PENGELOLAAN BAHAN PUSTAKA DI
PERPUSTAKAAN MADRASAH
Oleh: M Hadi Pranoto, SIP.
PENDAHULUAN
Perkembangan
ilmu pengetahuan dewasa ini berjalan sangat cepat. Tiap waktu selalu muncul dan
terjadi perubahan tentang teori-teori ilmu pengetahuan. Hal ini dilatar-belakangi
oleh semakin banyaknya penelitian-penelitian yang dilakukan manusia dalam
rangka memenuhi kebutuhannya. Juga dipengaruhi oleh semakin dekatnya jarak konektifitas antar manusia disatu tempat
dengan tempat yang lainnya sebagai akibat dari pesatnya perkembangan teknologi
informasi.
Bagi
perpustakaan, pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan berdampak pada semakin
banyaknya jumlah informasi serta tingginya kebutuhan pemustaka akan informasi,
baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal ini juga berbanding lurus dengan
semakin banyaknya jumlah bahan pustaka yang perlu dimiliki oleh perpustakaan.
Perpustakaan perlu mengantisipasi perkembangan tersebut dengan cara
meningkatkan pemahaman dan kemampuan pustakawan dalam melakukan pengembangan
bahan pustaka di perpustakaan. Hal ini bertujuan agar perpustakaan dapat selalu
meningkatkan kualitas layanan kepada pemustaka.
Pengelolaan
bahan pustaka merupakan salah satu unsur penting dalam penyelenggaraan
perpustakaan. Selain itu, sebagian besar alokasi waktu dan sumber daya di
perpustakaan ada di bagian pengelolaan bahan pustaka. Dengan demikian, jika
pengelolaan bahan pustaka tidak dilakukan dengan baik dan benar maka
perpustakaan akan mengalami hambatan-hambatan dalam penyelenggaraan
perpustakaan.
Perpustakaan
Sekolah/Madrasah merupakan perpustakaan yang salah satu fungsi utama-nya adalah
mendorong minat baca siswa. Dengan minat baca yang baik, diharapakan prestasi
siswa juga menjadi baik. Jika sebagaian besar waktu dan sumber daya di
perpustakaan Sekolah/Madrasah tersita untuk pengelolaan bahan pustaka,
dikhawatirkan kegiatan yang berkaitan secara langsung dengan peningkatan minat
baca siswa menjadi terbengkalai. Oleh karena itu, perpustakaan sekolah perlu
menggunakan model pengelolaan bahan pustaka yang benar, efektif dan efisien.
Salah satu upaya agar pengelolaan
bahan pustaka di perpustakaan Sekolah/Madrasah dapat dilakukan dengan benar,
efektif dan efisien adalah dengan cara meningkatkan kemampuan/kompetensi
pengelola Perpustakaan (pustakawan) Sekolah/Madrasah.
Melalui Pembinaan ini, diharapkan kemampuan pengelola perpustakaan menjadi
lebih baik. Sehingga proses pengelolaan bahan pustaka di perpustakaan dapat
dilakukan secara efektif dan efisien dengan kualitas yang memuaskan.
PENGELOLAAN BUKU
PERPUSTAKAAN
Secara umum,
terdapat 5 tahapan penting dalam mengelola bahan pustaka di perpustakaan. Empat
tahapan tersebut ialah: pengembangan bahan pustaka, inventarisasi, klasifikasi,
katalogisasi, dan shelving.
Pengembangan
Bahan Pustaka
1.
Kebijakan pengembangan bahan pustaka
Kegiatan perpustakaan tidak dapat
terlepas dengan adanya kebijakan pada instansi di mana perpustakaan itu berada.
Dalam kebijakan pengembangan bahan pustaka harus memperhatikan aspek-aspek
berikut:
a.
anggaran;
b.
tujuan prioritas Sekolah/Madrasah;
c.
jenis pemustaka dan kebutuhannya;
d.
hubungan dengan perpustakaan atau pusat
dokumentasi lain;
e.
kekhususan;
f.
pustakawan/staf perpustakaan;
g.
bahasa;
h.
analisa bahan pustaka dan evaluasi;
i.
kendala pengembangan bahan pustaka.
Dalam mengembangkan bahan pustaka
di perpustakaan, terdapat dua kegiatan. Yaitu seleksi (pengadaan) dan
penyiangan.
Seleksi (pengadaan) bahan pustaka
1.
Prinsip seleksi
Pedoman dasar dalam seleksi bahan
pustaka yang harus dipahami oleh petugas seleksi (selektor) adalah:
a. Mengetahui
berbagai jenis bahan pustaka yang ada di pasaran;
b. Memahami
tujuan dan fungsi perpustakaan tempat ia bekerja;
c. Mengenal
kebutuhan perpustakaan sekolah;
d. Mengenal
prinsip-prinsip seleksi;
e. Mengenal
dan mampu menggunakan alat-alat bantu seleksi;
f. Memahami
berbagai kendala yang ada.
Dalam pemilihan bahan pustaka prinsip
yang harus ditaati oleh selektor adalah sebagai berikut:
a.
Memilih buku yang cocok dengan
masyarakat pemustaka;
b.
Tanpa membedakan suku, kebangsaan,
pekerjaan, agama, pendidikan dan
adat istiadat setempat;
c.
Sesuai dengan rencana dan anggaran
perpustakaan;
d.
Sedapat mungkin harus sesuai dengan standar kualitas isi, edisi dan format;
e.
Bahan pustaka harus dapat dimanfaatkan
masyarakat pemustaka;
f.
Mencakup berbagai bahan yang dapat
menunjang tujuan perpustakaan;
g.
Kualitas bahan pustaka perpustakaan merupakan
kesinambungan antara faktor-faktor tujuan perpustakaan dan permintaan
masyarakat;
h.
Tidak mengabaikan permintaan masyarakat
pemustaka;
i.
Mengetahui keadaan masyarakat
pemustaka;
j.
Bahan pustaka perpustakaan merupakan
sarana rekreasi aktif.
2.
Proses Seleksi
Ketentuan dalam proses seleksi tentang
bagaimana melakukan seleksi dan siapa yang berhak melakukan seleksi tergantung
dari jenis perpustakaan dan struktur organisasinya. Pada prinsipnya personalia
yang dapat melaksanakan seleksi bahan bahan pustaka pustaka, adalah:
a.
Pustakawan;
b.
Spesialis subjek termasuk guru;
c.
Komite sekolah;
d.
Kepala sekolah.
Untuk dapat melaksanakan seleksi bahan
bahan pustaka pustaka, selektor harus memenuhi kriteria sebagai berikut;
a.
menguasai sarana bibliografi;
b.
mengetahui latar belakang pemustaka
perpustakaan;
c.
mengetahui kebutuhan pemustaka;
d.
memiliki pengetahuan mengenai bahan
pustaka perpustakaan;
e.
bersifat netral.
3.
Prosedur Seleksi
Kegiatan
seleksi di suatu perpustakaan memperhatikan hal-hal sebagai berikut;
a.
fungsi / tujuan perpustakaan;
b.
ruang lingkup bidang yang akan dicakup;
c.
pemustaka yang dilayani.
Melalui
langkah sebagai berikut;
a.
mengumpulkan alat seleksi;
b.
memilih judul / seleksi;
c.
mencatat data judul terpilih ke dalam
kartu desiderata;
d.
melakukan pengecekan untuk menghindari
duplikasi;
e.
melakukan pengecekan kartu desiderata;
f.
membuat daftar pesanan;
g.
melakukan penerimaan.
4.
Jenis Alat Bantu Seleksi
Guna menjaga mutu bahan pustaka, dalam
pengadaan bahan pustaka perlu diadakan pemilihan atau seleksi. Untuk seleksi
bahan pusaka dibutuhkan alat bantu antara lain;
a.
Katalog penerbit
b.
Daftar buku IKAPI;
c.
Berita Bibliografi;
d.
Bibliografi Nasional Indonesia /
Bibliografi Daerah;
e.
Daftar buku berarnotasi dengan
rekomendasi;
f.
Daftar terbitan dari penerbit, instansi
atau lembaga pemerintah maupun swasta;
g.
dan lain-lain.
Penyiangan
Bahan Pustaka
1.
Pengertian
Penyiangan merupakan kegiatan
mengeluarkan bahan pustaka dari jajaran bahan pustaka yang ada di perpustakaan.
Seharusnya perpustakaan sekolah mengadakan penyiangan satu kali setahun, apabila
bahan pustakanya masih sedikit. Untuk perpustakaan sekolah yang besar sebaiknya
dilakukan setiap tiga tahun sekali agar beban pekerjaan tidak terlalu berat.
2.
Kriteria Penyiangan
Bahan
pustaka yang disiangi harus berdasarkan pada kriteria penyiangan sebagai
berikut:
a. Kondisi
Fisik Bahan pustaka
Bahan
pustaka yang sudah rusak sekali, robek, tidak lengkap, huruf terlalu kecil,
kualitas suara sudah jelek (kaset), piringan hitam dengan goresan dan
sebagainya. Jika dari segi isi bahan tersebut masih berguna maka perlu
diusahakan penggantinya misalnya kopi baru, judul sama tetapi dalam bentuk lain
seperti microfilm atau judul serupa (alih media).
b.
Isi
Isi
yang sudah ketinggalan jaman, data tidak akurat lagi, tidak bermanfaat, karena
ada perubahan dalam kurikulum atau program studi, sudah ada edisi baru, tidak
sesuai lagi dan dilihat dari segi minat pemustaka nilai instriktik tidak ada
lagi, dan sebagainya, bahan pustaka tersebut perlu dikeluarkan.
c.
Penggunaan
Bahan
pustaka yang kurang dipakai atau sudah lama tidak dipakai. Dasar untuk
mengeluarkan bisa dilihat dari statistik penggunaan atau peminjaman dari bagian
sirkulasi.
d.
Duplikasi
Jika
jumlah eksemplar suatu judul bahan pustaka cukup banyak, maka bahan pustaka
tersebut layak untuk dilakukan penyiangan. Kecuali jika rasio pemustaka
pengguna bahan pustaka tersebut memang sesuai (banyak).
Inventarisasi
Bahan pustaka yang
ada di perpustakaan
biasanya berasal dari
pembelian, sumbangan, hadiah atau
tukar menukar. Sebelum
bahan pustaka digunakan
haruslah terlebih dahulu didaftarkan
dalam buku induk
perpustakaan. Kegiatan
pendaftaran koleksi inilah yang
disebut inventarisasi bahan pustaka. Kegiatan inventarisasi bahan pustaka ini
dapat dilakukan secara
manual atau elektronik. Yang membedakan keduanya yaitu pada media yang
digunakan dalam proses pencatatan data koleksi. Bila dilakukan secara manual, proses pencatatan data koleksi dilakukan secara
manual ke dalam buku induk
atau buku inventaris. Pada inventarisasi
bahan pustaka yang dilakukan secara
elektronik, proses pencatatan
data koleksi menggunakan
bantuan komputer.
Pada intinya, kegiatan
inventarisasi bahan pustaka
itu adalah kegiatan pencatatan semua
bahan pustaka milik perpustakaan yang
dilakukan oleh petugas perpustakaan
atau pustakawan. Kegiatan inventarisasi
bahan pustaka bila dijabarkan
terdiri dari tiga
tahap, yaitu: 1).
Pemberian cap/ stempel kepemilikan perpustakaan, 2).
Pemberian nomor inventaris buku/ nomor induk buku ,
dan 3) Pencatatan
data koleksi ke
dalam buku induk
atau buku inventaris.
Contoh
format buku induk untuk buku:

Garis besar
pencatatan mencakup:
a.
Pencatatan
harus berdasarkan kronologis menurut tanggal penerimaan
b.
Buku
induk terdiri dari kolom dan lajur tertentu, diisi sesuai dengan bahan pustaka
yang diterima
c.
Tiap
buku mempunyai satu nomor induk
d.
Tiap
tahun buku induk dapat dimulai dengan nomor baru, tetapi juga dapat dilanjutkan
dari tahun ke tahun
e.
Jika bukunya hilang, dicatat pada kolom
keterangan.
Klasifikasi
Klasifikasi adalah
kegiatan pengelompokkan bahan pustaka/koleksi
berdasarkan ciri-ciri yang sama dan memisahkan bahan pustaka/koleksi
yang mempunyai ciri yang berbeda, misalnya ciri kepengarangan, ciri bentuk
fisik, ciri subyek, dan sebagainya.
Pada dasarnya di
perpustakaan dikenal dua jenis klasifikasi, yaitu
1. Klasifikasi artifisial (artificial classification) adalah
klasifikasi bahan pustaka berdasarkan ciri-ciri yang ada pada bahan pustaka,
misalnya berdasarkan warna kulit buku,
ukuran, dan sebagainya.
2. Klasifikasi fundamental (fundamental classification) adalah
klasifikasi bahan pustaka berdasarkan subjek/isi bahan pustaka.
Pengelompokkan bahan pustaka
berdasarkan sistem ini mempunyai beberapa keuntungan,
diantaranya:
- Bahan pustaka yang subyeknya sama atau hampir sama, letaknya berdekatan.
- Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menilai koleksi yang dimiliki dengan melihat subyek mana yang lemah dan mana yang kuat.
- Menudahkan pemakai dalam menelusur informasi menurut subyeknya.
- Memudahkan pembuatan bibliografi menurut pokok masalah.
- Untuk membantu penyiangan atau weeding koleksi.
Cara yang kedua
inilah yang banyak digunakan di perpustakaan, karena sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan.
Sistem Klasifikasi
Terdapat beberapa
system klasifikasi di dunia perpustakaan, namun yang umum digunakan adalah
sebagi berikut:
a. Dewey Decimal Classifications (DDC)
Klasifikasi Persepuluhan Dewey mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan
yang disusun secara sistimatis dan teratur. Pembagian ilmu pengetahuan dari
yang bersifat umum kemudian yang bersifat khusus.
Sistem klasifikasi ini banyak digunakan di Amerika Serikat dan di
Indonesia
b. Universal Decimal Classification (UDC)
Klasifikasi ini merupakan system klasifikasi persepuluhan yang teliti
dan universal. Sistem ini mencakup semua cabang ilmu pengetahuan yang dibagi
menjadi sepuluh cabang dan dinyatakan dalam pecahan persepuluhan (desimal).
c. Library of Congress Classification (LCC)
Klasifikasi ini menggunakan notasi kombinasi huruf dan angka, mempunyai
indeks sendiri-sendiri, tetapi belum ada indeks secara keseluruhan.
Analisis
Subyek
Sebelum melakukan
klasifikasi, langkah awal adalah melakukan analisis subyek, yaitu proses
meneliti, mengkaji dan menyimpulkan isi yang dibahas dalam suatu bahan pustaka.
Terdapat 2 hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan analisis subyek:
1. Jenis Konsep
Dalam bahan pustaka dapat dikenali 3 (tiga) jenis konsep, yaitu:
- Displin ilmu, yaitu istilah yang digunakan untuk satu bidang atau cabang ilmu pengetahuan (misal: Hukum, Ekonomi, Kedokteran, dan sebagainya).
a) Disiplin Fundamental. Meliputi bagian-bagian utama ilmu pengetahuan.
Oleh para ahli disiplin fundamental
dikelompokkan menjadi 3 yakni ilmu-ilmu sosial, ilmu -ilmu pengetahuan alam , dan ilmu-ilmu
kemanusiaan.
b) Sub disiplin, merupakan bidang spesial dalam satu disiplin
fundamental. Misalnya dalam disiplin ilmu fundamental alam, sub
disiplinnya terdiri atas fisika, kimia,
biologi, dsb.
- Fenomena (topik yang dibahas) merupakan wujud/benda yang menjadi obyek kajian dari disiplin ilmu. Misalnya: Sejarah Nabi, “Sejarah” merupakan disiplin ilmu dan “Nabi” merupakan obyek atau fenomena yang dikaji oleh disiplin ilmu sejarah.
- Bentuk, merupakan cara bagaimana suatu subyek disajikan. Dalam hal ini dibedakan 3 (tiga) bentuk:
1) Bentuk fisik, yakni medium atau sarana yang digunakan dalam menyajikan
suatu subyek. Misalnya: dalam bentuk buku, majalah, pita rekaman, dsb.
2) Bentuk penyajian, yakni bentuk yang menunjukkan pengaturan atau
organisasi isi bahan pustaka. Ada 3 (tiga) bentuk penyajian, yaitu:
·
Menggunakan lambang-lambang dalam
penyajiannya, seperti bahasa, gambar, dan lain-lain.
·
Memperlihatkan tata susunan
tertentu, misalnya abjad, kronologis, sistematis, dan sebagainya.
·
Penyajiannya untuk kelompok
tertentu, misalnya “Resep memasak untuk pemula”, “psikologi untuk remaja’.
Kedua bahan pustaka tersebut adalah mngenai ‘masakan’ dan ‘psikologi’, bukan
mengenai ‘pemula’ dan ‘remaja’
3) Bentuk intelektual, yakni aspek yang ditekankan dalam pembahasan suatu
subyek, misalnya ‘filsafat islam’, disini yang menjadi subyeknya adalah ‘islam’
sedangkan ‘filsafat’ adalah bentuk intelektual atau tekanan dalam pembahasan
subyek islam.
Contoh-contoh:
“Kamus peternakan”
Analisis subyeknya:
Pertanian ======> Disiplin ilmu
Peternakan ======> Fenomena
Kamus ======> Bentuk
2. Jenis Subjek
Pada dasarnya ada 4 (empat) jenis subyek, yaitu:
1) Subyek dasar, yaitu subyek yang hanya terdiri dari satu disiplin ilmu
atau sub disiplin ilmu saja.
Misalnya:
“Pengantar ilmu fikih” yang menjadi subyek dasarnya “fikih”.
“Bunga Rampai Bahasa Indonesia” yang menjadi subyek dasarnya “Bahasa
Indonesia”
2) Subyek sederhana, yaitu subyek yang terdiri dari satu subyek dasar
disertai satu fenomena.
Misalnya:
“Penyakit jantung koroner” subyek dasarnya
‘kedokteran’ dan fenomenanya ‘Penyakit jantung’
3) Subyek majemuk, yaitu subyek yang terdiri dari subyek dasar disertai
dua atau lebih fenomena.
Misalnya:
“Hukum syariah di Indonesia” subyek dasarnya ‘Hukum’ dan fenomenanya
‘syariah’ dan ‘Indonesia’
4) Subyek kompleks, yaitu subyek yang terdiri dari dua atau lebih subyek
dasar dan saling berinteraksi antara satu dengan yang lain.
Misalnya:
“ Ekonomi Pertanian” subyek dasarnya ‘Ekonomi’
dan ‘Pertanian’
Cara Praktis Menentukan Subyek Suatu Bahan
Pustaka
Untuk mengetahui subyek
suatu bahan pustaka
dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah praktis berikut:
1.
Melalui Judul,
dengan melihat, mempelajari
dan memahami judulnya
saja suatu bahan pustaka
sudah dapat ditentukan
subyeknya. Namun cara ini tidak
dapat dilakukan pada semua bahan koleksi.
2.
Melalui daftar isi, jika melalui
judul kita belum dapat
mengetahui subyeknya, maka dengan melihat daftar isi bahan pustaka
tersebut dapat diketahui subyeknya.
3.
Kata pengantar atau pendahuluan. Dengan
membaca pengantar atau
pendahuluan, kita dapat mengetahui subyek suatu bahan pustaka. Karena beberapa
pengarang menyebutkan inti atau topik dan ruang lingkup sebuah bahan pustaka
dalam kata pengantar.
4.
Daftar bahan pustaka
atau bibliografi, dapat digunakan dalam menentukan subyek dari sebuah bahan
pustaka.
5.
Jika melalui
langkah-langkah di atas
masih belum membantu
menetapkan subyek bahan pustaka,
maka hendaklah dengan
membaca sebagian atau
keseluruhan dari isi karya tersebut.
6.
Atau
menggunakan sumber lain,
seperti: Bibliografi, katalog,
kamus, biografi, ensiklopedi, tinjauan buku dan sebagainya.
7.
Dan
jika masih juga belum dapat membantu
menentukan subyek bahan pustaka, hendaknya menanyakan kepada orang yang ahli di
bidang subyek tersebut (subject
specialist).
Tajuk Subyek
Tajuk subyek dalam
ilmu perpustakaan adalah frase atau kosakata yang terkendali dan berstruktur
yang digunakan untuk menyatakan topik suatu bahan pustaka. Tajuk subyek
biasanya berupa kata benda, kata benda dengan kata sifat, frase atau bentuk
lainnya.
Klasifikasi Persepuluhan Dewey (DDC)
Klasifikasi
persepuluhan Dewey ( Dewey Decimal Classification) yang lebih dikenal
dengan singkatan DDC merupakan skema klasifikasi perpustakaan modern yang
banyak digunakan di dunia termasuk di Indonesia. Skema klasifikasi ini disusun
oleh Melvyl Dewey dari Amerika Serikat, edisi pertama terbit tahun 1876.
Prinsip dasar pembagiannya disebut
desimal. Hal ini dikarenakan DDC membagi semua ilmu pengetahuan ke dalam 10
kelas subyek utama dengan notasi 000 sampai 900. begitu seterusnya setiap
pembagian kelas diuraikan 10 bagian subyek yang lebih khusus.
Pada prinsipnya DDC memiliki ciri-ciri
umum:
a. DDC merupakan klasifikasi ilmu pengetahuan yang melakukan pembagian
subyek secara hirarkis, artinya pembagian subyek dari umum ke khusus.
b. DDC menggunakan prinsip desimal, artinya DDC membagi semua bidang ilmu
pengetahuan ke dalam 10 kelas utama.
c. DDC hanya mampu memberikan notasi kelas bagi satu subyek. Dalam
menghadapi subyek bahan pustaka yang lebih dari satu, DDC harus memilih salah
satu subyek yang paling dominan.
BAGAN DDC
|
KELAS UTAMA
|
DIVISI
|
SEKSI
|
|
000 - Karya
Umum
100 -
Filsafat
200 - Agama
300 -
Ilmu-ilmu Sosial
400 - Bahasa
500 -
Ilmu-ilmu Murni
600 -
Teknologi
700 - Kesenian
800 -
Kesusasteraan
900 -
Geografi dan Sejarah umum
|
600 -
Teknologi
610 - Ilmu
Kedokteran
620 - Ilmu
Teknik
630 -
Pertanian dan Teknologi
yang Berkaitan
640 -
Kesejahteraan Rumah
Tangga
650 -
Manajemen
660 -
Industri dan Teknologi Kimia
670 -
Pengolahan Bahan Industri
dalam Pabrik
680 -
Industri Lain
690 -
Bangunan
|
630 -
Pertanian dan teknologi yang
berkaitan
631 -
Teknik, prosedur, alat-alat
632 -
Kerusakan, penyakit, dan
hama pertanian
633 - Tanaman
ladang
634 -
Tanaman buah-buahan,
kehutanan
635 -
Hortikultura, sayur-sayuran
636 -
Peeternakan
637 -
Industri pengolahan susu
638 -
Pemeliharaan serangga
639 -
Perkebunan, perikanan,
konservasi
|
Katalogisasi
NS Sutarno dalam bukunya
Manajemen Perpustakaan (2006: 182) menyatakan bahwa; “Katalogisasi adalah
kegiatan membuat dekripsi data bibliografi suatu bahan pusta menurut aturan
tertentu”. Selanjutnya Sutarno NS membagi katalogisasi menjadi 3 bagian yaitu:
1.
Katalogisasi sederhana, adalah
kegiatan katalogisasi yang hanya mencantumkan informasi data bibliogafis,
tingkat (level) 1 berdasarkan Anglo American Kataloging Rules (AACR II) yaitu:
judul asli, pengarang, edisi, penerbit, tempat terbit, dan nomor standar
seperti International Standard Book Number(ISBN).
2.
Katalogisasi kompleks, adalah
kegiatan katalogisasi yang mencantumkan informasi data bibliografis tingkat 1
ditambah antara lain judul paralel, judul-judul seri, judul terjemah, dan
pengarang tambahan.
3.
Katalog salinan adalah kegiatan
menyalin data bibliografi bahan pustaka dari sumber bibliografi lain dengan
atau tanpa menambah informasi yang diperlukan.
Karalogisasi
kompleks
Katalogisasi
kompleks, adalah kegiatan katalogisasi yang mencantumkan informasi data
bibliografis tingkat 1 ditambah antara lain judul paralel, judul-judul seri,
judul terjemah, dan pengarang tambahan. Dalam melakukan katalogisasi kompleks,
pengelola perpustakaan perlu mengetahui perbedaan antara katalogisasi sederhana
dan katalogisasi kompleks.
Perbedaan
katalogisasi sederhana dan kompleks dapat digambarkan pada tabel sebagai
berikut:
Tabel 1. Tabel perbedaan katalogisasi
sederhana dan kompleks
|
NO
|
DESKRIPSI
|
SEDERHANA
|
KOMPLEKS
|
|
1
|
Daerah judul dan penanggung jawab/kepengarangan
|
Hanya Judul utama/asli saja
|
Judul utama disertai judul pararel / judul seri /
judul terjemahan
|
|
Hanya 1 orang pengarang saja
|
Lebih dari 1 orang pengarang, (termasuk editor,
penerjemah, dll)
|
||
|
2
|
Daerah edisi
|
|
Edisi & Cetakan
|
|
3
|
Daerah penerbitan (impresum)
|
·
Kota terbit
·
Nama Penerbit
·
Tahun terbit
|
·
Kota terbit
·
Nama Penerbit
·
Tahun terbit
|
|
4
|
Daerah deskripsi fisik (Kolasi)
|
|
·
Halaman
·
Ilustrasi
·
Ukuran
·
Bahan yg disertakan
|
|
5
|
Daerah Seri
|
Sesuai keadaan
|
Sesuai Keadaan
|
|
6
|
Daerah Catatan
|
Sesuai keadaan
|
Sesuai Keadaan
|
|
7
|
Daerah ISBN, Jilid dan Harga
|
Sesuai keadaan
|
Sesuai keadaan
|
Tujuan
Katalogisasi
Membantu pemakai
perpustakaan memperoleh
informasi yang cepat
dan tepat melalui pengarang,
judul atau subyek.
Fungsi
Katalogisasi
Fungsi katalogisasi
di perpustakaan antara lain sebagai berikut:
1.
Sebagai wakil dokumen yang
dimiliki perpustakaan.
2.
Alat temu kembali inforrrtasl (lnformation Retrieval).
3.
Membantu dalam pemilihan bahan
pustaka
Sumber
Informasi untuk katalogisasi
1.
Halaman Judul
2.
Halaman Verso (halaman dibalik
halaman judul)
3.
Kata Pengantar
4.
Daftar Isi
5.
Halaman Belakang/Kolopon (Colophon)
6.
Jaket Buku
7.
Informasi lain
Bentuk
Katalog
Bentuk fisik
berkembang sesuai dengan perkembangan jaman, maka bentuk katalog ini
berkembang antara lain :
1.
Buku katalog (book catalog) yaitu kumpulan lembar katalog yang kemudian
dijilid sehingga berbentuk buku;
2.
kartu katalog (card catalog) biasanya dibuat dari bahan
karton kertas tebal dengan ukuran
standard international 12,5 X 7,5 cm. Dibagian tengah bawah kartu dibawah kartu
dibuatkan lubang agar dapat dilewati kawat sebagai penekan dan pengaman
kartu bila kartu tersusun dalam laci
katalog;
3.
katalog bentuk lembaran (sheat
catalog);
4.
Katalog terpasang (OPAC = Online Public Access Catalogue).
Garis
Besar Susunan Elemen Deskripsi
Garis besar berikut
menunjukkan susunan daerah deksripsi dengan elemennya serta tanda-tanda baca
yang sudah ditentukan untuk mengawali tiap elemen.
Tabel 2. Tabel tanda baca (elemen) deskripsi
bibliografi
|
NO
|
DAERAH
|
TANDA
BACA
|
ELEMEN
|
|
1
|
Daerah judul dan pernyataan
tanggung jawab
|
|
Judul sebenarnya
|
|
[ ]
|
Pernyataan jenis bahan umum
|
||
|
=
|
Judul paralel
|
||
|
:
|
Judul lain, judul tambahan atau
anak judul
|
||
|
/
|
Pernyataan tanggung jawab pertama
|
||
|
;
|
Pernyataan tanggung jawab kedua
|
||
|
2
|
Daerah Edisi
|
.--
|
Pernyataan edisi
|
|
/
|
Pernyataan tanggung jawab pertama
sehubungan dengan edisi tersebut
|
||
|
;
|
Pernyataan tanggung jawab kedua
|
||
|
3
|
Daerah Data Khusus
|
.--
|
Hanya untuk peta, penerbitan
berseri, musik dan file komputer
|
|
4
|
Daerah terbitan dan penyaluran /
pengedaran
|
.--
|
Tempat terbit, penyalur, pengedaran
(kota pertama)
|
|
;
|
Kota kedua
|
||
|
:
|
Nama penerbit, penyalur,
distributor
|
||
|
[ ]
|
Pernyataan fungsi penerbit,
distributor
|
||
|
,
|
Tahun terbitan, penyaluran,
pengedaran
|
||
|
(
|
Tempat pembuat
|
||
|
:
|
Nama pembuat
|
||
|
,
|
Tahun pembuatan - diikuti oleh
tanda kurung tutup
|
||
|
5
|
Daerah deskripsi fisik (dimulai
pada paragraph baru atau diawali, --)
|
.--
|
Jumlah satuan dan jenis bahan
|
|
:
|
Data fisik lain, misalnya Jenis
rekaman, Warna dan sebagainya (sesuai dengan bahan yang dideskripsikan)
Ukuran
|
||
|
:
|
Pernyataan bahan yang
diikutsertakan
|
||
|
+
|
(lampiran)
|
||
|
6
|
Daerah seri (dicatat dalam kurung
biasa)
|
.--
|
Pernyataan judul seri
|
|
=
|
Judul paralel seri
|
||
|
:
|
Keterangan judul lain
|
||
|
/
|
Pernyataan penanggung jawab pertama
berkaitan dengan seri
|
||
|
;
|
Penanggung jawab tambahan
|
||
|
,
|
Nomor standar seri (ISSN)
|
||
|
;
|
Nomor seri
|
||
|
.
|
Pernyataan judul sub seri
|
||
|
7
|
Daerah catatan
|
|
|
|
8
|
Daerah nomor standar, harga serta
syarat-syarat penjualan/penyaluran (dimulai pada paragaf baru atau diawali)
|
.--
|
Nomor standar Judul ringkas Harga
dan syarat penjualan/penyaluran
|
Deskripsi
Bibliografi Monograf (Buku)
Sebelum membuat
deskripsi bibliografi perlu disadari bahwa pembuatan deskripsi bibliografi
jenis bahan pustaka buku tidak sama dengan bahan pustaka lainnya. Disamping itu
perlu memahami cara menentukan tajuk entri utama, karena akan mempengaruhi
dalam memilih format katalog tersebut.
1.
Daerah judul dan penanggung
jawab/kepengarangan
a.
Judul
Informasi judul diperoleh pada halaman judul dan ditulis seperti yang
tertera pada halaman judul, namun yang memakai huruf besar hanya pada huruf
pertama, atau berupa nama kota/negara/orang. Apabila judul terlalu panjang
dapat disingkat/dipotong dengan memberi tanda titik tiga (...) tanpa mengurangi
arti esensial.
Judul paralel dicantumkan menurut urutan yang terdapat dalam halaman
atau menurut keadaan cetakan halaman judul dengan diberi tanda ( = ). Contoh :
Hukum pidana = Penal Law / Fakultas Hukum Universitas Tanjung Pura Informasi
judul lain / anak judul dicantumkan sesudah judul biasa atau judul paralel
Contoh : Kepustakawanan Indonesia : potensi dan tantangan/ editor
Antonius Bangun [et.al.]
b.
Kepengarangan
Keterangan kepengarangan ditulis seperti yang tertera pada halaman
judul atau di salah satu tempat pada publikasi tanpa mencantumkan gelar
akademik. Bila keterangan kepengarangan tidak diambil dari halaman judul , maka
penulisannya dimasukkan dalam kurung siku [ ]. Bila pengarang lebih dari satu
dan memiliki kedudukan yang sederajat, maka antara pengarang satu dengan
lainnya diberi tanda koma ( , ) . Apabila setelah pengarang utama ada
penerjemah, editor, ilustrator dll, yang mempunyai kedudukan tidak sama, maka
diberi tanda titik koma ( ; ).
2.
Daerah Edisi
Dalam menentukan apakah suatu keterangan merupakan suatu edisi atau
tidak, yang dilihat adalah adanya kata "edisi" atau yang identik
dengannya.
Contoh : First edition ditulis 1st. ed.
Abridged ed, 2nd ed.
Cet.4
4th
ed.
3.
Daerah Penerbitan (Impresum)
Keterangan impresum menujukkan dimana buku diterbitkan/kota terbit,
nama penerbit, dan tahun terbit.
a.
Tempat terbit
Tempat terbit diambil dari nama kota dimana bahan pustaka tersebut
diterbitkan.
Apabila kota terbit dimungkinkan sama maka dapat diikutkan nama
propinsi/negaranya.
Apabila suatu penerbit mempunyai kantor lebih satu tempat, maka dipilih
tempat yang dianggap terpenting atau ditulis juga yang lainnya dengan tanda
titik koma (;) atau setelah kota yang dianggap terpenting diberi tanda dsb.
dalam kurung siku. Contoh : Bandung [dsb.]
Apabila kota terbit tersebut diragukan, maka dapat ditulis dalam kurung
siku. Contoh : [Jakarta]
Apabila kota terbit tidak diketahui maka ditulis dengan tanda [ S.l.]
yang merupakan singkatan dari Sine Loco
b.
Nama Penerbit
Nama PT, CV, CO pada penerbit dihilangkan, kecuali Press dapat
dicantumkan. Misalnya : UI Press.
Apabila ada dua nama kantor penerbit, maka dipilih yang paling populer,
namun bila keduanya sama populernya, maka dapat dipilih yang pertama kali.
Apabila nama penerbit tidak diketahui maka diberi tanda [S.n.] yang
merupakan singkatan dari Sine Nomine.
c.
Tahun Terbit
Tahun terbit ditulis dalam angka arab sesuai tahun yang tercantum pada
publikasi. Apabila yang diketahui tahun hak cipta / copy right atau tahun pencatatan, maka tahun tersebut dapat
dijadikan sebagai pengganti. contoh c1954.
Apabila tahun terbit tersebut diragukan/diperkirakan maka dapat ditulis
dalam kurung siku. Contoh [1954 ?]
Apabila tahun terbit tidak diketahui, maka ditulis dengan tanda [S.a]
yang merupakan singkatan dari Sine Anno.
4.
Daerah Deskripsi Fisik (kolasi)
Daerah ini meliputi : jumlah halaman atau jumlah jilid, keterangan
gambar / ilustrasi ukuran dan bahan yang diikutsertakan.
a.
Keterangan jumlah halaman atau
jilid
Apabila suatu buku terdiri dari beberapa jilid, maka disebutkan jumlah
jilidnya.
Contoh: 4 jil
5 jil (850 hlm.)
Pada buku yang tidak berjilid, maka penulisannya dapat dimulai dari
anak halaman, jumlah halaman. Contoh: viii, 250 hlm.
325 hlm.
b.
Keterangan ilustrasi
Hal ini menunjukkan bahwa pada suatu publikasi tersebut memilki gambar.
Jenis-jenis gambar tertentu yang terdapat dalam suatu publikasi seperti denah,
peta, potret, musik dapat diperinci setelah singkatan "ilus". Contoh:
492 hlm. :Ilus, peta
c.
Ukuran
Tinggi kulit luar buku diukur tingginya dan dibulatkan keatas. Umpama
tinggi 21,3 cm. Dibulatkan menjadi 22 cm.
Bila dimensi suatu bentuk dari suatu publikasi tidak biasa, misalnya
lebarnya lebih besar daripada tingginya, maka dapat ditulis sebagai berikut: 2l
cm. X 30 cm. Artinya tinggi buku tersebut 21 cm dan lebarnya 30 cm. Bila dalam
buku berjilid dan berbeda-beda ukurannya, maka dapat ditulis sebagai berikut: 4
jil., 24-28 cm.
d.
Bahan yang diikutsertakan
Bahan yang diikutsertakan dimaksudkan untuk digunakan dalam hubungan
dengan publikasi itu disimpan bersama sebagai satu kesatuan. Contoh: 271 hlm.:
ilus; 22 cm. + CD.
5.
Daerah Seri
Judul seri ditulis apa adanya, apabila ada nomor serinya didahului
tanda titik koma (;) (seri manajemen ; 13)
6.
Daerah Catatan
Untuk menambahkan informasi yang dianggap penting diketahui oleh
pemakai dan petugas perpustakaan perlu dibuatkan catatan. Contoh :
- Judul asli :
- Bibliografi hlm. 48-50.
- Ada indeks
7.
Daerah ISBN, Jilid dan Harga
Apabila ada nomor ISBN (International
Standart Book Number) agar ditulis sebagai berikut:
Contoh : ISBN : 979-521-672-3
Shelving
Shelving adalah
kegiatan penjajaran koleksi ke dalam rak/tempat koleksi berdasarkan sistem
tertentu. Kegiatan ini merupakan langkah terakhir dari proses pengolahan bahan
pustaka. Tujuannya agar koleksi dapat ditemukan dengan mudah dan dapat dikenali
oleh pengguna atau pustakawan.
Sistem penjajaran
koleksi ke dalam rak ada dua macam:
a. Berdasarkan jenis, yaitu disusun berdasarkan jenis koleksi dalam bidang
apapun dijadikan satu susunan. Sistem ini cocok untuk penjajaran koleksi
referensi.
b. Berdasarkan sandi pustaka atau call number, yaitu disusun berdasarkan
urutan nomor kelas sesuai dengan tata susunan koleksi. Sistem ini cocok untuk
penjajaran koleksi buku teks.
Dalam penjajaran buku
ini perlu diperhatikan hal-hal berikut:
a. rak tidak diisi penuh untuk memudahkan penambahan dan pergeseran,
b. digunakan standar buku,
c. buku tidak disusun berlapis atau ditumpuk,
d. rak hendaknya mudah dipindahkan,
e. dan desain rak hendaknya disesuaikan agar sirkulasi udara baik (Lasa
Hs, 2007:156).
PENUTUP
Perpustakaan
sekolah/madrasah memerlukan sumber daya manusia yang memiliki pemahaman yang
baik tentang berbagai aspek dalam pengelolaan bahan pustaka. Mulai dari pengembangan
bahan pustaka, inventarisasi, klasifikasi, katalogisasi, dan shelving.
Keseluruhan kegiatan tersebut perlu dilakukan secara menyeluruh agar kualitas
bahan pustaka yang disajikan kepada pemustaka menjadi baik.
Selain
pemahaman yang baik, pengelola perpustakaan juga perlu mencari dan menggunakan
cara pengelolaan bahan pustaka yang paling sesuai, efektif dan efisien. Hal ini
penting dilakukan agar perpustakaan sekolah/madrasah memiliki sumber daya dan
alokasi waktu yang cukup untuk kegiatan perpustakaan lainnya. Karena masih
banyak kegiatan lain yang merupakan tugas pokok perpustakaan dalam menunjang
pembelajaran siswa disekolah.
Daftar
Bacaan
____________. Pedoman Pengelolaan Perpustakaan Madrasah. Yogyakarta : Lembaga
Pemberdayaan Perpustakaan dan Informasi, 2000.
Hamakonda, Towa P. Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey.
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.
Lasa Hs. Manajemen Perpustakaan
Sekolah. Yogyakarta: Pinus Book Publisher, 2007.
Nurcayono. Pengembangan Koleksi.
Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2010
Mastini Hardjoprakoso. Pedoman
Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: 1992.
Yusuf, Pawit M., Yaya Suhendar, Yaya. Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Kencana.
2005.
Upriyadi. Klasifikasi dan Tajuk Subjek. Jakarta : Perpustakaan Nasional
Republik Indonesia, 2004.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar