, 14 Januari 2019

Media Massa dalam Komunikasi Organisasi


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Berbicara tentang media massa, hampir semua orang mengetahui apa itu media massa. Tanpa kita sadari, hampir setiap hari kita diterpa oleh informasi-informasi yang berasal dari media massa. Media massa merupakan salah satu bentuk kemajuan teknologi dalam bidang informasi dan komunikasi. Di mana pada saat ini kemajuan dari media massa itu sendiri sangat pesat.  Perkembangan teknologi pada masa ini sangatlah merubah pola hidup manusia. Perkembangan alat bantu yang sangat pesat, merubah seluruh kehidupan manusia sehingga manusia menjadi sangat bergantung kepada teknologi yang ada.
            Media massa pada awalnya dikenal dengan istilah pers yang berasal dari bahasa Belanda, yang dalam bahasa Inggris berarti press. Secara harfiah pers berarti cetak, dan secara maknawiah berarti penyiaran secara tercetak atau publikasi secara tercetak (print publications). Dalam perkembangannya pers mempunyai dua pengertian, yakni pers dalam pengertian sempit dan pers dalam pengertian luas. Pers dalam arti luas adalah meliputi segala penerbitan, termasuk media massa elektronika, radio siaran dan televisi siaran, sedangkan pers dalam arti sempit hanya terbatas pada media massa cetak, yakni surat kabar, majalah dan bulletin kantor berita (Onong, 2002:145). Media massa seiring berkembangnya zaman kini telah menyentuh ke seluruh lapisan yang ada di masyarakat semua menerima informasi dari media massa dengan berbagai bentuk yang ada, dengan kemudahan orang-orang mendapatkan informasi dari media massa, perkembangan terbaru dari luar bisa terus diketahui oleh masyarakat luas.
Lantas, bagaimana sebenarnya yang dikatakan media massa? Media massa adalah suatu alat dalam komunikasi massa, di mana media massa berfungsi untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas. Media massa dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu media massa cetak dan media massa elektronik. Yang termasuk kategori media cetak adalah surat kabar dan majalah, sedangkan yang termasuk media elektronik adalah televisi, radio, film dan internet. Media massa elektronik salah satu media yang memiliki kekhususan, hal itu terletak pada dukungan elektronik dan teknologi yang menjadi kekuatan dari media yang berdasar pada elektronik. Salah satu kelebihan media elektronik adalah sifatnya yang real time atau disiarkan secara langsung apabila ada peristiwa atau kejadian yang sedang terjadi. Menurut khalayak, media elektronik sifatnya lebih instan daripada media cetak, sehingga media elektronik lebih banyak dipilih oleh khalayak daripada media cetak.
Sifat media elektronik yang real time terkadang juga menjadi kendala bagi pendengar atau pemirsa karena berita yang tersaji belum tentu diketahui saat itu juga oleh pendengar atau pemirsa, karena saat ditayangkan mereka sedang tidak mengkonsumsi media tersebut. Kendala ini memberikan konsekuensi kepada televisi maupun radio untuk melakukan pengulangan informasi atau siaran. Walaupun televisi atau radio dapat melakukan pengulangan siaran, tetapi khalayak dapat memilih alternatif lain untuk mendapatkan informasi tersebut, misalnya melalui media cetak berupa surat kabar.
1.2 Rumusan Masalah
            Dari latar belakang di atas, maka dapat kita ambil beberapa rumusan masalah, yaitu:
a.       Apa itu surat kabar dan bagaimana sejarahnya?
b.      Apa itu majalah dan apa fungsinya?
c.       Apa itu radio siaran?
d.      Apa itu televisi dan bagaimana siaran televisi di Indonesia?
e.       Apa itu film?
f.       Bagaimana yang dimaksud dengan komputer dan internet?
1.3 Tujuan Penulisan
            Tujuan penulisan makalah ini secara umum adalah untuk menyelesaikan tugas matakuliah Komunikasi Organisasi, sedangkan tujuan khusus penulisan makalah ini adalah :
a.       Mengetahui tentang surat kabar dan sejarahnya.
b.      Mengetahui tentang majalah dan fungsinya.
c.       Mengetahui tentang radio.
d.      Mengetahui tentang televisi dan siaran televisi di Indonesia.
e.       Mengetahui tentang film.
f.       Menjelaskan tentang komputer dan internet.

















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Surat Kabar
Berbicara mengenai surat kabar, mungkin kata ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Bahkan masyarakat yang jarang sekalipun membaca surat kabar mengetahui apa itu surat kabar. Surat kabar adalah suatu media massa berupa tulisan yang berisi informasi-informasi mengenai fenomena yang terjadi di masyarakat. Biasanya didalam surat kabar berisi informasi atau berita terbaru yang sedang terjadi.
[1]Menurut Agee (et.al) pula, secara kontemporer surat kabar memiliki tiga fungsi utama dan fungsi sekunder. Fungsi utama media adalah : (1) to inform (menginformasikan kepada pembaca secara objektif tentang apa yang terjadi dalam suatu komunitas, negara, dan dunia). Nah, seperti yang sudah di jelaskan di atas bahwa media massa berupa surat kabar berfungsi untuk menginformasikan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dengan demikian, orang yang sebelumnya tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dalam suatu komunitas, negara, dan dunia, dengan adanya surat kabar ini menjadi tahu fenomena apa yang sedang terjadi, sehingga masyarakat pun tidak ketinggalan informasi yang ada. (2) to comment ( mengomentari berita yang disampaikan dan mengembangkannya kedalam fokus berita ); (3) to provide ( menyediakan keperluan informasi bagi pembaca yang membutuhkan barang dan jasa melalui pemasangan iklan di media. Nah, media juga berfungsi untuk selalu menyediakan informasi terupdate yang dibutuhkan masyarakat, dimana infromasi tersebut dimuat didalam sebuah iklan. Sedangkan fungsi sekunder media, adalah: (1) untuk kampanye proyek-proyek yang bersifat kemasyarakatan, yang sangat diperlukan untuk membantu kondisi-kondisi tertent; (2) Memberikan hiburan kepada pembaca dengan sajian cerita komik, kartun, dan cerita-cerita khusus; (3) Melayani pembaca sebagai konselor yang ramah, menjadi agen informasi dan memperjuangkan hak.
2.1.1 Sejarah Singkat Surat Kabar
            Kita sama-sama mengetahui bahwa surat kabar adalah media massa yang sangat populer di dunia. Hal ini menjadikan surat kabar menjadi salah satu media massa yang paling tua dibandingakn dengan media lainnya yang ada saat ini. Mengapa surat kabar menjadi yang paling tua?  Ini karena surat kabar sudah ada sejak ditemukannya mesin cetak oleh johann guternberg di Jerman. [2]Berikut merupakan sejarah singakat surat kabar dari beberapa negara.
a.       Di Jerman
Prototipe pertama surat kabar diterbitkan di Breman Jerman pada tahun 1609. Pada tahun yang sama, surat kabar yang sangat sederhana terbit di Strasborg. Bentuk surat kabar sesungguhnya terbit pada tahun 1620 di Frankfurt, Berlin, Humberg, Vienna, Amsterdam, dan Antwerp ( Hiebert, Ungurait, Bohn. 1975 : 206).
b.      Di Inggris
Di inggris surat kabar yang pertama yang masih sederhana terbit pada tahun 1621. Sedangkan yang dianggap sebagai benar-benar surat kabar yang terbit secara teratur ialah Oxford Gazette yang terbit di Oxford tahun 1665. Beberapa bulan kemudian ketika pemerintahan pindah ke London, surat kabar tersebut berubah namanya menjadi London Gazette. Surat kabar yang pertama terbit adalah Daily Courant.
c.       Di Amerika
Surat kabar harian yang pertama di Amerika Serikat adalah Pennsylvania Evening Post dan Daily Advertiser yang terbit pada tahun 1783.sampai tahun 1830-an, surat kabar relatif mahal harganya dan hanya dibaca oleh golongan elit, serta para politikus.
d.      Di Indonesia
Keberadaan surat kabar di Indonesia ditandai dengan perjalanan panjang melalui lima periode yakni masa penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, menjelang kemerdekaan dan awal kemerdekaan, serta zaman orde lama dan orde baru.
2.1.2 Fungsi Surat Kabar
            Hampir semua orang sudah mengetahui apa fungsi surat kabar. Seperti yang sudah di jelaskan pada bagian sebelumnya surat kabar berfungsi untuk menyebarkan infromasi dalam bentuk tulisan kepada masyarakat. Surat kabar sebagai media massa dalam masa orde baru mempunyai misi menyebarkan pesan-pesan pembangunan dan sebagai alat mencerdaskan rakyat Indonesia.
            [3]Dari empat fungsi media massa ( informasi, edukasi, hiburan, dan persuasif), fungsi yang paling menonjol pada surat kabar adalah informasi. Mengapa informasi? Karena sesuai dengan tujuan utama khalayak membaca surat kabar, yaitu keingintahuan akan setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Hal ini tidak dapat dipungkiri, karena hampir setiap hari masyarakat membutuhkan informasi terbaru. Bisa kita lihat dari sekeliling kita bahwa ketika masyarakat menerima koran terbaru maka hal yang paling utama dicari adalah informasi atau berita terbaru. Karenanya,  Sebagian besar rubrik surat kabar terdiri dari berbagai jenis berita. Namun demikian,fungsi hiburan surat kabar pun tidak terabaikan karena rubrik artikel ringan, feature (laporan perjalanan, laporan tentang profil seseorang yang unik), rubrik cerita bergambar atau komik, serta cerita bersambung. Begitu pula fungsinya mendidik dan memengaruhi akan ditemukan pada artikel ilmiah, tajuk rencana atau editorial dan rubrik opini.
2.1.3 Karakteristik Surat Kabar
            Untuk dapat memanfaatkan media massa secara maksimal demi tercapainya tujuan komunikasi, maka seorang komunikator harus memahami kelebihan dan kekurangan media tersebut, dengan kata lain, komunikator harus mengetahui secara tepat karakteristik media massa yang akan digunakannya. Berikut merupakan karakteristik surat kabar :
a.       Publisitas atau publicity
Pulisitas adalah penyebaran pada publik atau khalayak (effendy, 1981:98). Publisitas yaitu kegiatan menempatkan berita mengenai seseorang, organisasi atau perusahaan di media massa. Dengan kata lain , publisitas adalah upaya orang atau organisasi agar kegiatanya diberitakan media massa.
Salah satu karakteristik komunikasi massa adalah pesan dapat diterima oleh sebanyak-banyaknya khalayak yang tersebar di berbagai tempat, karena pesan tersebut penting untuk diketahui umum, atau menarik bagi khalayak pada umumnya. Dengan demikian, semua aktivitas manusia yang menyangkut kepentingan umum dan atau menarik untuk umum adalah layak untuk disebarluaskan. Pesan-pesan melalui surat kabar harus memenuhi kriteria tersebut.
b.      Periodesitas
Periodesitas adalah keteraturan terbitnya suatu berita, baik harian, mingguan, atau bahkan dwi mingguan. Pers yang terbit setiap hari pun harus tetap konsisten dengan pilihannya, apakah terbit setiap hari atau pada sore hari. Sekali pagi hari seterusnya harus pagi hari. Begitu juga sebaliknya, sekali sore hari, seterusnya harus sore hari. Kecuali kalau ada perubahan haluan yang di putuskan melalui rapat paripurna manajemen. pers yang tidak terbit secara periodik, biasanya sedang menghadapi masalah manajemen, seperti konflik internal, Krisis finansial, atau kehabisan modal.
Sikap periodesitas sangat penting dimiliki media massa khususnya surat kabar. Kebutuhan manusia akan informasi sama halnya dengan kebutuhan manusia akan makan dan minum. Setiap hari manusia membutuhkan informasi. Bagi penerbit surat kabar selama ada dana yang menckupi, maka tidaklah sulit untuk menerbitakan surat kabar secara periodik.
c.       Universalitas
Universalitas menunjuk pada kesemestaan isinya, yang beraneka ragam dan berasal dari seluruh penjuru dunia. surat kabar tidak hanya memberitakan sebuah negara saja tetapi juga harus secara global/secara menyeluruh. Dengan demikian atau isi surat kabar meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, seperti masalah sosial, ekonomi, budaya, agama, pendidikan, keamanan dan lain-lain. Selain itu, lingkup kegiatannya bersifat lokal, regional, nasioanal bahkan internasional. Jadi, apabila ada penerbitan (sekalipun bentuknya seperti surat kabar) yang hanya memuat atau berisi salah satu aspek saja, maka penerbitan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai surat kabar.
d.      Aktualitas
Aktualitas, berarti informasi apa pun yang di suguhkan media massa harus mengandung unsur kebaruan, menunjukan kepada peristiwa yang benar - benar baru terjadi atau yang sedang terjadi. Aktualitas menurut kata asalnya, berarti “kini” dan “keadaan” sebenarnya (Effendy, 1981:99). Kedua istilah tersebut erat kaitannya dengan berita, karena defenisi berita adalah laporan tercepat mengenai fakta-fakta atau opini yang penting atau menarik minat, atau kedua-duanya bagi sejumlah besar orang (Charnley, 1965:34).
e.       Terdokumentasikan
Dari berbagai fakta yang disajikan surat kabar dalam bentuk berita atau artikel, dapat dipastikan ada beberapa diantaranya yang oleh pihak-pihak tertentu dianggap penting untuk diarsipkan atau dibuat kliping. Kliping berita oleh sebuah instansi biasanya dilakukan oleh staf public relations untuk dipelajari dalam rangka memntukan kebijakan selanjutnya, karena berita tersebut dianggap sebagai masukan dari masyarakat (publik eksternal).
2.1.4 Kategorisasi Surat Kabar
Surat kabar dapat dikelompokkan pada berbagai kategori. Dilihat dari ruang lingkupnya, maka kategorisasinya adalah surat kabar lokal, regional dan nasional. Surat kabar lokal adalah surat kabar dimana isinya memberitakan kejadian yang ada di daerah itu sendiri. Surat kabar regional hampir sama dengan lokal tetapi  lebih jauh lagi jangkauannya mencakup provinsi.  Dan surat kabar nasional isi beritanya mencakup keseluruhan yang ada disuatu negara. Ditinjau dari bentuknya, ada bentuk surat kabar biasa dan tabloid. Sedangkan dilihat dari bahasa yang digunakan, ada surat kabar yang berbahasa Indonesia, berbahasa Inggris dan juga bahasa daerah.
Surat kabar nasional, diantaranya Kompas, koran tempo, suara pembaruan, Media Indonesia,Bisnis Indonesia,  Republika, Suara Karya, Harian Nasional,  dan lain-lain. Surat kabar regional, diantaranya  Pikiran rakyat (Jawa Barat), Jawa Pos dan Surabaya Pos( Jawa Timur), Serambi Indonesia(Aceh), Suara Merdeka (Jawa Tengah), Waspada (Sumatera Utara), Bali Pos (Bali), Banjarmasin Pos, dan lain-lain. Dan surat kabar lokal, diantaranya Tribun Jabar (Bandung-Jabar), Pos Kota (Jakarta), Kedaulatan Rakyat (Jogjakarta). Surat kabar bentuk tabloid, adalah Bintang, Citra, Nova, Wanita Indonesia, Bola, Go (Gema Olahraga). Surat kabar berbahsa Inggris, diantaranya The Jakarta Post, Bangkok pos, The New York Time, National pos, Daily News, dan lain sebagainya.
2.2 Majalah
[4]Edisi pertama majalah yang diluncurkan di Amerika pada pertengahan 1930-an memperoleh kesuksesan besar. Majalah telah membuat segmentasi pasar tersendiri dan membuat fenomena baru dalam dunia media massa cetak di Amerika. Munculnya nama-nama majalah seperti Scientific American, psychology Today dan Playboy secara aktif membentuk segmen pembaca baru (Dominick 2000:209).
[5]Menurut Dominick pula, klasifikasi majalah dibagi ke dalam lima kategori utama, yakni: (1) General costumer magazine (majalah konsumen umum), (2) business publication (majalah bisnis) ,(3) literacy reviews and academic(kritik sastra dan majalah ilmiah),(4) journal newsletter(majalah khusus terbitan berkala), (5) public relation magazines(majalah humas).
General costumer magazine. Konsumen majalah ini siapa saja, mereka dapat membeli majalah tersebut di sudut-sudut outlet, mall, supermall atau toko buku lokal. Majalah konsumen umum ini menyajikan informasi tentang produk dan jasa yang diiklankan pada halaman-halaman tertentu. Beberapa majalah konsumen yang populer di Amerika adalah people’s Time, Reader’s Digest, News Week, Sport Ilustrated dan Playboy.
Business Publication. Majalah-majalah bisnis (disebut juga trade publication) melayani secara khusus informasi bisnis, industri atau profesi. Media ini tidak dijual mall atau supermaal, pembacanya terbatas pada kaum profesional atau pelaku bisnis. Produk-produk yang diiklankan umumnya hanya dibeli oleh organisasi bisnis atau kaum profesional. Berdasarkan data lembaga riset business publication rate and data (SRDS) terdapat sekitar 4000 nama majalah bisnis di negri Paman Sam. Majalah ini paling banyak diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan penerbitan independen yang tidak berkaitan dengan perusahaan produk atau jasa, misalnya McGraw Hill dan Harcourt Brace Jovanovich. Keduanya adalah perusahaan penerbitan swasta yang menerbitkan majalah bisnis dengan sirkulasi yang luas. Publikasi ini dikelola oleh organisasi-organisasi profesional dibidang penerbitan.
Literacy reviws and academic journal. Terdapat ribuan nama majalah kritik sastra dan majalah ilmiah, yang pada umumnya memiliki sirkulasi dibawah 10 ribu, dan banyak diterbitkan oleh organisasi-organisasi nonprofit, universitas, yayasan atau organisasi profesional. Mereka menerbitkan empat edisi atau kurang dari itu setiap tahunnya, dan kebanyakan tidak menerima iklan. Nama penerbitan berbau ilmiah ini anatara lain: Reviws, Thearte Disign And Technology, European Urology, Journalism Quarterly, Poultry And Egg Marketing, Dan The Journal Of Japaness Botany.
Newsletter. Media ini dipublikasikan dengan bentuk khusus, 4-8 halaman dengan perwajahan khusus pula. Media ini didistribusikan secara gratis atau dijual secara berlangganan. Belakangan penerbitan.
Newsletter telah menjadi lahan bisnis besar. Misalnya newsletter on newsletter, penerbit khusu yang menyunting newsletter. Sejumlah newsletter yang sudah cukup kondang adalah The Kip linger Newsletter, the granville market newsletter, the gallgher report dan media yndustry newsletter yang meliput peristiwa-peristiwa dalam industri media massa cetak dan siaran, juga communication booknotes, yang meresensi buku-buku terbaru tentang media massa.
[6]Public relation magazine. Majalah PR ini diterbitkan oleh perusahaan, dan dirancang untuk sirkulasi pada karyawan perusahaan, agen, pelanggan dan pemegang saham. Jenis publikasi penerbitan ini berbeda sedikit dengan periklanan, kendati menjadi bagian dari promosi organisasi atau perusahaan yang mensponsori penerbitan. Di Amerika Serikat ribuan publikasi PR di terbitkan, dan telah dikembangkan dalam organisasi profesional yang mereka miliki, yakni international of bisnis communikators.
2.2.1 Sejarah Singkat Majalah
            Keberadaan majalah sebgai media massa terjadi tidak lama setelah surat kabar. Sebagaimana surat kabar, sejarah majalah di awali dari negara-negara eropa dan amerika.
a.       Di Inggris
Majalah di Inggris (London) adalah riview yang diterbitkan oleh Daniel Depoe pada tahun 1704. Bentuknya adalah anatara majalah dan surat kabar, ukuran halaman kecil, serta terbit tiga kali satu minggu. Defoe bertindak sebgai pemilik, penerbit, editor sekaligus sebgai penulisnya. Tulisannya mencakup berita, artikel, kebijakan nasional, aspek moral dan lain-lain. Tahun 1790, richard steele membuat majalah the tatler, kemudian bersama-sama dengan Joseph Addison ia menerbitkan the speaktator. Majalah tersebut berisi masalah politik, berita internasional, tulisan yang mengandung unsur-unsur moral, berita-berit hiburan(teater), dan gosip(hiebert, ungurait, bohn, 1975:221).
b.      Di Amerika
            Benjamin Franklin telah memelopori penerbitan majalah di Amerika tahun 1740, yakni general magazine dan historikak kronikel. Tahun 1820-an sampai 1840-an merupakan zamannya. Majalah (the age of magazines). Majalah yang paling populer saat itu adalah Saturday evening post yang terbit tahun 1821, dan north American Riview.
Pada pertengahan abad 20 tidak ada majalah yang sesukses reader’s digest yang diterbitkan oleh suami istri dewitt wallace dan lila (keduanya anak pendeta), pada tahun 1922, ketika mereka masih berusis 20 tahun. Pada tahun 1973 reader’s digest dapat mencapai pelanggan sebanyak 18 juta untuk pembaca di amerika saja, dan pembaca lainnya di dunia. Keberhasilan reader digest telah mendorong anak pendeta lainnya, yakni henry luce, lulusan yale university, untuk menerbitkan majalah time bersama-sama dengan briton hadden. Selanjutnya luce menerbitkan majalah life, fortune dan sport ilustrated. Life merupkan majalah berita yang banyak menggunakan foto. Meskipun merupakan majalah foto, foto-foto tersebut berfungsi sebagai alat informasi, menghibur dan memengaruhi. Majalah lainnya yang sukses adalah Playboy yang diterbitkan hugh hefner tahun 1953. Playboy adalah majalah khusus untuk pria yag pada tahun 1970-an, dan sirkulasinya mencapai 6 juta eksemplar.
c.       Di Indonesia
            Sejarah keberadaan majalah sebagai media massa di Indonesia di mulai menjelang dan pada awal kemerdekaan Indonesia. Di jakarta pada tahun 1945 terbit majalah bulanan dengan nama pant tjhaa raja pimpinan Markoen Djojo Hado Soeparto(MD) dengan Prakata Dari Ki Hadjar Dewantoro selaku mentri pendidikan pertama RI. Di Ternate, pada bulan oktober 1945 Arnold Monoutu dan Dr. Hasan Missouri menerbitkan majalah mingguan menera merdeka yang memeuat berita-berita yag di siarkan RRI. Menara merdeka berani dan tegas mengemukakan kaum republikan setempat ditengah keganasan serdadu belanda, juga menyerukan persatuan bangsa indonesia. Menara merdeka bertahan sampai tahun 1950. Majalah-majalah lain yang terbit setelah kemerdeaan, antara lain: pahlawan(aceh), makalah sastra arena(yokyakarta) yang di pimpin oleh H.Usmar Ismail, majalah sastrawan(malang) yang diterbitkan oleh inu kertaparti, dan majalah seniman(solo), pimpinan trisno soemardjo, dan penerbitnya seniman indonesia muda. Siauw giok tjan menerbitkan majalah bulanan liberty. Di kediri terbit majalah bebahasa Jawa Djojobojo, pimpinan Tadjib Ernadi. Para anggota Ikatan Pelajar Indonesia di Blitar yang menerbitkan majalah berbahasa Jawa, Obor (suluh) yang ditujukan untuk memberi penerangan bagi rakyat yang berada di pelosok-pelosok, yang pada umumnya belum bisa berbahasa Indonesia. Pelajar-pelajar di Kediri menerbitkan majalah tengah bulanan pelajar merdeka. Majalah untuk kaum wanita dengan nama wanita terbit di Solo di bawah pimpinan Sutiah Surjohadi.[7] Sedangkan majalah Soeara Perkis dan Bulan Sabit diterbitkan oleh Gerakan Pemuda Islam Indonesia cabang Solo (Soebagijo, 1977:54-85).
2.2.2 Kategorisasi Majalah
[8]Tipe suatu majalah ditentukan oleh sasaran khalayak yang dituju. Artinya, sejak awal redaksi sudah menentukan siapa yang akan menjadi pembacanya, apakah anak-anak, remaja, wanita dewasa, pria dewasa atau untuk pembaca umum dari remaja sampai dewasa. Bisa juga sasaran pembacanya kalangan profesi tertentu, seperti pelaku bisnis, atau pembaca dengan hobi tertentu, seperti bertani, berternak dan memasak.
Majalah-majalah yang terbit semasa orde baru dapat dikategorikan sebgai berikut:
a.       Majalah berita                               :Tempo, Gatra, Sinar, Tiras.
b.      Majalah keluarga                           :Ayahbundo, Parenting, Good House                                                                   Keeping
c.       Majalah wanita                              :Femina, Kartini, Cosmopolitan,                                                                            Herworld, Female, Cita Cinta.
d.      Majalah pria                                  :Matra, FHM, Playboy, Maxim,                                                                             Populer.
e.       Majalah remaja wanita                  :Gadis, Cosmogirl, Seventeen.
f.       Majalah remaja pria                       : Hai
g.      Majalah anak-anak                        :Bobo, Ganesha, Girl, Fantasi.
h.      Majalah ilmiah populer                  :Prisma, National Geographic.
i.        Majalah umum                              :Intisari, Warnasari, Reader’s Digest.
j.        Majalah hukum                             :Forum Keadilan.
k.      Majalah pertanian                          :Trubus.
l.        Majalah humor                              :Humor.
m.    Majalah olah raga                          :Bolavaganza, 442, Golf Digest.
n.      Majalah agama                              :Amanah Ummat.
o.      Majalah berbahasa daerah             :Mangle(Sunda,Bandung), Djaka                                                                          ladang (Jawa,  Yokyakarta),
p.      Majalah hobi                                 :Fotoplus, Snap (majalah fotografi),                                                                       Mobilmotor, Motoplus (majalah                                                                                 otomotif), Cinemagz, Movie                                                                                             Monthly (majalah film).
q.      Majalah musik                               :Trax, Rolling Stones, Ripple.
r.        Majalah profesi                             :Majalah-Majalah yang diterbitkan                                                                         oleh asosiasi profesi  yang isinya                                                                                spesifik mengenai profesi tersebut.

2.2.3 Fungsi majalah
            [9]Mengacu pada sasaran khalayaknya yang spesifik, maka fungsi utama media berbeda satu dengan yang lainnya. Majalah berita seperti Gatra mungkin lebih berfungsi sebagai media informasi tentang berbagai peristiwa dalam dan luar negeri, dan fungsi berikutnya adalah hiburan. Majalah wanita dewasa Femina, meskipun isinya relatif menyangkut berbagai informasi dan tips masalah kewanitaan, lebih bersifat menghibur. Fungsi informasi dan mendidik mungkin menjadi prioritas berikutnya. Majalah pertanian Trubus fungsi utamanya adalah memberi pendidikan mengenai cara bercocok tanam, sedangkan fungsi berikutnya mungkin informasi.
2.2.4 Karakteristik Majalah
            Majalah merupakan media yang paling simpel organisasinya, relatif lebih mudah mengelolanya, serta tidak membutuhkan modal yang banyak. Majalah juga dapat diterbitkan oleh setiap kelompok masyarakat, dimana mereka dapat dengan leluasa dan luwes menentukan bentuk, jenis dan sasaran khalayaknya. Meskipun sama-sama sebagai media cetak, majalah tetap dapat dibedakan dengan surat kabar karena majalah memiliki karakteristik tersendiri, yaitu:
a.       Penyajian lebih dalam
Frekuensi terbit majalah pada umumnya adalah mingguan. Selebihnya dwi mingguan, bahkan bulanan (1x sebulan). Majalah berita biasa terbit mingguan, sehingga para reporternya punya waktu yang cukup lama untuk memahami dan mempelajari suatu peristiwa. Mereka juga mempunyai waktu yang leluasa untuk melakukan analisis terhadap peristiwa tersebut, sehingga penyjian berita dan informasinya dapat dibahas secara lebih dalam. Analisis beritanya dapat dipercaya dan didasarkan pada buku referensi yang relavan dengan peristiwa. Sebagai contoh, berita kekerasan, korupsi, dan lain sebagainya, sudah kita baca di surat kabar, kita dengar di radio siaran, kita tonton ditelevisi, tetap dapat kita baca di majalah di sajikan lebih lengkap, karena dibubuhi latar belakang peristiwa. Unsur why dikemukakan secara lengkap. Peristiwanya atau proses terjadinya peristiwa 9unsur how) dikemukakan secra kronologis.
b.      Nilai aktualitas lebih lama
Apabila nilai aktualitas surat kabar hanya berumur satu hari, maka nilai aktualitas majalah bisa satu minggu. Sebagai contoh, kita akan mnganggap usang surat kabar kemarin atau dua hari yang lalau bila kita baca saat ini. Akan tetapi kita tidak pernah menganggap usang majalah yang terbit dua atau tiga hari yang lalu. Sebagaimana kita alami bersaama, bahwa dalam majalah tidak pernah dituntas sekaligus. Pada hari pertama mungkin kita hanya membaca topik yang kita senangi atau topik yang relavan dengan profesi kita, hari esok dan seterunya kta membaca topik lain sebagai referensi. Dengan demikian, amajalah mingguan baru tuntas kita baca dalam tempo tiga atau empat hari.
c.       Gambar atau foto lebih banyak
Jumlah halaman majalah lebih banyak, sehingga selain penyajian beritanya yang mendalam, majlah juga dapat menampilkan gambar/foto yang lengkap, dengan ukuran besar dan kadang-kadang berwarna, serta kualitas kertas yang digunakannya pun lebih baik. Foto-foto yang ditampilkan majalah memiliki daya tarik tersendiri, apalagi apabila foto tersebut sifatnya eksklusif.
Kematian tragis Putri Diana (Lady Di) yang diulas dalam majalah dilengkapi dengan foto-foto sang putri dari sejak balita sampai dewasa, sejak menjadi guru taman kanak-kanak sampai ketika dilamar pangeran Charles, dan foto prosesi perkawinan mereka yang anggun dan mewah yang telah menerik perhatian masyarakat dunia. Begitu juga foto-foto kenangan bersama kekasihnya Dodi Al Fayed. Yang paling mengharukan adalah foto prosesi pemakamannya. Majalah mode dan majalah hiburan, dalam setiap edisi menmpilkan foto para selebritas (orang-orang terkenal), yang dapat dikoleksi oleh pembacanya karena kualitas kertasnya yang sangat baik. Daya tarik foto sangat besar bagi pembacanya, karena itu promosi majalah edisi terbaru seringkali menonjolkan foto.
d.      Kover sebagai daya tarik
Disamping foto, kover atau sampul majalah juga merupakan daya tarik tersendiri. Kover adalah ibarat pakaian dan aksesorisnya pada manusia. Kover majalah biasanya mengguanakan kertas yang bagus dengan gambar dan warna yang menarik. Menarik tidaknya kover suatu majalah sangat bergantung pada tipe majalahnya, serta konsistensi atau keajegan majalah tersebut dalam menampilkan ciri khasnya. Misalnya, kover majalah berita mingguan Gatra yang memiliki ciki khas sisi sekeliling kover berwarna merah, menampilkan foto atau lukisan orang yang menjadi fokus pemberitaan. Dalam hal ini kover mencerminkan isi dari rubrik “laporan utama” majalah Gatra, dan dapat dipastikan bahwa laporan utama itu diangkat dari peristiwa (berita) yang paling hangat dan menarik. Dengan demikian secara sekilas pembaca akan mengetahui berita utama majalah Gatra. Kover majalah wanita pada umumnya lebih mengutamakan nilai artistik dan keindahan serta kecantikan wajah atau tubuh model bukan pelaku suatu peristiwa, melaikan sebagai model untuk mempopulerkan tata rambut, pakaian, aksesoris masa kini atau waktu-waktu tertentu, seperti natal dan tahun baru, juga idul fitri. Sedangkan informasi materi lainnya dikemukakan secara tidak mencolok pada lahan kosong dalam kover tersebut. Kover majalah Trubus dapat berupa buah-buahan yang segar, mulus dan menarik yang memenuhi hampir seluruh permukaan kover. Dari berbagai contoh tersebut, pada intinya dapat dikemukakan bahwa kover merupakan salah satu faktor daya tarik suatu majalah yang menujukkan ciri suatu majalah, sehingga secara sepintas pembaca dapat mengidentifikasi majalah tersebut.
2.3 Radio Siaran
            Selama hampir satu abad lebih keberadaannya, radio siaran telah berhasil mengatasi persaingan keras dengan bioskop, rekaman kaset, televisi kabel, electronic games, dan personal caset players. Radio telah beradaptasi dengan perubahan dunia dengan mengembangkan hubungan saling menguntungkan dan melengkapi dengan media laninnya (Dominick. 2000: 242).[10]
            Keunggulan radio siaran adalah berada dimana saja, contoh ditempat tidur (ketika orang akan tidur atau bangun tidur), di dapur, di jalanan, di dalam mobil, di kantor, di pantai, dll. Radio memiliko kemampuan menjual bagi pengiklan yang produknya dirancang khusus untuk khalayak tertentu.
            Dalam membicarakan radio siaran, kita perlu mengetahui sekilas sejarah radio siaran ditemtat lahirnya, yakni Amerika Serikat dan Inggris. Radio siaran sebagai alat komunikasi ditemukan setelah mesin cetak ditemukan. Donald McNicol dalam bukunya Radio’s Con-quest of Space menyatakan bahwa “terkalahkannya” ruang angkasa oleh radio siaran dimulai pada tahun 1802 oleh Done dengan ditemukannya suatu pesan (message) dalam jarak pendek dengan menggunakan alat sederhana berupa kawat beraliran listrik.
2.3.1. Radio Siaran Di Indonesia
a.       Zaman Belanda
Radio siaran pertama di Indinesia (waktu itu bernama Nederlands Indie – Hindia Belanda), adalah Bataviase Radia Vereniging (BRV) di Batavia (Jakarta tempo dulu) yang resminya didirikan pada tanggal 16 Juni 1925 pada saat Indonesia masih dijajah Belanda dan berstatus swasta.
b.      Zaman Jepang
Ketika Belanda menyerah pada Jepang tanggal 8 Maret 1942, sebagai konsekuensinya, radio siaran yang tadinya berstatus perkumpulan swasta dinonaktifkan dan diurus oleh jawatan khusus bernama Hoso Kanri Kyoku, yang merupakan pusat radio siaran yang berkedudukan di Jakarta serta mempunyai cabang-cabang yang dinamakan Hoso Kyoko Bandung, Purwakarta, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, dan Malang.
c.       Zaman Kemerdekaan
Proklamasi kemerdekaan oleh Bung Karno dan Bung Hatta tidak dapat disiarkan langsung melalui radio siaran karena radio siaran masih dikuasai oleh Jepang. Teks proklamasi kemerdekaan Indonesia baru dapat disiarkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris pukul 19.00 WIB, dan hanya dapat didengar oleh penduduk disekitar Jakarta. Baru pada tanggal 18 Agustus 1945, naskah bersejarah itu dapat dikumandangkan ke luar batas tanah air dengan resiko petugasnya diberondong senjata tentara Jepang.
d.      Zaman Orde Baru
Sampai akhir tahun 1966 RRI adalah satu-satunya radio siaran di Indonesia yang dikuasai dan dimiliki oleh pemerintah.Peran dan fungsi radio siaran ditingkatkan. Selain berfungsi sebagai media informasi dan hiburan, pada masa orde baru radio siaran melalui RRI menyajikan acara pendidikan dan persuasi. Pemerintah kemudian mengeluarkan Peraturan PemerintahNo. 55 Tahun 1970 tentang Radio Siaran Non Pemerintah. Karena jumlah radio siaran swasta niaga semakin lama semakain banyak, serta fungsi dan kedudukannya penting bagi masyarakat, maka pada tahun 1974 stasiun-stasiun radio siaran swasta niaga berhimpun dalam wadah yang dinamakan Persatuan Radio Siaran Swasta Niaga Indonesia, disingkat PRSSNI.
e.       Zaman Reformasi
Di era reformasi bermunculan radio-radio siaran swasta. Menurut catatan PRSSNI, hingga tahun 2005 terdapat sekitar 900 radio siaran swasta yang menjadi anggota. Namun banyak pula radio siaran swasta yang tidak terdaftar di PRSSNI karena sejak reformasi, radio siaran tidak lagi diwajibkanmenjadi anggota PRSSNI. Radio-radio tersebut mempunyai ewewnang untuk menyiarkan warta berita secara mandiri dengan nama program yang berbeda-beda.
2.3.2 Radio Siaran Sebagai The Fifth Estate
            Radio siaran mendapat julukan kekuatan kelima atau the fifth estate , hal ini disebabkan radio siaran juga dapat melakukan fungsi kontrol sosial seperti surat kabar, disamping empat fungsi lainnya yaitu memberi informasi, menghibur, mendidik dan melakukan persuasi. Kekuatan radio siaran dalam memengaryhi khalayak sudah dubuktikan dari masa ke masa di berbagai negara. Salah satu contoh pada peristiwa pertempuran Surabata 10 November 1945, Bung Tomo dengan gayanya yang khasmelalui mikrofon “Radio Pemberontak” berhasil membangkitkan semangat tempur, bukan saja di kalangan pemuda-pemuda Jawa Timur, tetapi juga di daerah lainnya untuk melawan Belanda.( Effendy, 1990: 63.)[11]
a.       Daya Langsung
Daya langsung radio siaran berkaitan dengan proses penyusunan dan penyampaian pesan pada pendengarnya yang relatif cepat.
b.      Daya Tembus
Melalui benda kecil yang namanya radio siaran, kita dapat mendengarkan siaran berita dari BBC di London atau ABC di Australia. Dengan mudah kita memindahkan channel dari stasiun radio siaran satu kepada stasiun radio siaran lainnya, padahal jarak Indonesia dengan Inggris maupun Australia sangat jauh dan dipisahkan oleh luasnya laut dan tingginta gunung. Dengan demikian radio siaran tidak mengenal jarak dan rintangan.
c.       Daya Tarik
Daya tarik ini disebabkan sifatnya yang serba hidup brkat tiga unsur yang ada padanya, yakni musik, kata-kata dan efek suara (sound effect).
2.3.3 Karakteristik Radio Siaran
            Mark W. Hall dalam buku Broadcast Journalism mengemukakan bahwa perbedaan mendasar antara media cetak dengan radio siaran ialah media cetak dibuat untuk konsumsi mata sedangkan radio siaran untuk konsumsi telinga. Sebaliknya kita ingat kembali ciri-ciri komunikasi massa yang membedakan media massa satu dengan media massa lainnya adalah stimulasi alat indra.
a.       Auditori
Sifat auditori itu sebagai konsekuensi dari radio siaran untuk didengar. Karena kemampuan mendengar manusia itu terbatas, maka pesan komunikasi melalui radio siaran diterima dengan selintas. Pendengar tidak akan dapat mendengar kembali (rehearing) informasi yang tidak jelas diterimanya karena ia tidak bisa meminta kepada komunikator atau penyiar untuk menulang informasi yang hilang tersebut kecuali merekamnya.
b.      Radio is the Now
Ditinjau dari nilai aktualitas berita, mestinya radio siaran dibandingkan dengan media massa lannya adalah yang paling aktual. Selain hitungan waktunya dalam detik, proses penyampaian pesannya lebih simple. Radio siaran juga seringkali melakukan liputan langsung dari tempat kejadian. Dalam siaran, dikenal istilah rewriting to update (Hall, 1974).[12]
c.       Imajinatif
Karena hanya indera pendengaran yang digunakan oleh khalayak dan pesannya pun selintas maka radio siaran dapat mengajak komunikannya untuk berimajinasi. Dengan kata lain pendengar radio siaran bersifat imajinatif.
d.      Akrab
Sifat raduo siaran lainnya adalah akrab atau intim. Seorang penyoar radio seolah-olah berada didalam kamar pendengar, menemani pendengaryang sedang belajar atau mengerjalan pekerjaan kantor, dll. Dengan akrab dan cekatan ia menghidangkan acara-acara yang bervariasi, mulai dari acara yang informatifsampai acara-acara hiburan yang menggembirakan.
e.       Gaya Percakapan
“Keep it simple, keep it short, keep it conversational” (Newsom, 1985: 107) adalah rumus-rumus penulisan berita radio. Penyiar radio seolah-olah bertamu ke rumah atau menemui pendengarnya di mana pun mereka berada. Dalam keadaan demikian tidak mungkin ia berbicara dengan semangat dan berteriak. Sekalipun pesannya  didengar oleh ribuan orang, tapi pendengar berada ditempat yang terpisahkandan bersifat pribadi.[13]
f.       Menjaga Mobilitas
Kita jarang mendengarkan radio siaran dengan cara duduk dan mendekatkan telinga pada pesawat radio. Pada umumnya kita mendengarkan radio sambil melakukan aktivitas lain seperti : mengendarai mobil, menyetrika baju, makan, menulis bahkan berbicara dengan orang lain. Mobilitas pendengar terjaga, karena tidak meninggalkan pekerjaan ketika mendengarkan radio.
2.4 Televisi
            Dari semua media komunikasi yang ada, televisilah yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia. 99% orang Amerika memiliki televisi di rumahnya. Tayangan televisi mereka dijejjali hiburan, berita dan iklan. Mereka menghabiskan waktu menonton televisi sekitar tujuh jam dalam sehari (Agee, et. a.l 2001: 279).[14]
            Tahun 1948 merupakan tahun penting dalam dunia pertelevisian, dengan adanya perubahan dari televisi eksperimen ke televisi komersial Amerika. Karena perkembangan televisi yang sangat cepat, dari waktu ke waktu media ini memiliki dampak terhadap kehidupan masyrakat sehari-hari.

2.4.1 Sejarah Singkat Televisi
            Sebagaimana radio siaran, penemuan televisi telah melalui berbagai eksperimen yang dilakukan oleh para ilmuwan akhir abad 19 dengan dasar penelitian yang dilakukan oleh James Clark Maxmell dan Heinrich Hertz,serta penemuan Marconi pada tahun 1890. Paul Nipkow dan William Jenkins melalui eksperimennya menemukan metode pengiriman gambar melalui kabel (Heibert, Ungrait, Bohn, 1975:283). Televisi sebagai pesawat transmisi dimulai pada tahun 1925 dengan menggunakan metode mekanisasi dari Jenkins. Pada tahun 1928 General Electronic Company mulai menyelenggarakan acara siaran televisi secara reguler. Pada tahun 1939 Presiden Fanklin D. Roosevelt tampil di layar televisi. Sedangkan siaran televisi komersial di Amerika di mulai pada 1 September 1940.

2.4.2 Siaran Televisi di Indonesia
            Kegiatan penyiaran melalui media televisi di Indonesia dimulai pada tanggal 24 Agustus 1962, bertepatan dengan dilangsungkannya pembukaan Pesta Olahraga se-Asia IV atau Asean Games di Senayan. Sejak itu pula Televisi Republik Indonesia yang disingkat TVRI dipergunakan sebagai panggilan stasiun (station call) hingga sekarang (Effendy, 1993:54). Selama tahun 1962-1963 TVRI berada di udararata-rata satu jam sehari dengan segala kesederhanaannya.
            TVRI yang berada di bawah Departemen Penerangan pada saat itu, kini siarannya sudah dapat menjangkau hampir selauruh rakyat Indonesia yang berjumlah sekitar 210 juta jiwa. Sejak tahun 1989 TVRI mendapat saingan televisi siaran lainnya, yakni RCTI, SCTV, TPI, ANTV, Indosiar, TV7, Lativi, Metro TV, Trans TV, Global TV, dan televisi-televisi daerah seperti Bandung TV, JakTV, BaliTV, dan lain-lain.
2.4.3 Fungsi Televisi
            Fungsi televisi sam dengan fungsi media massa lainnya ( surat kabar dan radio siaran),  yakni memberi informasi,  pendidikan,  menghibur dan membujuk.  Tetapi fungsi menghibur lebih dominan pada media televisi sebagaimana hasil penelitian-penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD, yang menyatakan bahwa pada umumnya tujuan utama khalayaknya menonton televisi adalah untuk memperoleh hiburan, selanjutnya untuk memperoleh informasi.
2.4.4 Karakteristik Televisi
            Ditinjau dari stimulus alat indra, dalam radio siaran, surat kabar dan majalah hanya satu alat indra yang mendapat stimulus. Radio siaran dengan pendengaran, surat kabar dan majalah dengan indra penglihatan.
  1. Audiovisual
Televisi memiliki kelebihan, yakni dapat didengar sekaligus dapat dilihat (audiovisual). Jadi apabila khalayak radio siaran hanya mendengar kata- kata, musik, dan efek suara, maka khalayak televisi dapat melihat gambar yang bergerak.
  1. Berfikir dalam Gambar
Pihak yang bertanggung jawab atas kelancaran acara televisi adalah pengarah acara. Ada dua tahap yang dilakukan dalam proses berpikir dalam gambar. Pertama adalah visualisasi, dalam proses ini pengarah acara merangkai agar gambar memiliki makna. Tahap kedua adalah penggambaran, yaitu merangkai gambar sedemikian rupa sehingga mempunyai kontinuitas dan mengandung makna tertentu.
  1. Pengoperasian Lebih Kompleks
Pengoperasian televisi siaran lebih kompleks dan melibatkan banyak orang. Peralatan yang digunakan pun lebih banyak dan untuk mengoperasikannya lebih rumit dan harus dilakukan oleh orang yang terampil dan terlatih.
2.4.5 Faktor-faktor yang Perlu Diperhatikan
            Kita sudah membahas menganai karakteristik suatu peristiwa (fakta dan opini) yang layak menjadi berita, yakni bahwa fakta dan opini tersebut harus mengandung unsur penting dan menarik. Begitupula pesan lainnya yang bertujuan menghibur. Tetapi pesan akan di sampaikan melalui media televisi, memerlukanpertimbangan lain agar pesan tersebut dapat di terima oleh khalayak sasaran. Faktor-faktor yg perlu diperhatikan itu adalah pemirsa, waktu, durasi, dan metode penyajian.
  1. Pemirsa
Dalam setiap bentuk komunikasi, melalui media apa pun komunikator akan mentesuaikan pesan dengan latar belakang komunikannya. Namun untuk komunikasi melalui media elektronik, khususnya televisi, faktor pemirsa perlu mendapat perhatian lebih. Dalam hal ini komunikator harus memahami kebiasaan dan minat pemirsa baik yang termasuk kategori anak-anak, remaja, dewasa mau pun orang tua. Hal ini berkaitan dengan materi pesan dan jam penayangan.
  1. Waktu
Setelah komunikator mengetahui minat dan kebiasaan tiap kategori pemirsa, langkah selanjutnya adalah menyesuaikan waktu penayangan dengan minat dan kebiasaan pemirsa. Faktor waktu menjadi bahan pertimbanfan, agar setiap acara dapat ditayang.
  1. Durasi
Durasi berkaitan dengan waktu, yakni jumblah menit dalam setiap tayangan acara. Misalnya,  acara " Go Spot "  di RCTI berdurasi 30 menit. Acara Liputan 6 pagi berdurasi 90 menit di SCTV, dan "Empat Mata" di Trans7 berdurasi 90 menit. Sedangkan acara-acara film biaoskop yang di putar dilayar televisi pada umumnya berdurasi 120 menit, bahkan film india bisa lebih (mungkin 180 menit). Durasi madinga-masing acara disesyaikan dengan jenis acara dan tutunan skrip atau naskah.yang penting, dengan durasi tertentu, tujuan acara tercapai. Suatu acara tidak akan mencapai sasaran karena durasi terlalu singkat atau trrlalu lama.
  1. Metode penyajian
Telah kita ketahui bahwa fungsi utama televisi menurut khalayak umumnya adalah untuk menghibur, selanjutnya adalah informasi. Tetapi tidak berarti fungsi mendidik dan membujuk dapat di abaikan. Fungsi non hiburan dan non informasi garus tetap ada hkarna sama pentingnya bagi keperluan kedua pihak, komunikator dan komunikan. Masalahnya sekaranf adalah bagaimana caranya agar fungsi mendidik dan membujuk tetap ada, namun tetap di minari pemirsa. Caranya adalah dengan mengemas pesan pesan dengan sedemikian rupa, menggunakan metode penyajian tertentu dimana pesan no hiburan dpaat mengundan unsur hiburan. Misalnya pemerintah melalui dipartemen agama ingin menyampaikan informasi mengenasi syarat-syarat administrasi, serta prosedur yang harus dilaksanakan oleh umat islam yg akan menunaikan ibadah haji, maka informasi itu akan lebih baik dan dapat mencapai sasaran bila dikemas dalam bentuk sandiwara.
2.4.6 Trend Televisi
            Sukses suatu program acara pada media televisi seringkali di ikuti oleh stasiun televisi lainnya dengan acara-acara yang sejenis. Hal ini dinamakan sebagai copyeat.         Ada juga suatu acara yang sukses di negara asalnya sehingga dibuat versi negara asalnya sehingga dibuat versi negara lain, dinamakan franchise. Contoh acara-acara franchise adalah "Who Wants To Be A Millionaire"( RCTI, Anteve) "indonesia Idol" ( RCTI), "The Apprentice" ( Metro Tv),  "Gong Show"( Trans TV),  dan lain-lain. Sedangkan contoh acara-acara copycat adalah "Hidayah" (Trans TV), "jalan ilahi( Trans 7), "pintu Hidayah" ( RECTI) yang meniru " Rahasia Illahi"(TPI) ; "Rejeki Nomplok"(Trans 7), Lunas(SCTV),  Tolong(SCTV). Dan sebagainya.
2.5 Film
            Gambar bergerak (film) adalah bentuk dominan dari komunikasi massa visual di belahan dunia ini. Lebih dari ratusan juta orang menonton film di bioskop, film televisi dan film video laser setiap minggunya. Di Amerika Serikat dan Ranada lebih dari satu juta tiket film terjual setiap tahunnya (Agee, et. al., 2001: 364).[15]
            Film Amerika diproduksi di Hollywood. Film yang dibuat di sini membanjiri pasar global dan memengaruhi sikap, perilaku dan harapan orang-orang di belahan dunia. Film lebih dahulu menjadi media hiburan dibanding radio siaran dan televisi. Menonton film ke bioskop ini menjadi aktivitas populer bagi orang Amerika pada tahun 1920-an sampai 1950-an.
            Industri film adalah industri bisnis. Predikat ini telah menggeser anggapan orang yang masih meyakini bahwa film adalah karya seni, yang diproduksi secara kreatif dan memenuhi imajinasi orang-orang yang bertujuan memperoleh estetika (keindahan) yang sempurna. Meskipun pada kenyataannya adalah bentuk karya seni, industri film adalah bisnis yang memberikan keuntungan, kadang-kadang menjadi mesin uang yang seringkali, demi uang, keluar dari kaidah artistik filtll itu sendiri (Dominick. 2000: 306).
2.5.1 Sejarah Film
            Film atau motion pictures ditemukan dari hasil pengembangan prinsip-prinsip fotografi dan proyektor. Film yang pertama kali diperkenalkan kepada publik Amerika Serikat adalah The Life of an American Fireman dan film The Great Train Robbery yang dibuat oleh Edwin S. Porter pada tahun 1903 (Hiebert, Ungurait, Bohn, 1975:246). Tahun 1906 sampai tahun 1916 merupakan periode paling penting dalam sejarah perfilman di Amerika Serikat, karena pada dekade ini lahir film feature, lahir pula bintang film serta pusat perfilman yang kita kenal sebagai Hollywood. Periode ini juga disebut sebagai the age of Griffith karena David Wark Griffith lah yang telah membuat film sebagai media yang dinamis. Diawali dengan film The Adventures of Dolly (1908) dan puncaknya film the Birth of a Nation (1915) serta film Intolerance (1916). Griffith memelopori gaya bereakting yang lebih alamiah, organisasi cerita yang makin baik, dan yang paling utama mengangkat film sebagai media yang memiliki karakteristik unik, dengan gerakan kamera yang dinamis, sudut pengambilan gambar yang haik, dan teknik editing yang baik (Hiebert, Ungurait, Bohn, 1975: 246).
            Pada periode ini pula perlu dicatat nama Mack Sennett dengan Keystone Company, yang telah membuat film komedi bisu dengan bintang legendaris Charlie Chaplin. Apabila film permulaannya merupakan film bisu, maka pada tahun 1927 di Broadway Amerika Serikat muncul film bicara yang pertama meskipun belum sempurna (Effendy, 1993: 188).
2.5.2 Perfilman di Indonesia
            Dari catatan sejarah perfilman di Indonesia, film pertama yang diputar berjudul Lady Van Java yang diproduksi di Bandung pada tahun 1926 oleh David. Pada tahun 1927/1928 Krueger Corporation memproduksi film Eulis Atjih, dan sampai tahun 1930, masyarakat suguhi film Lutung Kasarung, Si Conat dan Pareh. Film-film tersebut. merupakan film bisu dan diusahakan oleh orang-orang Belanda dan Cina.
            Film bicara yang pertama bejudul Terang Bulan yang dibintangi Roekiah dan R. Mochtar berdasarkan naskah seorang penulis Indonesia Saerun. Pada saat perang Asia Timur Raya di penghujung tahun 1941, perusahaan perfilman yang diusahakan oleh orang Belanda dan Cina itu berpindah tangan kepada pemerintah Jepang, diantaranya adalah NV. Multi Film yang diubah menjadi Nippon Eiga Sha, yang selanjutnya memproduksi film feature dan film dokumenter. Jepang telah memanfaatkan film untuk media informasi dan propaganda. Namun, tatkala bangsa Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaan nya, maka pada tanggal 6 Oktober 1945 Nippon Eiga Sha diserahkan  secara resmi kepada  Pemerintah Republik Indonesia.
            Serah terima dilakukan oleh Ishimoto dari pihak Pemerintah Militer Jepang kepada R.M. Soetarto yang mewakili Pemerintah Republik Indonesia. Sejak tanggal 6 Oktober 1945 lahirlah berita Film Indonesia atau BFI. Bersamaan dengan pindahnya Pemerintah RI dari Yogyakarta, BFI pun pindah dan bergabung dengan Perusahaan Film Negara, yang pada akhirnya berganti nama menjadi Perusahaan Film Nasional (Effendy, 1999: 201-202).
2.5.3 Fungsi Film
            Seperti halnya televisi siaran, tujuan khalayak menonton film terutama adalah ingin memperoleh hiburan. Akan tetapi dalam film dapat terkandung fungsi informatif maupun edukatif, bahkan persuasif. Hal ini pun sejalan dengan misi perfilman nasional sejak tahun 1979, bahwa selain sebagai media hiburan, film nasional dapat digunakan sebagai media edukasi untuk pembinaan generasi muda dalam rangka nation and character building (Effendy, 1981: 212).
            Fungsi edukasi dapat tercapai apabila film nasional memproduksi film-film sejarah yang objektif, atau film dokumenter dan film yang diangkat dari kehidupan sehari-hari secara berimbang.
2.5.4 Karakteristik Film
Faktor-faktor yang dapat menunjukkan karakteristik film adalah sebagai berikut:
  1. Layar yang Luas/Lebar
Film dan televisi sama-sama menggunakan layar, namun kelebihan media film adalah layarnya yang berukuran luas. Saat ini ada layar televisi yang berukuran jumbo, yang bisa digunakan pada saat-saat khusus dan biasanya di ruangan terbuka, seperti dalam pertunjukan musik dan sejenisnya. Layar film yang luas telah memberikan keleluasaan penontonnya untuk melihat adegan-adegan yang disajikan dalam film. Apalagi dengan adanya kemajuan teknologi, layar film di bioskop-bioskop pada umumnya sudah tiga dimensi, sehingga penonton seolah-olah melihat kejadian nyata dan tidak berjarak.
  1. Pengambilan Gambar
Sebagai konsekuensi layar lebar, maka pengambilan gambar atau shot dalam film bioskop memungkinkan dari jarak jauh atau extreme long shot, dan panoramic shot, yakni pengambilan pemandangan menyeluruh. Shot tersebut dipakai untuk memberi kesan artistik dan suasana yang sesungguhnya, sehingga film menjadi lebih menarik. Perasaan kita akan tergugah melihat seseorang (pemain film) sedang berjalan di gurun pasir pada tengah hari yang amat panas. Manusia yang berjalan tersebut terlihat bagai benda kecil yang bergerak di tengah luasnya padang pasir. Di samping itu, melalui pano-ramic shot, kita sebagai penonton dapat memperoleh sedikit gambaran, bahkan mungkin gambaran yang cukup tentang daerah tertentu yang dijadikan lokasi film sekalipun kita belum pernah berkunjung ke tempat tersebut. Misalnya, kita dapat mengetahui suasana sekitar menara Effiel di Paris, air terjun Niagara di Amerika serikat dan lain-lain. Sebaliknya, pengambilan gambar pada televisi lebih sering dari jarak dekat.
  1. Konsentrasi Penuh
Dari pengalaman kita masing-masing, di saat kita menonton film di bioskop, bila tempat duduk sudah penuh atau waktu main sudah tiba, pintu-pintu ditutup, lampu dimatikan, tampak di depan kita layar luas dengan gambar-gambar cerita film tersebut.
Kita semua terbebas dari gangguan hiruk pikuknya suara diluar karena biasanya ruangan kedap suara. Semua mata hanya tertuju pada layar, sementara pikiran perasaan kita tertuju pada alur cerita. Dalam keadaan demikian emosi kita juga terbawa suasana, kita akan tertawa terbahak-bahak manakala adegan film lucu, atau sedikit senyum dikulum apabila ada adegan yang menggelitik. Namun dapat pula kita menjerit ketakutan bila adegan menyeramkan (biasanya anak-anak) dan bahkan menangis melihat adegan menyedihkan. Bandingkan sekarang bila kita menonton televisi di rumah, selain lampu yang tidak dimatikan, orang-orang di sekeliling kita berkomentar atau hilir mudik mengambil minuman dan makanan, atau sedang melihat adegan seru tiba-tiba pesawat telepon berbunyi, atau bel rumah berbunyi karena ada tamu, ditambah Iagi dengan selingan iklan.
  1. Identifikasi Psikologis
Kita semua dapat merasakan bahwa suasana di gedung bioskop telah membuat pikiran dan perasaan kita larut dalam cerita yang disajikan. Karena penghayatan kita yang amat mendalam, seringkali secara tidak sadar kita menyamakan (mengidentifikasikan) pribadi kita dengan salah seorang pemeran dalam film itu, sehingga seolah-olah kita lah yang sedang berperan. Gejala ini menurut ilmu jiwa sosial disebut sebagai identifikasi psikologis (Effendy, 1981: 192).
Pengaruh film terhadap jiwa manusia (penonton) tidak hanya sewaktu atau selama duduk di gedung bioskop, tetapi terus sampai waktu yang cukup lama, misalnya peniruan terhadap cara berpakaian atau model rambut. Hal ini disebut imitasi. Kategori penonton yang mudah terpengaruh itu biasanya adalah anak-anak dan generasi muda, meski kadang-kadang orang dewasa pun ada. Ingatan kita masih segar ketika film Indonesia Ada Apa Dengan Cinta (AADC) sedang booming, gadis-gadis SMA banyak yang menggunakan bandana sebagai penghias rambutnya, meniru tokoh utama di film AADC yaitu Cinta (diperankan oleh Dian Sastro) yang selalu mengenakan bandana di rambutnya, Bahkan anak-anak balita pun beramai-ramai memotong rambutnya dengan model bob pendek agar bisa berpenampilan sama seperti tokoh kartun Dora The Explorer.
Apabila hanya cara berpakaian yang banyak ditiru oleh penonton, tentu tidak masalah. Tetapi, bila yang ditiru adalah cara hidup yang tidak sesuai dengan norma budaya bangsa Indonesia, tentu akan menimbulkan masalah. Bagaimana jadinya, bila pemuda-pemudi kita hidup bersama tanpa nikah dan menjalaninya dengan perasaan tidak bersalah atau rikuh, seolah-olah perbuatan tersebut adalah wajar dan sudah banyak dilakukan orang lain? Bila film jenis ini yang banyak diputar di bioskop dengan frekuensi tinggi, maka hal ini akan merusak moral generasi muda Indonesia. Efek inilah yang harus dihindari, caranya kita serahkan saja pada pemerintah melalui Badan Film dan pihak-pihak lain yang terkait.
2.5.5 Jenis-Jenis Film
            Sebagai seorang komunikator adalah penting untuk mengetahui jenis-jenis film agar dapat memanfaatkan film tersebut sesuai dengan karakteristiknya. Film dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a.       Film Cerita
Film cerita (story film), adalah jenis film yang mengandung suatu cerita yang lazim dipertunjukkan di gedung-gedung bioskop dengan bintang film tenar dan film ini didistribusikan sebagai barang dagangan. Cerita yang diangkat menjadi topik film bisa berupa cerita fiktif atau berdasarkan kisah nyata yang dimodifikasi, sehingga ada unsur menarik, baik dari jalan ceritanya maupun dari segi gambarnya. Sejarah dapat diangkat menjadi film cerita yang mengandung informasi akurat, sekaligus contoh teladan perjuangan para pahlawan. Cerita sejarah yang pernah diangkat menjadi film adalah G.30 S PKI, Janur Kuning, Serangan Umum 1 Maret, dan yang baru-baru ini dibuat adalah Fatahillah. Sekalipun film cerita itu fiktif, dapat saja bersifat mendidik karena mengandung ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi.
b.      Film Berita
Film berita atau newsreel adalah film mengenai fakta, peristiwa yang benar-benar terjadi. Karena sifatnya berita, maka film yang disajikan kepada publik harus mengandung nilai berita (news value). Kriteria berita itu adalah penting dan menarik. Jadi berita juga harus penting atau menarik atau penting sekaligus menarik. Film berita dapat langsung terekam dengan suaranya, atau film beritanya bisu, pembaca berita yang membacakan narasinya. Bagi peristiwa-peristiwa tertentu, perang, kerusuhan, pemberontakan dan sejenisnya, film berita yang dihasilkan kurang baik. Dalam hal ini terpenting adalah peristiwanya terekam secara utuh.
c.       Film Dokumenter
Film dokumenter (documentary film) didefinisikan oleh Robert Flaherty sebagai "karya ciptaan mengenai kenyataan" creative treatment of actuality. Berbeda dengan film berita yang merupakan rekaman kenyataan, maka film dokumenter merupakan hasil interpretasi pribadi (pembuatnya) mengenai kenyataan tersebut. Misalnya, seorang sutradara ingin membuat film dokumenter mengenai para pembatik di kota Pekalongan, maka ia akan membuat naskah yang ceritanya bersumber pada kegiatan para pembatik sehari-hari dan sedikit merekayasanya agar dapat menghasilkan kualitas film cerita dengan gambar yang baik. Banyak kebiasaan masyarakat Indonesia yang dapat diangkat menjadi film dokumenter, diantaranya upacara kematian orang Toraja, upacara ngaben di Bali. Biografi seseorang yang memiliki karya pun dapat dijadikan sumber bagi dokumenter.
d.      Film Kartun
Film kartun (cartoon film) dibuat untuk konsumsi anak-anak. Dapat dipastikan, kita semua mengenai tokoh Donal Bebek (Donald Duck), Putri Salju (Snow White), Miki Tikus (Mickey Mouse) yang diciptakan oleh seniman Amerika Serikat Walt Disney.
Sebagian besar film kartun, sepanjang film itu diputarkan membuat kita tertawa karena kelucuan para tokohnya. Namun ada juga film kartun yang membuat iba penontonnya karena penderitaan tokohnya. Sekalipun tujuan utamanya menghibur, film kartun bisa juga mengandung unsur pendidikan. Minimal akan terekam bahwa kalau ada tokoh jahat dan tokoh baik, maka pada akhirnya tokoh baiklah yang selalu menang (ingat film Popeye the Sailor Man).
2.6 Komputer dan Internet
            Komputer menurut ejaan aslinya computer berasal dari kata “to compute” yang artinya menghitung. Jadi komputer bila diartikan secara harfiah adalah alat hitung. John C. Keegel dalam bukunya yang berjudul “The Language of Computer Programming” mengatakan bahwa “An electronic machine or device for processing data,it can solve problems by accepting data, performing certain operation data, and giving the result of these operation”, dan Edward Humby dalam bukunya “Computers” mengatakan “An electronic machine that processes data under the control of a stored program”.
            Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa komputer adalah alat elektronik yang dapat mengolah data dengan perantaraan program dan memberikan hasil pengolahan. Dengan kata lain komputer adalah alat pengolah data, bukan kalkulator. [16]
            [17]Secara harfiah interconnected networking (internet) ialah rangkaian komputer yang terhubung satu sama lain. Hubungan melalui suatu sistem antar perangkat komputer untuk lalu lintas data itulah yang dinamakan network. Jadi, komputer yang terhubung melalui jaringan dan saling berkomunikasi dengan waktu dan wilayah tak terbatas disebut internet.
            Lebih dari lima orang Amerika dewasa menggunakan internet di rumah, kantor atau sekolah, dan di atas 10% menggunakannya setiap hari. Dari karaktiristik jenis kelamin hampir sama banyaknya lekaki dan perempuan yang mengggunakan web (situs).
            Bagaimana orang-orang mengggunakan internet? Electronic mail merupakan aktivitas mereka dalam internet. Situs juga menjadikan sumber informasi untuk hiburan dan informasi perjalanan wisata. Pengguna internet menggantungkan pada situs untuk memperoleh berita. Dua sampai tiga pengguna internet mengakses situs untuk mendapatkan berita terbaru setiap minggunya (Straubhar dan LaRose. 2000: 267).
            Industri media komputer memiliki beberapa bidang utama, antara lain: pabrik perangkat keras komputer, pembuat perangkat lunak komputer (pembuatan program-program yang menjalankan mesin komputer). Content Provider adalah yang mengembangkan isi dan data base yang didistribusikan melalui jaringan komputer. Dari perangkat lunak komputer terdapat Internet Service Providers (ISPs), yakni perusahaan yang menjual akses ke internet.
            Bisnis perangkat keras komputer terbagi menjadi empat bidang umum: (l)the computer (terdiri dari supercomputers, mainframes, minicomputers, workstations, dan personal computers); (2) storage devices (seperti disk drives); (3) peripherals (seperti printer dan modem); (4) komponen atau material komputer, misalnya untuk merakit komputer.
            Industri perangkat lunak komputer terbagi ke dalam tiga bidang utama: (1) perusahaan yang menjual prepackaged software (yang merancang sistem komputer terpadu untuk penggunaan lebih luas dan otomatis); (2) pabrik yang memproduksi prepacked software yang menyediakan aplikasi-aplikasi program populer, seperti word processing, electronic spreadsheets, computer games untuk personal computer); (3) software industry (untuk pembuatan gambar bergerak atau film).
            Content provider adalah orang-orang atau perusahaan yang menciptakan isi yang dapat dilihat pada layar komputer. Sejumlah content providers merupakan perkembangan dari pembuatan soft-ware. Misalnya Microsoft memiliki majalah online, disebut Slate. Perusahan computer games adalah perpaduan antara software dan content provider. Contoh provider lainnya yang sudah dikenal sebagai perusahaan media massa papan atas seperti New York Time, majalah Time dan jaringan televisi ESPN, Americana online (Internet Service Providers/ISPs) bertindak sebagai content provider untuk penyebaran informasi media massa melalui media maya (internet). Industri pelayanan informasi ini, termasuk pula perusahaan yang membuat data base yang didistribusikan melalui internet atau CD-Rom. Perusahaan papan atas bidang data base ini adalah IBM,Dun Broadsheet dan Electronic Data System. Bagi orang-orang yang memiliki home page pada World Wide Web (www), termasuk kepada content provider. (Straubhaar dan LaRose. 2000: 268-269).
            Menurut Laquey (1997), internet merupakan jaringan longgar dari ribuan komputer yang menjangkau jutaan orang di seluruh dunia. Misi awalnya adalah menyediakan sarana bagi para peneliti untuk mengakses data dari sejumlah sumber daya perangkat keras komputer yang mahal. Namun, sekarang internet telah berkembang menjadi ajang komunikasi yang sangat cepat dan efektif, sehingga telah menyimpang jauh dari misi awalnya. Dewasa ini, internet telah tumbuh menjadi sedemikian besar dan berdaya sebagai alat informasi dan komunikasi yang tak dapat diabaikan.
            Penggunanya kini mencakup berbagai kalangan, para pengelola media massa (penerbit surat kabar dan majalah, radio siaran dan televisi), penerbit buku, artis, guru dan dosen, pustakawan, penggemar komputer dan pengusaha. Alasan penggunaannya pun beraneka ragam, mulai sekadar untuk berkomunikasi hingga mengakses informasi dan data yang penting.
            Nilai yang ditawarkan internet dapatlah dikiaskan sebagai sistem jalan raya dengan transportasi berkecepatan tinggi yang memperpendek perjalanan, atau diibaratkan sebuah perpustakaan yang dapat dikunjungi setiap saat, dengan kelengkapan buku, sumber informasi, dan kemungkinan penelusuran informasi yang tak terbatas, atau sebagai sebuah jamuan pesta semalam suntuk dengan penerima tamu ramah yang siap menyambut kehadiran tamu undangan setiap saat.
            Menurut Laquey (1997) pula, asal mula internet adalah tercipta oleh suatu ledakan tak terduga di tahun 1969, yaitu dengan lahirnya Arpanet, suatu proyek eksperimen Kementerian Pertahanan Amerika Serikat bernama DARPA (Department of Defense AdvancedResearch Projects Agency). Misi awalnya sederhana, yaitu mencoba menggali teknologi jaringan yang dapat menghubungkan para peneliti dengan berbagai sumber daya yang jauh seperti sistem komputer dan pangkalan data yang besar. Arpanet berhasil membantu membudidayakan sejumlah jaringan lainnya, yang kemudian saling berhubungan. Dua puluh lima tahun kemudian sistem ini berevolusi menjadi suatu organisme yang semhkin luas perkembangannva, yang mencakup puluhan juta orang dan ribuan jaringan.
            Internet memang merupakan jaringan komputer terbesar di dunia. Dilihat dari segi jumah jaringan, orang, sumber daya yang tersambungkan, internet terus menjadi semakin besar, dan semakin bernilai. Sebuah gerbang e-mail adalah suatu jalur hubungan khusus yang hanya memungkinkan pengiriman surat elektronik antara dua atau lebih jaringan.
            Banyak kalangan bisnis kini menyadari bahwa dengan menghubungkan jaringan perusahaan mereka ke internet, mereka memperoleh akses seketika kepada para pelanggan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa layanan online pada umumnya menciptakan suatu industri bernilai miliaran dolar, dengan taksiran pertumbuhan 25% per tahun. Jadi, dapatlah dipahami bahwa para penyedia layanan informasi kini berimigrasi ke internet.
            Laju pertumbuhan jenis sumberdaya yang terakses melalui internet sungguh mencengangkan. Istilah sumber daya menyatakan Segala sesuatu yang dapat mengakses pada internet, tak peduli di mana pun lokasinya.
            Menurut LaQuey, yang membedakan internet (dan jaringan global Iainnya) dari teknologi komunikasi tradional adalah tingkat interaksi dan kecepatan yang dapat dinikmati pengguna untuk menyiarkan pesannya. Tak ada media yang memberi setiap penggunanya kemampuan untuk berkomunikasi secara seketika dengan ribuan orang.
            Pada internet, kita dapat memeriksa berita cuaca terakhir dan memesan berbagai barang dan layanan online kapan saja. Sebagai contoh, kita dapat menelusuri buku panduan perumahan online untuk mencari rumah baru yang berada ribuan mil jauhnya. Kita tidak perlu pergi dahulu ke kantor perumahan terdekat. Kita dapat membentuk pendapat pribadi kita berdasarkan sumbernya, bukan berdasarkan ringkasannya. Internet dapat Inembantu kita membuat keputusan yang cerdas. Internet unggul dalam menghimpun berbagai orang, karena geografis tak lagi menjadi pembatas. Berbagai orang dari negara dan latar belakang yang berbeda dapat saling bergabung berdasarkan kesamaan minat dan proyeknya.
            Internet menyebabkan terbentuknya begitu banyak perkumpulan antara berbagai orang dan kelompok; jenis pada skala besar ini merupakan yang tak mungkin terwujud tanpa jaringan komputer.

            Konsep koloni digital dan budaya online memang masih cukup baru, namun konsep ini dengan segera akan menjadi pandangan hidup para penjelajah internet. Dalam dunia yang penuh kesibukan dengan suami-isteri sama-sama berkarir, dan bergaya hidup kerja-belajar, membangun berbagai kelompok minat dalam sebuah sekolah, lingkungan, atau kota sangatlah sulit. Masalah yang dihadapi masyarakat alam nyata antara lain kurangnya keterlibatan masyarakat setempat, geografi, dan berbagai jadwal yang kaku. Internet menerabas semua halangan ini. Dengan internet, kita lebih mudah ikut bergabung dalam sebuah diskusi yang sedang berlangsung dengan semua orang yang memunyai minat sama kapan saja kita mau, tak peduli di mana pun kita berada.
            Sebagai contoh, sekelompok profesional muda dan mahasiswa yang sibuk, di Seattle, Washington memanfaatkan keluwesan internet dengan menggunakan daftar e-mail untuk memberi informasi kepada setiap orang tentang pertandingan bola voli, wisata ski, dan hiburan malam di kota. Mereka juga memeriksa berbagai laporan ski dan cuaca pada internet, dan berpartipasi dalam suatu kelompok minat online bola voli dan ski. Beberapa di antaranya rnelakukan perjalanan ke luar kota, tetapi mereka tetap mengikuti berbagai peristiwa lokal dengan mengakses internet; sekurang-kurangnya diperlukan seorang ternan yang penuh dedikasi untuk memangil setiap anggotanya dan mengkoordinasikan semua aktivitas mereka. Tak satu pun dalam kelompok ini yang memunyai waktu untuk bertindak sebagai direktur. Bagi mereka, internet telah menjadi perkakas sosial yang sangat diperlukan.
            Menurut Reddick dan King (1996), informasi yang menarik, tepat waktu dan cermat sangat penting untuk jurnalisme yang baik. Dalam seabad terakhir ini, pekerjaan seorang wartawan ditentukan oleh peluangnya mendapat informasi. Berita yang hangat dan spesialisasi keahlian ditentukan oleh kemampuan mendapat informasi dari pihak polisi. Wartawan kepolisian mengolah informasi dari kepolisian.
Wartawan pengadilan ahli mengolah informasi mengenai hukum. Wartawan olahraga ahli dalam peraturan permainan olah raga.
            Selama bertahun-tahun Gedung Putih dianggap sumber berita paling bergengsi di kalangan wartawan. Pada dasarnya peranan wartawan Gedung Putih ditentukan oleh peluangnya untuk mendapatkan informasi dari Gedung Putih. Para wartawan yang pertamanya meliput Gedung Putih, dahulu bergerombol di sekitar kantor presiden, memantau siapa yang datang untuk bertemu dengan presiden dan siapa yang pergi setelah pertemuan itu.
            Pada awal 1900-an, Theodore Roosevelt merintis pertemuan resmi yang diadakan secara teratur dengan para wartawan. Langkah yang diambilnya ini memberikan semacam status tertentu pada para wartawan yang terlibat. Sejak itu, para wartawan Gedung Putih dapat memperoleh informasi dari tangan pertama, sedangkan rekan-rekan yang bertugas di Philadelphia, Chicago atau Los Angeles harus puas dengan informasi yang tiba kemudian.

            Keadaan ini telah dan terus berubah. Dengan berkembangnya pangkalan data (data base), bulletin boards, dan internet, para wartawan di mana pun mereka bertugas, mendapat kesempatan yang sama untuk memperoleh informasi yang pada mulanya hanya dapat diraih oleh wartawan yang bertugas di Gedung Putih. Sejak tahun 1993, Gedung Putih terus mengembangkan jaringan komunikasi elektroniknya. Bulan Juni 1993, Gedung Putih membuka kotak surat elektronik dan pada enam bulan pertama sejak kotak surat elektronik ini dibuka Gedung Putih mendapat lebih dari 100 ribu surat elektronik.
            Bulan September 1993 - Januari 1994, Gedung Putih mengelola lebih dari 220 ribu permintaan yang dikirim melalui e-mail untuk mendapatkan informasi. Lebih dari 1600 dokumen diterbitkan secara elektronik, termasuk laporan konferensi pers yang diadakan presiden.
            Gedung Putih juga mendirikan perpustakaan swalayan elektronik yang melayani permintaan akan dokumen pemerintah. Alhasil wartawan di Seattle memiliki peluang yang tidak banyak berbeda dengan wartawan di Washington DC untuk memperoleh infromasi.
BAB III
PENUTUP
3.2. Kesimpulan
1.      Media massa merupakan salah satu alat dalam proses komunikasi massa karena mampu menjangkau khalayak yang lebih luas dan relatif lebih banyak, heterogen, anonim, pesannya bersifat abstrak dan terpencar. Media massa merupakan salah satu sarana untuk pengembangan kebudayaan. Dengan adanya media massa masyarakat yang tadinya dapat dikatakan tidak beradab dapat menjadi masyarakat yang beradab. Media massa dalam masyarakat informasi, memiliki peranan sangat penting. Perkembangan teknologi memungkinkan informasi dari belahan dunia lain sekali pun dapat diterima dalam pangkuan khalayak dengan seketika.
2.      Secara garis besar media massa merupakan “kekuatan keempat” (The Fourth Estate) dalam menjalankan kontrol sosial terhadap masyarakat setelah lembaga eksekusit. Media cetak meliputi surat kabar, majalah, tabloid, buku, newsletter, dan buletin. Sedangkan media elektronik meliputi radio, televisi, internet, dan film. Media massa memiliki fungsi-fungsi yakni menyiarkan informasi, mendidik, menghibur dan mempengaruhi.
3.2 Saran
1.      Orang tua harus mengontrol anak-anaknya dalam menonton setiap acara atau informasi yang disajikan media massa, terutama untuk anak-anak yang masih dibawah umur perlu didampingi oleh orang tuanya.
2.      Pihak dari media massa harus lebih memperhatikan rubrik yang akan disajikan dan sebaiknya menyajikan rubrik yang mendidik sehingga dapat memberi pengaruh yang positif.



[1] Elfinaro Ardianto,Komunikasi Massa suatu pengantar, (Bandung : Simbiosa Rekatama  Media, 2015), hlm. 104.
[2] Ibid, hlm.105
[3] Ibid, hlm.111
[4] Elfinaro Ardianto,Komunikasi Massa Suatu Pengantar, (Bandung: Simbiosa Rekatama  Media, 2015), hlm 114
[5] Ibid, hlm.115
[6]Ibid, hlm 116
[7] Elfinaro Ardianto,Komunikasi Massa Suatu Pengantar,(Bandung: Simbiosa Rekatama  Media, 2015) ,hlm 118
[8]Ibid, hlm 119
[9]Ibid, hlm 120
[10]  Elfinaro Ardianto,Komunikasi Massa Suatu Pengantar,(Bandung: Simbiosa Rekatama  Media, 2015) ,hlm 123
[11]. Ibid, hlm 128
[12] Ibid, hlm 132
[13] Ibid, hlm 133
[14] Elfinaro Ardianto,Komunikasi Massa Suatu Pengantar,(Bandung: Simbiosa Rekatama  Media, 2015) ,hlm 134
[15] Elfinaro Ardianto,Komunikasi Massa Suatu Pengantar,(Bandung: Simbiosa Rekatama  Media, 2015) ,hlm 143
[16] F. Suryatmo dan Dedy Rusmadi, Pengetahuan Dasar Komputer, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,2002),hlm.3
[17] Sudarma S. Dan Jarot S, Buku Super Pintar Internet,(Jakarta: Mediakita,2012), hlm.3


Tidak ada komentar:

Posting Komentar