BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Berbicara
tentang media massa, hampir semua orang mengetahui apa itu media massa. Tanpa
kita sadari, hampir setiap hari kita diterpa oleh informasi-informasi yang
berasal dari media massa. Media massa merupakan salah satu bentuk kemajuan
teknologi dalam bidang informasi dan komunikasi. Di mana pada saat ini kemajuan
dari media massa itu sendiri sangat pesat. Perkembangan teknologi pada masa ini sangatlah
merubah pola hidup manusia. Perkembangan alat bantu yang sangat pesat,
merubah seluruh kehidupan manusia
sehingga manusia menjadi sangat bergantung kepada teknologi yang ada.
Media
massa pada awalnya dikenal dengan istilah pers yang berasal dari bahasa
Belanda, yang dalam bahasa Inggris berarti press. Secara harfiah pers berarti
cetak, dan secara maknawiah berarti penyiaran secara tercetak atau publikasi
secara tercetak (print publications). Dalam perkembangannya
pers mempunyai dua pengertian, yakni pers dalam pengertian sempit dan pers
dalam pengertian luas. Pers dalam arti luas adalah meliputi segala penerbitan,
termasuk media massa elektronika, radio siaran dan televisi siaran, sedangkan
pers dalam arti sempit hanya terbatas pada media massa cetak, yakni surat
kabar, majalah dan bulletin kantor berita (Onong, 2002:145). Media massa
seiring berkembangnya zaman kini telah menyentuh ke seluruh lapisan yang ada di
masyarakat semua menerima informasi dari media massa dengan berbagai bentuk
yang ada, dengan kemudahan orang-orang mendapatkan informasi dari media massa,
perkembangan terbaru dari luar bisa terus diketahui oleh masyarakat luas.
Lantas, bagaimana
sebenarnya yang dikatakan media massa? Media massa adalah suatu alat dalam
komunikasi massa, di mana media massa berfungsi untuk menyampaikan informasi
kepada khalayak luas. Media massa dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu
media massa cetak dan media massa elektronik. Yang termasuk kategori media
cetak adalah surat kabar dan majalah, sedangkan yang termasuk media elektronik
adalah televisi, radio, film dan internet. Media massa elektronik salah satu
media yang memiliki kekhususan, hal itu terletak pada dukungan elektronik dan
teknologi yang menjadi kekuatan dari media yang berdasar pada elektronik. Salah
satu kelebihan media elektronik adalah sifatnya yang real time atau disiarkan
secara langsung apabila ada peristiwa atau kejadian yang sedang terjadi.
Menurut khalayak, media elektronik sifatnya lebih instan daripada media cetak,
sehingga media elektronik lebih banyak dipilih oleh khalayak daripada media
cetak.
Sifat
media elektronik yang real time terkadang juga menjadi kendala bagi pendengar
atau pemirsa karena berita yang tersaji belum tentu diketahui saat itu juga
oleh pendengar atau pemirsa, karena saat ditayangkan mereka sedang tidak
mengkonsumsi media tersebut. Kendala ini memberikan konsekuensi kepada televisi
maupun radio untuk melakukan pengulangan informasi atau siaran. Walaupun
televisi atau radio dapat melakukan pengulangan siaran, tetapi khalayak dapat
memilih alternatif lain untuk mendapatkan informasi tersebut, misalnya melalui
media cetak berupa surat kabar.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka
dapat kita ambil beberapa rumusan masalah, yaitu:
a.
Apa
itu surat kabar dan bagaimana sejarahnya?
b.
Apa
itu majalah dan apa fungsinya?
c.
Apa
itu radio siaran?
d.
Apa
itu televisi dan bagaimana siaran televisi di Indonesia?
e.
Apa
itu film?
f.
Bagaimana
yang dimaksud dengan komputer dan internet?
1.3
Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini secara umum adalah untuk
menyelesaikan tugas matakuliah Komunikasi Organisasi, sedangkan tujuan khusus
penulisan makalah ini adalah :
a.
Mengetahui
tentang surat kabar dan sejarahnya.
b.
Mengetahui
tentang majalah dan fungsinya.
c.
Mengetahui
tentang radio.
d.
Mengetahui
tentang televisi dan siaran televisi di Indonesia.
e.
Mengetahui
tentang film.
f.
Menjelaskan
tentang komputer dan internet.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Surat Kabar
Berbicara mengenai
surat kabar, mungkin kata ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Bahkan
masyarakat yang jarang sekalipun membaca surat kabar mengetahui apa itu surat
kabar. Surat kabar adalah suatu media massa berupa tulisan yang berisi
informasi-informasi mengenai fenomena yang terjadi di masyarakat. Biasanya
didalam surat kabar berisi informasi atau berita terbaru yang sedang terjadi.
[1]Menurut
Agee (et.al) pula, secara kontemporer surat kabar memiliki tiga fungsi utama
dan fungsi sekunder. Fungsi utama media adalah : (1) to inform
(menginformasikan kepada pembaca secara objektif tentang apa yang terjadi dalam
suatu komunitas, negara, dan dunia). Nah, seperti yang sudah di jelaskan di
atas bahwa media massa berupa surat kabar berfungsi untuk menginformasikan
tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dengan demikian, orang yang sebelumnya
tidak mengetahui apa yang sedang terjadi dalam suatu komunitas, negara, dan
dunia, dengan adanya surat kabar ini menjadi tahu fenomena apa yang sedang
terjadi, sehingga masyarakat pun tidak ketinggalan informasi yang ada. (2) to
comment ( mengomentari berita yang disampaikan dan mengembangkannya kedalam
fokus berita ); (3) to provide ( menyediakan keperluan informasi bagi pembaca
yang membutuhkan barang dan jasa melalui pemasangan iklan di media. Nah, media
juga berfungsi untuk selalu menyediakan informasi terupdate yang dibutuhkan
masyarakat, dimana infromasi tersebut dimuat didalam sebuah iklan. Sedangkan
fungsi sekunder media, adalah: (1) untuk kampanye proyek-proyek yang bersifat
kemasyarakatan, yang sangat diperlukan untuk membantu kondisi-kondisi tertent;
(2) Memberikan hiburan kepada pembaca dengan sajian cerita komik, kartun, dan
cerita-cerita khusus; (3) Melayani pembaca sebagai konselor yang ramah, menjadi
agen informasi dan memperjuangkan hak.
2.1.1
Sejarah Singkat Surat Kabar
Kita
sama-sama mengetahui bahwa surat kabar adalah media massa yang sangat populer di
dunia. Hal ini menjadikan surat kabar menjadi salah satu media massa yang
paling tua dibandingakn dengan media lainnya yang ada saat ini. Mengapa surat
kabar menjadi yang paling tua? Ini
karena surat kabar sudah ada sejak ditemukannya mesin cetak oleh johann
guternberg di Jerman. [2]Berikut
merupakan sejarah singakat surat kabar dari beberapa negara.
a. Di
Jerman
Prototipe
pertama surat kabar diterbitkan di Breman Jerman pada tahun 1609. Pada tahun
yang sama, surat kabar yang sangat sederhana terbit di Strasborg. Bentuk surat
kabar sesungguhnya terbit pada tahun 1620 di Frankfurt, Berlin, Humberg,
Vienna, Amsterdam, dan Antwerp ( Hiebert, Ungurait, Bohn. 1975 : 206).
b. Di
Inggris
Di
inggris surat kabar yang pertama yang masih sederhana terbit pada tahun 1621.
Sedangkan yang dianggap sebagai benar-benar surat kabar yang terbit secara
teratur ialah Oxford Gazette yang terbit di Oxford tahun 1665. Beberapa bulan
kemudian ketika pemerintahan pindah ke London, surat kabar tersebut berubah
namanya menjadi London Gazette. Surat
kabar yang pertama terbit adalah Daily
Courant.
c. Di
Amerika
Surat
kabar harian yang pertama di Amerika Serikat adalah Pennsylvania Evening Post
dan Daily Advertiser yang terbit pada tahun 1783.sampai tahun 1830-an, surat
kabar relatif mahal harganya dan hanya dibaca oleh golongan elit, serta para
politikus.
d. Di
Indonesia
Keberadaan
surat kabar di Indonesia ditandai dengan perjalanan panjang melalui lima
periode yakni masa penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, menjelang kemerdekaan
dan awal kemerdekaan, serta zaman orde lama dan orde baru.
2.1.2
Fungsi Surat Kabar
Hampir semua orang sudah mengetahui apa fungsi surat
kabar. Seperti yang sudah di jelaskan pada bagian sebelumnya surat kabar
berfungsi untuk menyebarkan infromasi dalam bentuk tulisan kepada masyarakat.
Surat kabar sebagai media massa dalam masa orde baru mempunyai misi menyebarkan
pesan-pesan pembangunan dan sebagai alat mencerdaskan rakyat Indonesia.
[3]Dari
empat fungsi media massa ( informasi, edukasi, hiburan, dan persuasif), fungsi
yang paling menonjol pada surat kabar adalah informasi. Mengapa informasi?
Karena sesuai dengan tujuan utama khalayak membaca surat kabar, yaitu
keingintahuan akan setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Hal ini tidak
dapat dipungkiri, karena hampir setiap hari masyarakat membutuhkan informasi
terbaru. Bisa kita lihat dari sekeliling kita bahwa ketika masyarakat menerima
koran terbaru maka hal yang paling utama dicari adalah informasi atau berita
terbaru. Karenanya, Sebagian besar
rubrik surat kabar terdiri dari berbagai jenis berita. Namun demikian,fungsi
hiburan surat kabar pun tidak terabaikan karena rubrik artikel ringan, feature
(laporan perjalanan, laporan tentang profil seseorang yang unik), rubrik cerita
bergambar atau komik, serta cerita bersambung. Begitu pula fungsinya mendidik
dan memengaruhi akan ditemukan pada artikel ilmiah, tajuk rencana atau
editorial dan rubrik opini.
2.1.3
Karakteristik Surat Kabar
Untuk
dapat memanfaatkan media massa secara maksimal demi tercapainya tujuan
komunikasi, maka seorang komunikator harus memahami kelebihan dan kekurangan
media tersebut, dengan kata lain, komunikator harus mengetahui secara tepat
karakteristik media massa yang akan digunakannya. Berikut merupakan
karakteristik surat kabar :
a. Publisitas
atau publicity
Pulisitas
adalah penyebaran pada publik atau khalayak (effendy, 1981:98). Publisitas
yaitu kegiatan menempatkan berita mengenai seseorang, organisasi atau
perusahaan di media massa. Dengan kata lain , publisitas adalah upaya orang
atau organisasi agar kegiatanya diberitakan media massa.
Salah
satu karakteristik komunikasi massa adalah pesan dapat diterima oleh
sebanyak-banyaknya khalayak yang tersebar di berbagai tempat, karena pesan
tersebut penting untuk diketahui umum, atau menarik bagi khalayak pada umumnya.
Dengan demikian, semua aktivitas manusia yang menyangkut kepentingan umum dan
atau menarik untuk umum adalah layak untuk disebarluaskan. Pesan-pesan melalui
surat kabar harus memenuhi kriteria tersebut.
b. Periodesitas
Periodesitas
adalah keteraturan terbitnya suatu berita, baik harian, mingguan, atau bahkan
dwi mingguan. Pers yang terbit setiap hari pun harus tetap konsisten
dengan pilihannya, apakah terbit setiap hari atau pada sore hari. Sekali pagi
hari seterusnya harus pagi hari. Begitu juga sebaliknya, sekali sore hari,
seterusnya harus sore hari. Kecuali kalau ada perubahan haluan yang di putuskan
melalui rapat paripurna manajemen. pers yang tidak terbit secara periodik,
biasanya sedang menghadapi masalah manajemen, seperti konflik internal, Krisis
finansial, atau kehabisan modal.
Sikap
periodesitas sangat penting dimiliki media massa khususnya surat kabar.
Kebutuhan manusia akan informasi sama halnya dengan kebutuhan manusia akan
makan dan minum. Setiap hari manusia membutuhkan informasi. Bagi penerbit surat
kabar selama ada dana yang menckupi, maka tidaklah sulit untuk menerbitakan
surat kabar secara periodik.
c. Universalitas
Universalitas
menunjuk pada kesemestaan isinya, yang beraneka ragam dan berasal dari seluruh
penjuru dunia. surat kabar tidak hanya memberitakan sebuah negara saja tetapi
juga harus secara global/secara menyeluruh. Dengan demikian atau isi surat
kabar meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, seperti masalah sosial,
ekonomi, budaya, agama, pendidikan, keamanan dan lain-lain. Selain itu, lingkup
kegiatannya bersifat lokal, regional, nasioanal bahkan internasional. Jadi,
apabila ada penerbitan (sekalipun bentuknya seperti surat kabar) yang hanya
memuat atau berisi salah satu aspek saja, maka penerbitan tersebut tidak dapat
dikategorikan sebagai surat kabar.
d. Aktualitas
Aktualitas, berarti
informasi apa pun yang di suguhkan media massa harus mengandung unsur kebaruan,
menunjukan kepada peristiwa yang benar - benar baru terjadi atau yang sedang
terjadi. Aktualitas menurut kata asalnya, berarti “kini” dan “keadaan”
sebenarnya (Effendy, 1981:99). Kedua istilah tersebut erat kaitannya dengan
berita, karena defenisi berita adalah laporan tercepat mengenai fakta-fakta
atau opini yang penting atau menarik minat, atau kedua-duanya bagi sejumlah
besar orang (Charnley, 1965:34).
e. Terdokumentasikan
Dari berbagai fakta
yang disajikan surat kabar dalam bentuk berita atau artikel, dapat dipastikan
ada beberapa diantaranya yang oleh pihak-pihak tertentu dianggap penting untuk
diarsipkan atau dibuat kliping. Kliping berita oleh sebuah instansi biasanya
dilakukan oleh staf public relations
untuk dipelajari dalam rangka memntukan kebijakan selanjutnya, karena berita
tersebut dianggap sebagai masukan dari masyarakat (publik eksternal).
2.1.4 Kategorisasi Surat Kabar
Surat
kabar dapat dikelompokkan pada berbagai kategori. Dilihat dari ruang
lingkupnya, maka kategorisasinya adalah surat kabar lokal, regional dan
nasional. Surat kabar lokal adalah surat kabar dimana isinya memberitakan
kejadian yang ada di daerah itu sendiri. Surat kabar regional hampir sama
dengan lokal tetapi lebih jauh lagi
jangkauannya mencakup provinsi. Dan
surat kabar nasional isi beritanya mencakup keseluruhan yang ada disuatu
negara. Ditinjau dari bentuknya, ada bentuk surat kabar biasa dan tabloid.
Sedangkan dilihat dari bahasa yang digunakan, ada surat kabar yang berbahasa
Indonesia, berbahasa Inggris dan juga bahasa daerah.
Surat
kabar nasional, diantaranya Kompas, koran
tempo, suara pembaruan, Media Indonesia,Bisnis Indonesia, Republika, Suara Karya, Harian Nasional, dan lain-lain. Surat kabar regional,
diantaranya Pikiran rakyat (Jawa Barat), Jawa Pos dan
Surabaya Pos( Jawa Timur), Serambi Indonesia(Aceh), Suara Merdeka (Jawa
Tengah), Waspada (Sumatera Utara), Bali Pos (Bali), Banjarmasin Pos, dan
lain-lain. Dan surat kabar lokal, diantaranya Tribun Jabar (Bandung-Jabar), Pos Kota (Jakarta), Kedaulatan Rakyat
(Jogjakarta). Surat kabar bentuk tabloid, adalah Bintang, Citra, Nova, Wanita Indonesia, Bola, Go (Gema Olahraga). Surat
kabar berbahsa Inggris, diantaranya The
Jakarta Post, Bangkok pos, The New York Time, National pos, Daily News, dan lain sebagainya.
2.2 Majalah
[4]Edisi pertama majalah yang diluncurkan di
Amerika pada pertengahan 1930-an memperoleh kesuksesan besar. Majalah telah
membuat segmentasi pasar tersendiri dan membuat fenomena baru dalam dunia media
massa cetak di Amerika. Munculnya nama-nama majalah seperti Scientific American, psychology Today dan
Playboy secara aktif membentuk segmen
pembaca baru (Dominick 2000:209).
[5]Menurut Dominick pula, klasifikasi majalah
dibagi ke dalam lima kategori utama, yakni: (1) General costumer magazine (majalah konsumen umum), (2) business publication (majalah bisnis) ,(3)
literacy reviews and academic(kritik sastra dan majalah ilmiah),(4) journal newsletter(majalah khusus
terbitan berkala), (5) public relation
magazines(majalah humas).
General costumer
magazine.
Konsumen majalah ini siapa saja, mereka dapat membeli majalah tersebut di
sudut-sudut outlet, mall, supermall
atau toko buku lokal. Majalah konsumen umum ini menyajikan informasi tentang
produk dan jasa yang diiklankan pada halaman-halaman tertentu. Beberapa majalah
konsumen yang populer di Amerika adalah people’s
Time, Reader’s Digest, News Week, Sport Ilustrated dan Playboy.
Business
Publication.
Majalah-majalah bisnis (disebut juga trade
publication) melayani secara khusus informasi bisnis, industri atau
profesi. Media ini tidak dijual mall atau
supermaal, pembacanya terbatas pada
kaum profesional atau pelaku bisnis. Produk-produk yang diiklankan umumnya
hanya dibeli oleh organisasi bisnis atau kaum profesional. Berdasarkan data
lembaga riset business publication rate
and data (SRDS) terdapat sekitar 4000 nama majalah bisnis di negri Paman Sam.
Majalah ini paling banyak diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan penerbitan
independen yang tidak berkaitan dengan perusahaan produk atau jasa, misalnya
McGraw Hill dan Harcourt Brace Jovanovich. Keduanya adalah perusahaan
penerbitan swasta yang menerbitkan majalah bisnis dengan sirkulasi yang luas.
Publikasi ini dikelola oleh organisasi-organisasi profesional dibidang
penerbitan.
Literacy reviws and
academic journal.
Terdapat ribuan nama majalah kritik sastra dan majalah ilmiah, yang pada
umumnya memiliki sirkulasi dibawah 10 ribu, dan banyak diterbitkan oleh
organisasi-organisasi nonprofit, universitas, yayasan atau organisasi
profesional. Mereka menerbitkan empat edisi atau kurang dari itu setiap
tahunnya, dan kebanyakan tidak menerima iklan. Nama penerbitan berbau ilmiah ini
anatara lain: Reviws, Thearte Disign And
Technology, European Urology, Journalism Quarterly, Poultry And Egg Marketing,
Dan The Journal Of Japaness Botany.
Newsletter. Media ini dipublikasikan dengan bentuk
khusus, 4-8 halaman dengan perwajahan khusus pula. Media ini didistribusikan
secara gratis atau dijual secara berlangganan. Belakangan penerbitan.
Newsletter telah menjadi lahan bisnis besar. Misalnya
newsletter on newsletter, penerbit khusu yang menyunting newsletter. Sejumlah
newsletter yang sudah cukup kondang adalah The Kip linger Newsletter, the
granville market newsletter, the gallgher report dan media yndustry newsletter
yang meliput peristiwa-peristiwa dalam industri media massa cetak dan siaran,
juga communication booknotes, yang meresensi buku-buku terbaru tentang media
massa.
[6]Public relation magazine. Majalah PR ini
diterbitkan oleh perusahaan, dan dirancang untuk sirkulasi pada karyawan
perusahaan, agen, pelanggan dan pemegang saham. Jenis publikasi penerbitan ini
berbeda sedikit dengan periklanan, kendati menjadi bagian dari promosi
organisasi atau perusahaan yang mensponsori penerbitan. Di Amerika Serikat
ribuan publikasi PR di terbitkan, dan telah dikembangkan dalam organisasi
profesional yang mereka miliki, yakni international of bisnis communikators.
2.2.1 Sejarah Singkat Majalah
Keberadaan majalah sebgai media
massa terjadi tidak lama setelah surat kabar. Sebagaimana surat kabar, sejarah
majalah di awali dari negara-negara eropa dan amerika.
a.
Di Inggris
Majalah di Inggris (London) adalah riview yang diterbitkan oleh
Daniel Depoe pada tahun 1704. Bentuknya adalah anatara majalah dan surat kabar,
ukuran halaman kecil, serta terbit tiga kali satu minggu. Defoe bertindak
sebgai pemilik, penerbit, editor sekaligus sebgai penulisnya. Tulisannya mencakup
berita, artikel, kebijakan nasional, aspek moral dan lain-lain. Tahun 1790,
richard steele membuat majalah the tatler, kemudian bersama-sama dengan Joseph
Addison ia menerbitkan the speaktator. Majalah tersebut berisi masalah politik,
berita internasional, tulisan yang mengandung unsur-unsur moral, berita-berit
hiburan(teater), dan gosip(hiebert, ungurait, bohn, 1975:221).
b.
Di Amerika
Benjamin Franklin telah memelopori
penerbitan majalah di Amerika tahun 1740, yakni general magazine dan historikak
kronikel. Tahun 1820-an sampai 1840-an merupakan zamannya. Majalah (the age of
magazines). Majalah yang paling populer saat itu adalah Saturday evening post
yang terbit tahun 1821, dan north American Riview.
Pada pertengahan abad 20 tidak ada majalah yang sesukses reader’s
digest yang diterbitkan oleh suami istri dewitt wallace dan lila (keduanya anak
pendeta), pada tahun 1922, ketika mereka masih berusis 20 tahun. Pada tahun
1973 reader’s digest dapat mencapai pelanggan sebanyak 18 juta untuk pembaca di
amerika saja, dan pembaca lainnya di dunia. Keberhasilan reader digest telah
mendorong anak pendeta lainnya, yakni henry luce, lulusan yale university,
untuk menerbitkan majalah time bersama-sama dengan briton hadden. Selanjutnya
luce menerbitkan majalah life, fortune dan sport ilustrated. Life merupkan
majalah berita yang banyak menggunakan foto. Meskipun merupakan majalah foto,
foto-foto tersebut berfungsi sebagai alat informasi, menghibur dan memengaruhi.
Majalah lainnya yang sukses adalah Playboy yang diterbitkan hugh hefner tahun
1953. Playboy adalah majalah khusus untuk pria yag pada tahun 1970-an, dan
sirkulasinya mencapai 6 juta eksemplar.
c.
Di
Indonesia
Sejarah keberadaan majalah sebagai
media massa di Indonesia di mulai menjelang dan pada awal kemerdekaan
Indonesia. Di jakarta pada tahun 1945 terbit majalah bulanan dengan nama pant
tjhaa raja pimpinan Markoen Djojo Hado Soeparto(MD) dengan Prakata Dari Ki
Hadjar Dewantoro selaku mentri pendidikan pertama RI. Di Ternate, pada bulan
oktober 1945 Arnold Monoutu dan Dr. Hasan Missouri menerbitkan majalah mingguan
menera merdeka yang memeuat berita-berita yag di siarkan RRI. Menara merdeka
berani dan tegas mengemukakan kaum republikan setempat ditengah keganasan
serdadu belanda, juga menyerukan persatuan bangsa indonesia. Menara merdeka
bertahan sampai tahun 1950. Majalah-majalah lain yang terbit setelah
kemerdeaan, antara lain: pahlawan(aceh), makalah sastra arena(yokyakarta) yang
di pimpin oleh H.Usmar Ismail, majalah sastrawan(malang) yang diterbitkan oleh
inu kertaparti, dan majalah seniman(solo), pimpinan trisno soemardjo, dan
penerbitnya seniman indonesia muda. Siauw giok tjan menerbitkan majalah bulanan
liberty. Di kediri terbit majalah bebahasa Jawa Djojobojo, pimpinan Tadjib
Ernadi. Para anggota Ikatan Pelajar Indonesia di Blitar yang menerbitkan
majalah berbahasa Jawa, Obor (suluh) yang ditujukan untuk memberi penerangan
bagi rakyat yang berada di pelosok-pelosok, yang pada umumnya belum bisa
berbahasa Indonesia. Pelajar-pelajar di Kediri menerbitkan majalah tengah
bulanan pelajar merdeka. Majalah
untuk kaum wanita dengan nama wanita terbit di Solo di bawah pimpinan Sutiah
Surjohadi.[7] Sedangkan majalah Soeara
Perkis dan Bulan Sabit diterbitkan oleh Gerakan Pemuda Islam Indonesia cabang
Solo (Soebagijo, 1977:54-85).
2.2.2 Kategorisasi Majalah
[8]Tipe suatu majalah ditentukan oleh sasaran khalayak yang dituju.
Artinya, sejak awal redaksi sudah menentukan siapa yang akan menjadi
pembacanya, apakah anak-anak, remaja, wanita dewasa, pria dewasa atau untuk
pembaca umum dari remaja sampai dewasa. Bisa juga sasaran pembacanya kalangan
profesi tertentu, seperti pelaku bisnis, atau pembaca dengan hobi tertentu,
seperti bertani, berternak dan memasak.
Majalah-majalah
yang terbit semasa orde baru dapat dikategorikan sebgai berikut:
a.
Majalah
berita :Tempo, Gatra, Sinar, Tiras.
b.
Majalah
keluarga :Ayahbundo,
Parenting, Good House Keeping
c.
Majalah
wanita :Femina,
Kartini, Cosmopolitan, Herworld,
Female, Cita Cinta.
d.
Majalah
pria :Matra,
FHM, Playboy, Maxim, Populer.
e.
Majalah
remaja wanita :Gadis,
Cosmogirl, Seventeen.
f.
Majalah
remaja pria : Hai
g.
Majalah
anak-anak :Bobo,
Ganesha, Girl, Fantasi.
h.
Majalah
ilmiah populer :Prisma,
National Geographic.
i.
Majalah
umum :Intisari,
Warnasari, Reader’s Digest.
j.
Majalah
hukum :Forum Keadilan.
k.
Majalah
pertanian :Trubus.
l.
Majalah
humor :Humor.
m. Majalah olah raga :Bolavaganza,
442, Golf Digest.
n.
Majalah
agama :Amanah
Ummat.
o.
Majalah
berbahasa daerah :Mangle(Sunda,Bandung),
Djaka ladang
(Jawa, Yokyakarta),
p.
Majalah
hobi :Fotoplus,
Snap (majalah fotografi), Mobilmotor, Motoplus (majalah otomotif), Cinemagz, Movie Monthly (majalah film).
q.
Majalah
musik :Trax, Rolling Stones, Ripple.
r.
Majalah
profesi :Majalah-Majalah yang diterbitkan oleh asosiasi profesi yang isinya spesifik mengenai profesi tersebut.
2.2.3 Fungsi majalah
[9]Mengacu pada sasaran khalayaknya yang spesifik, maka fungsi utama
media berbeda satu dengan yang lainnya. Majalah berita seperti Gatra mungkin
lebih berfungsi sebagai media informasi tentang berbagai peristiwa dalam dan
luar negeri, dan fungsi berikutnya adalah hiburan. Majalah wanita dewasa
Femina, meskipun isinya relatif menyangkut berbagai informasi dan tips masalah
kewanitaan, lebih bersifat menghibur. Fungsi informasi dan mendidik mungkin
menjadi prioritas berikutnya. Majalah pertanian Trubus fungsi utamanya adalah
memberi pendidikan mengenai cara bercocok tanam, sedangkan fungsi berikutnya
mungkin informasi.
2.2.4 Karakteristik Majalah
Majalah merupakan media yang paling
simpel organisasinya, relatif lebih mudah mengelolanya, serta tidak membutuhkan
modal yang banyak. Majalah juga dapat diterbitkan oleh setiap kelompok
masyarakat, dimana mereka dapat dengan leluasa dan luwes menentukan bentuk,
jenis dan sasaran khalayaknya. Meskipun sama-sama sebagai media cetak, majalah
tetap dapat dibedakan dengan surat kabar karena majalah memiliki karakteristik
tersendiri, yaitu:
a.
Penyajian
lebih dalam
Frekuensi terbit majalah pada umumnya adalah mingguan. Selebihnya
dwi mingguan, bahkan bulanan (1x sebulan). Majalah berita biasa terbit
mingguan, sehingga para reporternya punya waktu yang cukup lama untuk memahami
dan mempelajari suatu peristiwa. Mereka juga mempunyai waktu yang leluasa untuk
melakukan analisis terhadap peristiwa tersebut, sehingga penyjian berita dan
informasinya dapat dibahas secara lebih dalam. Analisis beritanya dapat
dipercaya dan didasarkan pada buku referensi yang relavan dengan peristiwa.
Sebagai contoh, berita kekerasan, korupsi, dan lain sebagainya, sudah kita baca
di surat kabar, kita dengar di radio siaran, kita tonton ditelevisi, tetap
dapat kita baca di majalah di sajikan lebih lengkap, karena dibubuhi latar
belakang peristiwa. Unsur why dikemukakan secara lengkap. Peristiwanya atau
proses terjadinya peristiwa 9unsur how) dikemukakan secra kronologis.
b.
Nilai
aktualitas lebih lama
Apabila nilai aktualitas surat kabar hanya berumur satu hari, maka
nilai aktualitas majalah bisa satu minggu. Sebagai contoh, kita akan mnganggap
usang surat kabar kemarin atau dua hari yang lalau bila kita baca saat ini.
Akan tetapi kita tidak pernah menganggap usang majalah yang terbit dua atau
tiga hari yang lalu. Sebagaimana kita alami bersaama, bahwa dalam majalah tidak
pernah dituntas sekaligus. Pada hari pertama mungkin kita hanya membaca topik
yang kita senangi atau topik yang relavan dengan profesi kita, hari esok dan
seterunya kta membaca topik lain sebagai referensi. Dengan demikian, amajalah
mingguan baru tuntas kita baca dalam tempo tiga atau empat hari.
c.
Gambar atau
foto lebih banyak
Jumlah halaman majalah lebih banyak, sehingga selain penyajian
beritanya yang mendalam, majlah juga dapat menampilkan gambar/foto yang
lengkap, dengan ukuran besar dan kadang-kadang berwarna, serta kualitas kertas
yang digunakannya pun lebih baik. Foto-foto yang ditampilkan majalah memiliki
daya tarik tersendiri, apalagi apabila foto tersebut sifatnya eksklusif.
Kematian tragis Putri Diana (Lady Di) yang diulas dalam majalah
dilengkapi dengan foto-foto sang putri dari sejak balita sampai dewasa, sejak
menjadi guru taman kanak-kanak sampai ketika dilamar pangeran Charles, dan foto
prosesi perkawinan mereka yang anggun dan mewah yang telah menerik perhatian
masyarakat dunia. Begitu juga foto-foto kenangan bersama kekasihnya Dodi Al
Fayed. Yang paling mengharukan adalah foto prosesi pemakamannya. Majalah mode
dan majalah hiburan, dalam setiap edisi menmpilkan foto para selebritas
(orang-orang terkenal), yang dapat dikoleksi oleh pembacanya karena kualitas
kertasnya yang sangat baik. Daya tarik foto sangat besar bagi pembacanya,
karena itu promosi majalah edisi terbaru seringkali menonjolkan foto.
d.
Kover
sebagai daya tarik
Disamping foto, kover atau sampul majalah juga merupakan daya
tarik tersendiri. Kover adalah ibarat pakaian dan aksesorisnya pada manusia.
Kover majalah biasanya mengguanakan kertas yang bagus dengan gambar dan warna
yang menarik. Menarik tidaknya kover suatu majalah sangat bergantung pada tipe
majalahnya, serta konsistensi atau keajegan majalah tersebut dalam menampilkan
ciri khasnya. Misalnya, kover majalah berita mingguan Gatra yang memiliki ciki
khas sisi sekeliling kover berwarna merah, menampilkan foto atau lukisan orang
yang menjadi fokus pemberitaan. Dalam hal ini kover mencerminkan isi dari
rubrik “laporan utama” majalah Gatra, dan dapat dipastikan bahwa laporan utama
itu diangkat dari peristiwa (berita) yang paling hangat dan menarik. Dengan
demikian secara sekilas pembaca akan mengetahui berita utama majalah Gatra.
Kover majalah wanita pada umumnya lebih mengutamakan nilai artistik dan
keindahan serta kecantikan wajah atau tubuh model bukan pelaku suatu peristiwa,
melaikan sebagai model untuk mempopulerkan tata rambut, pakaian, aksesoris masa
kini atau waktu-waktu tertentu, seperti natal dan tahun baru, juga idul fitri.
Sedangkan informasi materi lainnya dikemukakan secara tidak mencolok pada lahan
kosong dalam kover tersebut. Kover majalah Trubus dapat berupa buah-buahan yang
segar, mulus dan menarik yang memenuhi hampir seluruh permukaan kover. Dari
berbagai contoh tersebut, pada intinya dapat dikemukakan bahwa kover merupakan
salah satu faktor daya tarik suatu majalah yang menujukkan ciri suatu majalah,
sehingga secara sepintas pembaca dapat mengidentifikasi majalah tersebut.
2.3 Radio Siaran
Selama
hampir satu abad lebih keberadaannya, radio siaran telah berhasil mengatasi
persaingan keras dengan bioskop, rekaman kaset, televisi kabel, electronic games, dan personal caset
players. Radio telah beradaptasi dengan perubahan dunia dengan mengembangkan
hubungan saling menguntungkan dan melengkapi dengan media laninnya (Dominick. 2000: 242).[10]
Keunggulan
radio siaran adalah berada dimana saja, contoh ditempat tidur (ketika orang
akan tidur atau bangun tidur), di dapur, di jalanan, di dalam mobil, di kantor,
di pantai, dll. Radio memiliko kemampuan menjual bagi pengiklan yang produknya
dirancang khusus untuk khalayak tertentu.
Dalam membicarakan radio siaran,
kita perlu mengetahui sekilas sejarah radio siaran ditemtat lahirnya, yakni
Amerika Serikat dan Inggris. Radio siaran sebagai alat komunikasi ditemukan
setelah mesin cetak ditemukan. Donald McNicol dalam bukunya Radio’s Con-quest of Space menyatakan
bahwa “terkalahkannya” ruang angkasa oleh radio siaran dimulai pada tahun 1802
oleh Done dengan ditemukannya suatu
pesan (message) dalam jarak pendek
dengan menggunakan alat sederhana berupa kawat beraliran listrik.
2.3.1.
Radio Siaran Di Indonesia
a. Zaman
Belanda
Radio siaran pertama di
Indinesia (waktu itu bernama Nederlands Indie – Hindia Belanda), adalah
Bataviase Radia Vereniging (BRV) di Batavia (Jakarta tempo dulu) yang resminya
didirikan pada tanggal 16 Juni 1925 pada saat Indonesia masih dijajah Belanda
dan berstatus swasta.
b. Zaman
Jepang
Ketika Belanda menyerah
pada Jepang tanggal 8 Maret 1942, sebagai konsekuensinya, radio siaran yang
tadinya berstatus perkumpulan swasta dinonaktifkan dan diurus oleh jawatan
khusus bernama Hoso Kanri Kyoku, yang merupakan pusat radio siaran yang
berkedudukan di Jakarta serta mempunyai cabang-cabang yang dinamakan Hoso Kyoko
Bandung, Purwakarta, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya, dan Malang.
c. Zaman
Kemerdekaan
Proklamasi kemerdekaan
oleh Bung Karno dan Bung Hatta tidak dapat disiarkan langsung melalui radio
siaran karena radio siaran masih dikuasai oleh Jepang. Teks proklamasi
kemerdekaan Indonesia baru dapat disiarkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris
pukul 19.00 WIB, dan hanya dapat didengar oleh penduduk disekitar Jakarta. Baru
pada tanggal 18 Agustus 1945, naskah bersejarah itu dapat dikumandangkan ke
luar batas tanah air dengan resiko petugasnya diberondong senjata tentara
Jepang.
d. Zaman
Orde Baru
Sampai akhir tahun 1966
RRI adalah satu-satunya radio siaran di Indonesia yang dikuasai dan dimiliki
oleh pemerintah.Peran dan fungsi radio siaran ditingkatkan. Selain berfungsi
sebagai media informasi dan hiburan, pada masa orde baru radio siaran melalui
RRI menyajikan acara pendidikan dan persuasi. Pemerintah kemudian mengeluarkan
Peraturan PemerintahNo. 55 Tahun 1970 tentang Radio Siaran Non Pemerintah.
Karena jumlah radio siaran swasta niaga semakin lama semakain banyak, serta
fungsi dan kedudukannya penting bagi masyarakat, maka pada tahun 1974
stasiun-stasiun radio siaran swasta niaga berhimpun dalam wadah yang dinamakan
Persatuan Radio Siaran Swasta Niaga Indonesia, disingkat PRSSNI.
e. Zaman
Reformasi
Di era reformasi
bermunculan radio-radio siaran swasta. Menurut catatan PRSSNI, hingga tahun
2005 terdapat sekitar 900 radio siaran swasta yang menjadi anggota. Namun
banyak pula radio siaran swasta yang tidak terdaftar di PRSSNI karena sejak
reformasi, radio siaran tidak lagi diwajibkanmenjadi anggota PRSSNI.
Radio-radio tersebut mempunyai ewewnang untuk menyiarkan warta berita secara
mandiri dengan nama program yang berbeda-beda.
2.3.2 Radio
Siaran Sebagai The Fifth Estate
Radio siaran mendapat
julukan kekuatan kelima atau the fifth
estate , hal ini disebabkan radio siaran juga dapat melakukan fungsi
kontrol sosial seperti surat kabar, disamping empat fungsi lainnya yaitu
memberi informasi, menghibur, mendidik dan melakukan persuasi. Kekuatan radio
siaran dalam memengaryhi khalayak sudah dubuktikan dari masa ke masa di
berbagai negara. Salah satu contoh pada peristiwa pertempuran Surabata 10
November 1945, Bung Tomo dengan gayanya yang khasmelalui mikrofon “Radio
Pemberontak” berhasil membangkitkan semangat tempur, bukan saja di kalangan
pemuda-pemuda Jawa Timur, tetapi juga di daerah lainnya untuk melawan Belanda.( Effendy, 1990:
63.)[11]
a.
Daya Langsung
Daya langsung radio
siaran berkaitan dengan proses penyusunan dan penyampaian pesan pada
pendengarnya yang relatif cepat.
b.
Daya Tembus
Melalui benda kecil
yang namanya radio siaran, kita dapat mendengarkan siaran berita dari BBC di
London atau ABC di Australia. Dengan mudah kita memindahkan channel dari
stasiun radio siaran satu kepada stasiun radio siaran lainnya, padahal jarak
Indonesia dengan Inggris maupun Australia sangat jauh dan dipisahkan oleh
luasnya laut dan tingginta gunung. Dengan demikian radio siaran tidak mengenal
jarak dan rintangan.
c.
Daya Tarik
Daya tarik ini
disebabkan sifatnya yang serba hidup brkat tiga unsur yang ada padanya, yakni
musik, kata-kata dan efek suara (sound
effect).
2.3.3 Karakteristik
Radio Siaran
Mark W. Hall dalam buku
Broadcast Journalism mengemukakan bahwa perbedaan mendasar antara media cetak
dengan radio siaran ialah media cetak dibuat untuk konsumsi mata sedangkan
radio siaran untuk konsumsi telinga. Sebaliknya kita ingat kembali ciri-ciri
komunikasi massa yang membedakan media massa satu dengan media massa lainnya
adalah stimulasi alat indra.
a.
Auditori
Sifat auditori itu
sebagai konsekuensi dari radio siaran untuk didengar. Karena kemampuan
mendengar manusia itu terbatas, maka pesan komunikasi melalui radio siaran
diterima dengan selintas. Pendengar tidak akan dapat mendengar kembali
(rehearing) informasi yang tidak jelas diterimanya karena ia tidak bisa meminta
kepada komunikator atau penyiar untuk menulang informasi yang hilang tersebut
kecuali merekamnya.
b.
Radio is the Now
Ditinjau dari nilai
aktualitas berita, mestinya radio siaran dibandingkan dengan media massa lannya
adalah yang paling aktual. Selain hitungan waktunya dalam detik, proses
penyampaian pesannya lebih simple. Radio siaran juga seringkali melakukan
liputan langsung dari tempat kejadian. Dalam siaran, dikenal istilah rewriting
to update (Hall, 1974).[12]
c.
Imajinatif
Karena hanya indera
pendengaran yang digunakan oleh khalayak dan pesannya pun selintas maka radio
siaran dapat mengajak komunikannya untuk berimajinasi. Dengan kata lain
pendengar radio siaran bersifat imajinatif.
d.
Akrab
Sifat raduo siaran
lainnya adalah akrab atau intim. Seorang penyoar radio seolah-olah berada
didalam kamar pendengar, menemani pendengaryang sedang belajar atau mengerjalan
pekerjaan kantor, dll. Dengan akrab dan cekatan ia menghidangkan acara-acara
yang bervariasi, mulai dari acara yang informatifsampai acara-acara hiburan
yang menggembirakan.
e.
Gaya Percakapan
“Keep
it simple, keep it short, keep it conversational” (Newsom, 1985: 107) adalah rumus-rumus penulisan berita
radio. Penyiar radio seolah-olah bertamu ke rumah atau menemui pendengarnya di
mana pun mereka berada. Dalam keadaan demikian tidak mungkin ia berbicara
dengan semangat dan berteriak. Sekalipun pesannya didengar
oleh ribuan orang, tapi pendengar berada ditempat yang terpisahkandan bersifat
pribadi.[13]
f. Menjaga
Mobilitas
Kita
jarang mendengarkan radio siaran dengan cara duduk dan mendekatkan telinga pada
pesawat radio. Pada umumnya kita mendengarkan radio sambil melakukan aktivitas
lain seperti : mengendarai mobil, menyetrika baju, makan, menulis bahkan
berbicara dengan orang lain. Mobilitas pendengar terjaga, karena tidak
meninggalkan pekerjaan ketika mendengarkan radio.
2.4 Televisi
Dari semua media komunikasi yang
ada, televisilah yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia. 99% orang
Amerika memiliki televisi di rumahnya. Tayangan televisi mereka dijejjali
hiburan, berita dan iklan. Mereka menghabiskan waktu menonton televisi sekitar
tujuh jam dalam sehari (Agee, et. a.l 2001:
279).[14]
Tahun 1948 merupakan tahun penting
dalam dunia pertelevisian, dengan adanya perubahan dari televisi eksperimen ke
televisi komersial Amerika. Karena perkembangan televisi yang sangat cepat,
dari waktu ke waktu media ini memiliki dampak terhadap kehidupan masyrakat
sehari-hari.
2.4.1 Sejarah Singkat Televisi
Sebagaimana radio siaran, penemuan televisi telah melalui
berbagai eksperimen yang dilakukan oleh para ilmuwan akhir abad 19 dengan dasar
penelitian yang dilakukan oleh James Clark Maxmell dan Heinrich Hertz,serta
penemuan Marconi pada tahun 1890. Paul Nipkow dan William Jenkins melalui
eksperimennya menemukan metode pengiriman gambar melalui kabel (Heibert,
Ungrait, Bohn, 1975:283). Televisi sebagai pesawat transmisi dimulai pada tahun
1925 dengan menggunakan metode mekanisasi dari Jenkins. Pada tahun 1928 General Electronic Company mulai
menyelenggarakan acara siaran televisi secara reguler. Pada tahun 1939 Presiden
Fanklin D. Roosevelt tampil di layar televisi. Sedangkan siaran televisi
komersial di Amerika di mulai pada 1 September 1940.
2.4.2
Siaran Televisi di
Indonesia
Kegiatan
penyiaran melalui media televisi di Indonesia dimulai pada tanggal 24 Agustus
1962, bertepatan dengan dilangsungkannya pembukaan Pesta Olahraga se-Asia IV
atau Asean Games di Senayan. Sejak
itu pula Televisi Republik Indonesia yang disingkat TVRI dipergunakan sebagai
panggilan stasiun (station call)
hingga sekarang (Effendy, 1993:54). Selama tahun 1962-1963 TVRI berada di
udararata-rata satu jam sehari dengan segala kesederhanaannya.
TVRI
yang berada di bawah Departemen Penerangan pada saat itu, kini siarannya sudah
dapat menjangkau hampir selauruh rakyat Indonesia yang berjumlah sekitar 210
juta jiwa. Sejak tahun 1989 TVRI mendapat saingan televisi siaran lainnya,
yakni RCTI, SCTV, TPI, ANTV, Indosiar, TV7, Lativi, Metro TV, Trans TV, Global
TV, dan televisi-televisi daerah seperti Bandung TV, JakTV, BaliTV, dan
lain-lain.
2.4.3 Fungsi Televisi
Fungsi televisi
sam dengan fungsi media massa lainnya ( surat kabar dan radio siaran), yakni memberi informasi, pendidikan,
menghibur dan membujuk. Tetapi
fungsi menghibur lebih dominan pada media televisi sebagaimana hasil
penelitian-penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi
UNPAD, yang menyatakan bahwa pada umumnya tujuan utama khalayaknya menonton
televisi adalah untuk memperoleh hiburan, selanjutnya untuk memperoleh
informasi.
2.4.4
Karakteristik Televisi
Ditinjau
dari stimulus alat indra, dalam radio siaran, surat kabar dan majalah hanya
satu alat indra yang mendapat stimulus. Radio siaran dengan pendengaran, surat
kabar dan majalah dengan indra penglihatan.
- Audiovisual
Televisi
memiliki kelebihan, yakni dapat didengar sekaligus dapat dilihat (audiovisual).
Jadi apabila khalayak radio siaran hanya mendengar kata- kata, musik, dan efek
suara, maka khalayak televisi dapat melihat gambar yang bergerak.
- Berfikir
dalam Gambar
Pihak
yang bertanggung jawab atas kelancaran acara televisi adalah pengarah acara.
Ada dua tahap yang dilakukan dalam proses berpikir dalam gambar. Pertama adalah
visualisasi, dalam proses ini pengarah acara merangkai agar gambar memiliki
makna. Tahap kedua adalah penggambaran, yaitu merangkai gambar sedemikian rupa
sehingga mempunyai kontinuitas dan mengandung makna tertentu.
- Pengoperasian
Lebih Kompleks
Pengoperasian
televisi siaran lebih kompleks dan melibatkan banyak orang. Peralatan yang
digunakan pun lebih banyak dan untuk mengoperasikannya lebih rumit dan harus
dilakukan oleh orang yang terampil dan terlatih.
2.4.5 Faktor-faktor
yang Perlu Diperhatikan
Kita sudah membahas
menganai karakteristik suatu peristiwa (fakta dan opini) yang layak menjadi
berita, yakni bahwa fakta dan opini tersebut harus mengandung unsur penting dan
menarik. Begitupula pesan lainnya yang bertujuan menghibur. Tetapi pesan akan
di sampaikan melalui media televisi, memerlukanpertimbangan lain agar pesan
tersebut dapat di terima oleh khalayak sasaran. Faktor-faktor yg perlu
diperhatikan itu adalah pemirsa, waktu, durasi, dan metode penyajian.
- Pemirsa
Dalam
setiap bentuk komunikasi, melalui media apa pun komunikator akan mentesuaikan
pesan dengan latar belakang komunikannya. Namun untuk komunikasi melalui media
elektronik, khususnya televisi, faktor pemirsa perlu mendapat perhatian lebih.
Dalam hal ini komunikator harus memahami kebiasaan dan minat pemirsa baik yang
termasuk kategori anak-anak, remaja, dewasa mau pun orang tua. Hal ini
berkaitan dengan materi pesan dan jam penayangan.
- Waktu
Setelah komunikator mengetahui minat dan
kebiasaan tiap kategori pemirsa, langkah selanjutnya adalah menyesuaikan waktu
penayangan dengan minat dan kebiasaan pemirsa. Faktor waktu menjadi bahan
pertimbanfan, agar setiap acara dapat ditayang.
- Durasi
Durasi
berkaitan dengan waktu, yakni jumblah menit dalam setiap tayangan acara.
Misalnya, acara " Go Spot
" di RCTI berdurasi 30 menit. Acara
Liputan 6 pagi berdurasi 90 menit di SCTV, dan "Empat Mata" di Trans7
berdurasi 90 menit. Sedangkan acara-acara film biaoskop yang di putar dilayar
televisi pada umumnya berdurasi 120 menit, bahkan film india bisa lebih (mungkin
180 menit). Durasi madinga-masing acara disesyaikan dengan jenis acara dan
tutunan skrip atau naskah.yang penting, dengan durasi tertentu, tujuan acara
tercapai. Suatu acara tidak akan mencapai sasaran karena durasi terlalu singkat
atau trrlalu lama.
- Metode
penyajian
Telah
kita ketahui bahwa fungsi utama televisi menurut khalayak umumnya adalah untuk
menghibur, selanjutnya adalah informasi. Tetapi tidak berarti fungsi mendidik
dan membujuk dapat di abaikan. Fungsi non hiburan dan non informasi garus tetap
ada hkarna sama pentingnya bagi keperluan kedua pihak, komunikator dan
komunikan. Masalahnya sekaranf adalah bagaimana caranya agar fungsi mendidik
dan membujuk tetap ada, namun tetap di minari pemirsa. Caranya adalah dengan
mengemas pesan pesan dengan sedemikian rupa, menggunakan metode penyajian
tertentu dimana pesan no hiburan dpaat mengundan unsur hiburan. Misalnya
pemerintah melalui dipartemen agama ingin menyampaikan informasi mengenasi
syarat-syarat administrasi, serta prosedur yang harus dilaksanakan oleh umat
islam yg akan menunaikan ibadah haji, maka informasi itu akan lebih baik dan
dapat mencapai sasaran bila dikemas dalam bentuk sandiwara.
2.4.6 Trend Televisi
Sukses
suatu program acara pada media televisi seringkali di ikuti oleh stasiun televisi
lainnya dengan acara-acara yang sejenis. Hal ini dinamakan sebagai copyeat. Ada juga suatu acara yang sukses di negara
asalnya sehingga dibuat versi negara asalnya sehingga dibuat versi negara lain,
dinamakan franchise. Contoh acara-acara franchise adalah
"Who Wants To Be A Millionaire"( RCTI, Anteve) "indonesia
Idol" ( RCTI), "The Apprentice" ( Metro Tv), "Gong Show"( Trans TV), dan lain-lain. Sedangkan contoh acara-acara
copycat adalah "Hidayah" (Trans TV), "jalan ilahi( Trans 7),
"pintu Hidayah" ( RECTI) yang meniru " Rahasia Illahi"(TPI)
; "Rejeki Nomplok"(Trans 7), Lunas(SCTV), Tolong(SCTV). Dan sebagainya.
2.5 Film
Gambar bergerak (film) adalah bentuk
dominan dari komunikasi massa visual di belahan
dunia ini. Lebih dari ratusan juta orang menonton film di bioskop, film televisi dan film video laser setiap
minggunya. Di Amerika Serikat dan Ranada lebih dari satu juta tiket film
terjual setiap tahunnya (Agee, et. al., 2001: 364).[15]
Film Amerika diproduksi
di Hollywood. Film yang dibuat di sini membanjiri pasar global dan memengaruhi
sikap, perilaku dan harapan orang-orang di belahan dunia. Film lebih dahulu menjadi media hiburan
dibanding radio siaran dan televisi. Menonton film ke bioskop ini menjadi aktivitas populer bagi orang Amerika pada
tahun 1920-an sampai 1950-an.
Industri
film adalah industri bisnis. Predikat ini telah menggeser anggapan orang yang
masih meyakini bahwa film adalah karya seni, yang diproduksi secara kreatif dan memenuhi
imajinasi orang-orang
yang bertujuan memperoleh estetika (keindahan) yang sempurna. Meskipun pada kenyataannya adalah
bentuk karya seni, industri film adalah bisnis yang memberikan keuntungan,
kadang-kadang menjadi mesin uang yang seringkali, demi uang, keluar dari kaidah
artistik filtll itu sendiri (Dominick. 2000: 306).
2.5.1 Sejarah
Film
Film atau motion pictures ditemukan
dari hasil pengembangan prinsip-prinsip fotografi dan proyektor. Film yang
pertama kali diperkenalkan
kepada publik Amerika Serikat adalah The Life
of an American Fireman
dan film The Great Train Robbery yang
dibuat oleh Edwin S. Porter pada tahun 1903 (Hiebert,
Ungurait, Bohn, 1975:246). Tahun
1906 sampai tahun 1916 merupakan periode paling penting dalam sejarah perfilman di Amerika Serikat,
karena pada dekade
ini lahir film feature, lahir pula
bintang film serta pusat perfilman yang kita kenal sebagai Hollywood. Periode
ini juga disebut sebagai the age of
Griffith karena David Wark Griffith lah
yang telah membuat film sebagai media yang dinamis. Diawali dengan film The
Adventures of Dolly (1908) dan puncaknya film the Birth of a Nation (1915) serta film
Intolerance (1916). Griffith memelopori gaya bereakting yang lebih alamiah,
organisasi cerita yang makin baik, dan yang paling utama mengangkat film
sebagai media yang memiliki karakteristik unik, dengan gerakan kamera yang
dinamis, sudut pengambilan gambar yang haik, dan teknik editing yang baik
(Hiebert, Ungurait, Bohn, 1975: 246).
Pada periode ini
pula perlu dicatat nama Mack Sennett dengan Keystone Company, yang telah
membuat film komedi bisu dengan bintang legendaris Charlie Chaplin. Apabila film permulaannya merupakan film
bisu, maka pada tahun 1927 di Broadway
Amerika Serikat muncul film bicara yang pertama meskipun belum sempurna
(Effendy, 1993: 188).
2.5.2 Perfilman
di Indonesia
Dari
catatan sejarah perfilman di Indonesia, film pertama yang diputar berjudul Lady Van Java yang diproduksi di Bandung
pada tahun 1926 oleh David. Pada tahun 1927/1928 Krueger Corporation
memproduksi film Eulis Atjih, dan
sampai tahun 1930, masyarakat suguhi
film Lutung Kasarung, Si Conat dan Pareh. Film-film tersebut. merupakan film bisu dan diusahakan oleh
orang-orang Belanda dan Cina.
Film
bicara yang pertama bejudul
Terang Bulan yang dibintangi Roekiah
dan R. Mochtar berdasarkan naskah seorang penulis Indonesia Saerun. Pada saat
perang Asia Timur Raya di penghujung tahun 1941, perusahaan perfilman yang
diusahakan oleh orang Belanda
dan Cina
itu berpindah tangan kepada pemerintah
Jepang,
diantaranya adalah NV. Multi Film yang diubah menjadi Nippon
Eiga Sha, yang selanjutnya memproduksi film feature dan film dokumenter. Jepang telah memanfaatkan film
untuk media informasi dan propaganda. Namun,
tatkala bangsa Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaan nya,
maka pada
tanggal 6 Oktober 1945 Nippon Eiga Sha
diserahkan secara
resmi kepada Pemerintah Republik Indonesia.
Serah terima
dilakukan oleh
Ishimoto dari pihak Pemerintah
Militer Jepang kepada R.M.
Soetarto yang mewakili Pemerintah Republik Indonesia. Sejak tanggal 6 Oktober 1945 lahirlah berita Film Indonesia atau
BFI. Bersamaan dengan pindahnya Pemerintah
RI dari Yogyakarta, BFI pun pindah dan bergabung dengan Perusahaan Film Negara, yang pada akhirnya berganti nama menjadi Perusahaan Film Nasional (Effendy, 1999:
201-202).
2.5.3 Fungsi
Film
Fungsi edukasi
dapat tercapai apabila film nasional memproduksi
film-film sejarah yang objektif, atau film dokumenter
dan film yang diangkat dari kehidupan sehari-hari
secara berimbang.
2.5.4 Karakteristik
Film
Faktor-faktor
yang dapat menunjukkan karakteristik film adalah sebagai berikut:
- Layar
yang Luas/Lebar
Film
dan televisi sama-sama menggunakan layar, namun kelebihan media film adalah
layarnya yang berukuran luas. Saat ini ada layar televisi yang berukuran jumbo,
yang bisa digunakan pada saat-saat khusus dan biasanya di ruangan terbuka, seperti dalam pertunjukan musik dan
sejenisnya. Layar film yang luas telah memberikan keleluasaan penontonnya untuk
melihat adegan-adegan yang disajikan dalam film. Apalagi dengan adanya kemajuan
teknologi, layar film di bioskop-bioskop
pada umumnya sudah tiga dimensi, sehingga penonton seolah-olah melihat kejadian
nyata dan tidak berjarak.
- Pengambilan
Gambar
Sebagai
konsekuensi layar lebar, maka pengambilan gambar atau shot dalam film bioskop
memungkinkan dari jarak jauh atau extreme long shot, dan panoramic shot, yakni
pengambilan pemandangan menyeluruh. Shot tersebut dipakai untuk memberi kesan
artistik dan suasana yang sesungguhnya, sehingga film menjadi lebih menarik.
Perasaan kita akan tergugah melihat seseorang (pemain film) sedang berjalan di gurun pasir pada tengah
hari yang amat panas. Manusia yang berjalan tersebut terlihat bagai benda kecil
yang bergerak di tengah luasnya padang pasir. Di samping itu, melalui
pano-ramic shot, kita sebagai penonton dapat memperoleh sedikit gambaran,
bahkan mungkin gambaran yang cukup tentang daerah tertentu yang dijadikan
lokasi film sekalipun kita belum pernah berkunjung ke tempat tersebut.
Misalnya, kita dapat mengetahui suasana sekitar menara Effiel di Paris, air
terjun Niagara di Amerika serikat dan lain-lain. Sebaliknya, pengambilan gambar
pada televisi lebih sering
dari jarak dekat.
- Konsentrasi
Penuh
Dari
pengalaman kita masing-masing, di saat kita menonton film di bioskop, bila
tempat duduk sudah penuh atau waktu main sudah tiba, pintu-pintu ditutup, lampu
dimatikan, tampak di depan
kita layar luas dengan gambar-gambar cerita film tersebut.
Kita
semua terbebas dari gangguan hiruk pikuknya suara diluar karena biasanya
ruangan kedap suara. Semua mata hanya tertuju pada layar, sementara pikiran
perasaan kita tertuju pada alur cerita. Dalam keadaan demikian emosi kita juga
terbawa suasana, kita akan tertawa terbahak-bahak manakala adegan film lucu,
atau sedikit senyum dikulum apabila ada adegan yang menggelitik. Namun dapat
pula kita menjerit ketakutan bila adegan menyeramkan (biasanya anak-anak) dan
bahkan menangis melihat adegan menyedihkan. Bandingkan sekarang bila kita menonton televisi di rumah,
selain lampu yang tidak dimatikan, orang-orang di sekeliling kita berkomentar
atau hilir mudik mengambil minuman dan makanan, atau sedang melihat adegan seru
tiba-tiba pesawat telepon berbunyi, atau bel rumah berbunyi karena ada tamu,
ditambah Iagi dengan selingan iklan.
- Identifikasi
Psikologis
Kita
semua dapat merasakan bahwa suasana di gedung bioskop telah membuat pikiran dan
perasaan kita larut dalam cerita yang disajikan. Karena penghayatan kita yang
amat mendalam, seringkali secara tidak sadar kita menyamakan
(mengidentifikasikan) pribadi kita dengan salah seorang pemeran dalam film itu,
sehingga seolah-olah kita lah yang sedang berperan. Gejala ini menurut ilmu
jiwa sosial disebut sebagai identifikasi psikologis (Effendy, 1981: 192).
Apabila
hanya cara berpakaian yang banyak ditiru oleh penonton, tentu tidak masalah.
Tetapi, bila yang ditiru adalah cara hidup yang tidak sesuai dengan norma
budaya bangsa Indonesia, tentu akan menimbulkan masalah. Bagaimana jadinya,
bila pemuda-pemudi kita hidup bersama tanpa nikah dan menjalaninya dengan
perasaan tidak bersalah atau rikuh, seolah-olah perbuatan tersebut adalah wajar
dan sudah banyak dilakukan orang lain? Bila film jenis ini yang banyak diputar
di bioskop dengan frekuensi tinggi, maka hal ini akan merusak moral generasi
muda Indonesia. Efek inilah yang harus dihindari, caranya kita serahkan saja pada pemerintah melalui Badan Film dan
pihak-pihak lain yang terkait.
2.5.5 Jenis-Jenis
Film
Sebagai seorang komunikator adalah
penting untuk mengetahui jenis-jenis film agar dapat memanfaatkan film tersebut sesuai
dengan karakteristiknya. Film dapat dikelompokkan sebagai
berikut:
a. Film Cerita
Film cerita (story film), adalah jenis film yang mengandung
suatu cerita yang lazim dipertunjukkan di gedung-gedung bioskop dengan bintang
film tenar dan film ini didistribusikan sebagai barang dagangan. Cerita yang diangkat menjadi topik
film bisa berupa cerita fiktif atau berdasarkan kisah nyata yang dimodifikasi,
sehingga ada unsur menarik, baik dari jalan ceritanya maupun dari segi
gambarnya. Sejarah dapat diangkat menjadi film cerita yang mengandung informasi
akurat, sekaligus contoh teladan perjuangan para pahlawan. Cerita sejarah yang
pernah diangkat menjadi film adalah G.30
S PKI, Janur Kuning, Serangan Umum 1 Maret, dan yang baru-baru ini dibuat adalah
Fatahillah. Sekalipun film cerita itu fiktif, dapat saja bersifat mendidik
karena mengandung ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi.
b. Film Berita
Film berita atau newsreel
adalah film mengenai fakta, peristiwa yang benar-benar terjadi. Karena sifatnya
berita, maka film yang disajikan kepada publik harus mengandung nilai berita (news value). Kriteria berita itu adalah penting
dan menarik. Jadi berita juga harus penting atau menarik atau penting sekaligus
menarik. Film berita dapat langsung terekam dengan suaranya, atau film
beritanya bisu, pembaca berita yang membacakan narasinya. Bagi
peristiwa-peristiwa tertentu, perang, kerusuhan, pemberontakan dan sejenisnya,
film berita yang dihasilkan kurang baik. Dalam hal ini terpenting adalah
peristiwanya terekam secara utuh.
c. Film Dokumenter
Film dokumenter (documentary
film) didefinisikan oleh Robert Flaherty sebagai "karya ciptaan
mengenai kenyataan" creative treatment of actuality. Berbeda
dengan film berita yang merupakan rekaman kenyataan, maka film dokumenter
merupakan hasil interpretasi pribadi (pembuatnya) mengenai kenyataan tersebut.
Misalnya, seorang sutradara ingin membuat film dokumenter mengenai para
pembatik di kota Pekalongan, maka ia akan membuat naskah yang ceritanya
bersumber pada kegiatan para pembatik sehari-hari
dan sedikit merekayasanya
agar dapat menghasilkan kualitas film cerita dengan gambar yang baik. Banyak
kebiasaan masyarakat Indonesia yang dapat diangkat menjadi film dokumenter,
diantaranya upacara kematian orang Toraja, upacara ngaben di Bali. Biografi
seseorang yang memiliki karya pun dapat dijadikan sumber bagi dokumenter.
d. Film
Kartun
Film kartun (cartoon film) dibuat untuk konsumsi
anak-anak. Dapat dipastikan, kita semua mengenai tokoh Donal Bebek (Donald
Duck), Putri Salju (Snow White), Miki Tikus (Mickey Mouse) yang diciptakan oleh
seniman Amerika Serikat Walt Disney.
2.6 Komputer dan Internet
Komputer menurut ejaan aslinya computer berasal dari kata “to compute” yang artinya menghitung.
Jadi komputer bila diartikan secara harfiah adalah alat hitung. John C. Keegel
dalam bukunya yang berjudul “The Language of Computer Programming” mengatakan
bahwa “An electronic machine or device
for processing data,it can solve problems by accepting data, performing certain
operation data, and giving the result of these operation”, dan Edward Humby
dalam bukunya “Computers” mengatakan “An
electronic machine that processes data under the control of a stored program”.
Dari pernyataan tersebut dapat
disimpulkan bahwa komputer adalah alat elektronik yang dapat mengolah data
dengan perantaraan program dan memberikan hasil pengolahan. Dengan kata lain
komputer adalah alat pengolah data, bukan kalkulator. [16]
[17]Secara
harfiah interconnected networking
(internet) ialah rangkaian komputer yang terhubung satu sama lain. Hubungan
melalui suatu sistem antar perangkat komputer untuk lalu lintas data itulah
yang dinamakan network. Jadi,
komputer yang terhubung melalui jaringan dan saling berkomunikasi dengan waktu
dan wilayah tak terbatas disebut internet.
Lebih dari lima orang
Amerika dewasa menggunakan internet di rumah, kantor atau sekolah, dan di atas
10% menggunakannya setiap hari. Dari karaktiristik jenis kelamin hampir sama
banyaknya lekaki dan perempuan yang mengggunakan web (situs).
Bagaimana orang-orang
mengggunakan internet? Electronic mail
merupakan aktivitas mereka dalam internet. Situs juga menjadikan sumber
informasi untuk hiburan dan informasi perjalanan wisata. Pengguna internet
menggantungkan pada situs untuk memperoleh berita. Dua sampai tiga pengguna
internet mengakses situs untuk mendapatkan berita terbaru setiap minggunya
(Straubhar dan LaRose. 2000: 267).
Industri media komputer memiliki
beberapa bidang utama, antara lain: pabrik perangkat keras komputer, pembuat
perangkat lunak komputer (pembuatan program-program yang menjalankan mesin
komputer). Content Provider adalah
yang mengembangkan isi dan data base yang didistribusikan melalui jaringan
komputer. Dari perangkat lunak komputer terdapat Internet
Service Providers (ISPs), yakni perusahaan yang menjual akses
ke internet.
Bisnis perangkat keras komputer
terbagi menjadi empat bidang umum: (l)the
computer (terdiri dari supercomputers,
mainframes, minicomputers,
workstations, dan personal computers); (2) storage
devices (seperti disk
drives); (3) peripherals (seperti
printer dan modem); (4) komponen atau material komputer, misalnya untuk
merakit komputer.
Content
provider adalah orang-orang
atau perusahaan yang menciptakan
isi yang dapat dilihat pada layar komputer. Sejumlah content providers merupakan perkembangan dari pembuatan soft-ware. Misalnya Microsoft memiliki
majalah online, disebut Slate.
Perusahan computer
games adalah perpaduan antara software
dan content provider. Contoh provider lainnya yang sudah dikenal
sebagai perusahaan media massa papan atas seperti New York Time, majalah Time
dan jaringan televisi ESPN, Americana
online (Internet Service Providers/ISPs) bertindak sebagai content provider untuk penyebaran
informasi media massa melalui media maya (internet). Industri pelayanan
informasi ini, termasuk pula perusahaan yang membuat data base yang
didistribusikan melalui internet atau CD-Rom. Perusahaan papan atas bidang data
base ini adalah IBM,Dun Broadsheet dan Electronic Data System. Bagi orang-orang
yang memiliki home page pada World Wide Web (www), termasuk kepada
content provider. (Straubhaar dan LaRose. 2000: 268-269).
Menurut Laquey (1997), internet
merupakan jaringan longgar dari ribuan komputer yang menjangkau jutaan orang di
seluruh dunia. Misi awalnya adalah menyediakan sarana bagi para peneliti untuk mengakses data dari sejumlah
sumber daya perangkat keras komputer yang mahal. Namun, sekarang internet telah
berkembang menjadi ajang komunikasi yang sangat cepat dan efektif, sehingga
telah menyimpang jauh dari misi awalnya. Dewasa ini, internet telah tumbuh
menjadi sedemikian besar dan berdaya sebagai alat informasi dan komunikasi yang
tak dapat diabaikan.
Penggunanya kini
mencakup berbagai kalangan, para pengelola media massa (penerbit surat kabar
dan majalah, radio siaran dan televisi), penerbit buku, artis, guru dan dosen,
pustakawan, penggemar komputer dan pengusaha. Alasan penggunaannya pun beraneka
ragam, mulai sekadar untuk berkomunikasi hingga mengakses informasi dan data
yang penting.
Nilai yang ditawarkan
internet dapatlah dikiaskan sebagai sistem jalan raya dengan transportasi
berkecepatan tinggi yang memperpendek perjalanan, atau diibaratkan sebuah
perpustakaan yang dapat dikunjungi setiap saat, dengan kelengkapan buku, sumber
informasi, dan kemungkinan penelusuran informasi yang tak terbatas, atau
sebagai sebuah jamuan pesta semalam suntuk dengan penerima tamu ramah yang siap
menyambut kehadiran tamu undangan setiap saat.
Banyak kalangan bisnis
kini menyadari bahwa dengan menghubungkan jaringan perusahaan mereka ke
internet, mereka memperoleh akses seketika kepada para pelanggan. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa layanan online pada umumnya menciptakan suatu industri bernilai miliaran dolar,
dengan taksiran pertumbuhan 25% per tahun. Jadi, dapatlah dipahami bahwa para
penyedia layanan informasi kini berimigrasi ke internet.
Laju pertumbuhan jenis
sumberdaya yang terakses melalui
internet
sungguh mencengangkan. Istilah sumber daya menyatakan
Segala sesuatu yang dapat
mengakses pada internet, tak peduli di mana pun lokasinya.
Menurut LaQuey, yang
membedakan internet (dan jaringan global Iainnya) dari teknologi komunikasi
tradional adalah tingkat interaksi dan kecepatan yang dapat
dinikmati pengguna untuk menyiarkan pesannya. Tak ada media yang memberi setiap penggunanya
kemampuan untuk berkomunikasi secara seketika dengan ribuan orang.
Pada internet, kita dapat memeriksa berita cuaca
terakhir dan memesan berbagai barang dan layanan online kapan saja. Sebagai
contoh, kita dapat menelusuri buku panduan perumahan online untuk mencari rumah
baru yang berada ribuan mil jauhnya. Kita tidak perlu pergi dahulu ke kantor
perumahan terdekat. Kita dapat membentuk pendapat pribadi kita
berdasarkan sumbernya, bukan berdasarkan ringkasannya. Internet dapat Inembantu kita membuat keputusan yang cerdas. Internet
unggul dalam menghimpun
berbagai orang, karena geografis tak lagi menjadi pembatas. Berbagai orang dari
negara dan latar belakang yang berbeda dapat saling bergabung berdasarkan
kesamaan minat dan proyeknya.
Internet menyebabkan
terbentuknya begitu banyak perkumpulan antara berbagai orang dan kelompok;
jenis pada skala besar ini merupakan yang tak mungkin terwujud tanpa jaringan
komputer.
Konsep koloni digital dan budaya online memang masih cukup baru, namun konsep ini dengan segera akan menjadi pandangan hidup para penjelajah internet. Dalam dunia yang penuh kesibukan dengan suami-isteri sama-sama berkarir, dan bergaya hidup kerja-belajar, membangun berbagai kelompok minat dalam sebuah sekolah, lingkungan, atau kota sangatlah sulit. Masalah yang dihadapi masyarakat alam nyata antara lain kurangnya keterlibatan masyarakat setempat, geografi, dan berbagai jadwal yang kaku. Internet menerabas semua halangan ini. Dengan internet, kita lebih mudah ikut bergabung dalam sebuah diskusi yang sedang berlangsung dengan semua orang yang memunyai minat sama kapan saja kita mau, tak peduli di mana pun kita berada.
Sebagai contoh,
sekelompok profesional muda dan mahasiswa yang sibuk, di Seattle, Washington
memanfaatkan keluwesan internet dengan menggunakan daftar e-mail untuk memberi informasi kepada setiap orang tentang
pertandingan bola voli, wisata ski, dan hiburan malam di kota. Mereka juga
memeriksa berbagai laporan ski dan cuaca pada internet, dan berpartipasi dalam
suatu kelompok minat online
bola voli dan ski. Beberapa di antaranya rnelakukan perjalanan ke luar kota,
tetapi mereka tetap mengikuti berbagai peristiwa lokal dengan mengakses
internet; sekurang-kurangnya diperlukan seorang ternan yang penuh dedikasi
untuk memangil setiap anggotanya dan mengkoordinasikan semua aktivitas mereka. Tak satu pun dalam kelompok ini yang memunyai
waktu untuk bertindak sebagai direktur. Bagi mereka, internet telah menjadi
perkakas sosial yang sangat diperlukan.
Wartawan
pengadilan ahli mengolah informasi mengenai hukum. Wartawan olahraga ahli dalam
peraturan permainan olah raga.
Selama bertahun-tahun
Gedung Putih dianggap sumber berita paling bergengsi di kalangan wartawan. Pada
dasarnya peranan wartawan Gedung Putih ditentukan oleh peluangnya untuk
mendapatkan informasi dari Gedung Putih. Para wartawan yang pertamanya meliput Gedung Putih, dahulu
bergerombol di sekitar kantor presiden, memantau siapa yang datang untuk
bertemu dengan presiden dan siapa yang pergi setelah pertemuan itu.
Pada awal 1900-an,
Theodore Roosevelt merintis pertemuan resmi yang diadakan secara teratur dengan
para wartawan. Langkah yang diambilnya ini memberikan semacam status tertentu
pada para wartawan yang terlibat. Sejak itu, para wartawan Gedung Putih dapat
memperoleh informasi dari tangan pertama, sedangkan rekan-rekan yang bertugas
di Philadelphia, Chicago atau Los Angeles harus puas dengan informasi yang tiba
kemudian.
Bulan September 1993 -
Januari 1994, Gedung Putih mengelola lebih dari 220 ribu permintaan yang
dikirim melalui e-mail untuk mendapatkan informasi. Lebih dari 1600 dokumen
diterbitkan secara elektronik, termasuk laporan konferensi pers yang diadakan
presiden.
Gedung
Putih juga mendirikan perpustakaan swalayan elektronik yang melayani permintaan
akan dokumen pemerintah. Alhasil wartawan di Seattle memiliki peluang yang
tidak banyak berbeda dengan wartawan di Washington DC untuk memperoleh infromasi.
BAB
III
PENUTUP
3.2.
Kesimpulan
1. Media
massa merupakan salah satu alat dalam proses komunikasi massa karena mampu
menjangkau khalayak yang lebih luas dan relatif lebih banyak, heterogen, anonim, pesannya bersifat abstrak dan
terpencar. Media massa merupakan salah satu sarana untuk pengembangan
kebudayaan. Dengan adanya media massa masyarakat yang tadinya dapat dikatakan
tidak beradab dapat menjadi masyarakat yang beradab. Media massa dalam
masyarakat informasi, memiliki peranan sangat penting. Perkembangan teknologi
memungkinkan informasi dari belahan dunia lain sekali pun dapat diterima dalam
pangkuan khalayak dengan seketika.
2.
Secara garis besar media massa merupakan
“kekuatan keempat” (The Fourth Estate)
dalam menjalankan kontrol sosial terhadap masyarakat setelah lembaga eksekusit.
Media cetak meliputi surat kabar, majalah, tabloid, buku, newsletter, dan buletin. Sedangkan media elektronik meliputi radio,
televisi, internet, dan film. Media massa memiliki fungsi-fungsi yakni
menyiarkan informasi, mendidik, menghibur dan mempengaruhi.
3.2
Saran
1. Orang
tua harus mengontrol anak-anaknya dalam menonton setiap acara atau informasi
yang disajikan media massa, terutama untuk anak-anak yang masih dibawah umur
perlu didampingi
oleh orang tuanya.
2. Pihak
dari media massa harus lebih memperhatikan rubrik yang akan disajikan dan
sebaiknya menyajikan rubrik yang mendidik sehingga dapat memberi pengaruh yang
positif.
[1] Elfinaro Ardianto,Komunikasi
Massa suatu pengantar, (Bandung : Simbiosa Rekatama Media, 2015), hlm. 104.
[4] Elfinaro Ardianto,Komunikasi Massa Suatu Pengantar,
(Bandung: Simbiosa Rekatama Media,
2015), hlm 114
[6]Ibid, hlm 116
[7] Elfinaro Ardianto,Komunikasi
Massa Suatu Pengantar,(Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2015) ,hlm 118
[8]Ibid, hlm 119
[9]Ibid, hlm 120
[10] Elfinaro Ardianto,Komunikasi Massa Suatu Pengantar,(Bandung:
Simbiosa Rekatama Media, 2015) ,hlm 123
[14]
Elfinaro Ardianto,Komunikasi
Massa Suatu Pengantar,(Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2015) ,hlm 134
[15]
Elfinaro Ardianto,Komunikasi
Massa Suatu Pengantar,(Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2015) ,hlm 143
[16] F. Suryatmo dan Dedy Rusmadi, Pengetahuan Dasar Komputer, (Jakarta: PT. Rineka Cipta,2002),hlm.3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar