TribunMP3 | Zona Artikel dan Download Musik™

Kumpulan Artikel juga Tutorial Simpel dan Mengutamakan Kualitas juga Menyediakan Musik Gratis Untuk Didengar secara cuma-cuma

Breaking

Minggu, 11 November 2018

PENGELOLAAN BAHAN PUSTAKA DI PERPUSTAKAAN MADRASAH


PENGELOLAAN BAHAN PUSTAKA DI PERPUSTAKAAN MADRASAH
Oleh: M Hadi Pranoto, SIP.

PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini berjalan sangat cepat. Tiap waktu selalu muncul dan terjadi perubahan tentang teori-teori ilmu pengetahuan. Hal ini dilatar-belakangi oleh semakin banyaknya penelitian-penelitian yang dilakukan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Juga dipengaruhi oleh semakin dekatnya jarak konektifitas antar manusia disatu tempat dengan tempat yang lainnya sebagai akibat dari pesatnya perkembangan teknologi informasi.
Bagi perpustakaan, pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan berdampak pada semakin banyaknya jumlah informasi serta tingginya kebutuhan pemustaka akan informasi, baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal ini juga berbanding lurus dengan semakin banyaknya jumlah bahan pustaka yang perlu dimiliki oleh perpustakaan. Perpustakaan perlu mengantisipasi perkembangan tersebut dengan cara meningkatkan pemahaman dan kemampuan pustakawan dalam melakukan pengembangan bahan pustaka di perpustakaan. Hal ini bertujuan agar perpustakaan dapat selalu meningkatkan kualitas layanan kepada pemustaka.
Pengelolaan bahan pustaka merupakan salah satu unsur penting dalam penyelenggaraan perpustakaan. Selain itu, sebagian besar alokasi waktu dan sumber daya di perpustakaan ada di bagian pengelolaan bahan pustaka. Dengan demikian, jika pengelolaan bahan pustaka tidak dilakukan dengan baik dan benar maka perpustakaan akan mengalami hambatan-hambatan dalam penyelenggaraan perpustakaan.
Perpustakaan Sekolah/Madrasah merupakan perpustakaan yang salah satu fungsi utama-nya adalah mendorong minat baca siswa. Dengan minat baca yang baik, diharapakan prestasi siswa juga menjadi baik. Jika sebagaian besar waktu dan sumber daya di perpustakaan Sekolah/Madrasah tersita untuk pengelolaan bahan pustaka, dikhawatirkan kegiatan yang berkaitan secara langsung dengan peningkatan minat baca siswa menjadi terbengkalai. Oleh karena itu, perpustakaan sekolah perlu menggunakan model pengelolaan bahan pustaka yang benar, efektif dan efisien.
Salah satu upaya agar pengelolaan bahan pustaka di perpustakaan Sekolah/Madrasah dapat dilakukan dengan benar, efektif dan efisien adalah dengan cara meningkatkan kemampuan/kompetensi pengelola  Perpustakaan (pustakawan) Sekolah/Madrasah. Melalui Pembinaan ini, diharapkan kemampuan pengelola perpustakaan menjadi lebih baik. Sehingga proses pengelolaan bahan pustaka di perpustakaan dapat dilakukan secara efektif dan efisien dengan kualitas yang memuaskan.

PENGELOLAAN BUKU PERPUSTAKAAN
Secara umum, terdapat 5 tahapan penting dalam mengelola bahan pustaka di perpustakaan. Empat tahapan tersebut ialah: pengembangan bahan pustaka, inventarisasi, klasifikasi, katalogisasi, dan shelving.

Pengembangan Bahan Pustaka
1.    Kebijakan pengembangan bahan pustaka
Kegiatan perpustakaan tidak dapat terlepas dengan adanya kebijakan pada instansi di mana perpustakaan itu berada. Dalam kebijakan pengembangan bahan pustaka harus memperhatikan aspek-aspek berikut:
a.    anggaran;
b.    tujuan prioritas Sekolah/Madrasah;
c.    jenis pemustaka dan kebutuhannya;
d.    hubungan dengan perpustakaan atau pusat dokumentasi lain;
e.    kekhususan;
f.     pustakawan/staf perpustakaan;
g.    bahasa;
h.    analisa bahan pustaka dan evaluasi;
i.      kendala pengembangan bahan pustaka.
Dalam mengembangkan bahan pustaka di perpustakaan, terdapat dua kegiatan. Yaitu seleksi (pengadaan) dan penyiangan.

Seleksi (pengadaan) bahan pustaka
1.    Prinsip seleksi
Pedoman dasar dalam seleksi bahan pustaka yang harus dipahami oleh petugas seleksi (selektor) adalah:
a.    Mengetahui berbagai jenis bahan pustaka yang ada di pasaran;
b.    Memahami tujuan dan fungsi perpustakaan tempat ia bekerja;
c.    Mengenal kebutuhan perpustakaan sekolah;
d.    Mengenal prinsip-prinsip seleksi;
e.    Mengenal dan mampu menggunakan alat-alat bantu seleksi;
f.     Memahami berbagai kendala yang ada.
Dalam pemilihan bahan pustaka prinsip yang harus ditaati oleh selektor adalah sebagai berikut:
a.    Memilih buku yang cocok dengan masyarakat pemustaka;
b.    Tanpa membedakan suku, kebangsaan, pekerjaan, agama, pendidikan dan   adat   istiadat setempat;
c.    Sesuai dengan rencana dan anggaran perpustakaan;
d.    Sedapat mungkin harus sesuai   dengan standar  kualitas isi, edisi dan format;
e.    Bahan pustaka harus dapat dimanfaatkan masyarakat pemustaka;
f.     Mencakup berbagai bahan yang dapat menunjang tujuan perpustakaan;
g.    Kualitas   bahan pustaka   perpustakaan   merupakan   kesinambungan antara faktor-faktor tujuan perpustakaan dan permintaan masyarakat;
h.    Tidak mengabaikan permintaan masyarakat pemustaka;
i.      Mengetahui keadaan masyarakat pemustaka;
j.      Bahan pustaka perpustakaan merupakan sarana rekreasi aktif.

2.    Proses Seleksi
Ketentuan dalam proses seleksi tentang bagaimana melakukan seleksi dan siapa yang berhak melakukan seleksi tergantung dari jenis perpustakaan dan struktur organisasinya. Pada prinsipnya personalia yang dapat melaksanakan seleksi bahan bahan pustaka pustaka, adalah:
a.    Pustakawan;
b.    Spesialis subjek termasuk guru;
c.    Komite sekolah;
d.    Kepala sekolah.
Untuk dapat melaksanakan seleksi bahan bahan pustaka pustaka, selektor harus memenuhi kriteria sebagai berikut;
a.    menguasai sarana bibliografi;
b.    mengetahui latar belakang pemustaka perpustakaan;
c.    mengetahui kebutuhan pemustaka;
d.    memiliki pengetahuan mengenai bahan pustaka perpustakaan;
e.    bersifat netral.
3.    Prosedur Seleksi
Kegiatan seleksi di suatu perpustakaan memperhatikan hal-hal sebagai berikut;
a.    fungsi / tujuan perpustakaan;
b.    ruang lingkup bidang yang akan dicakup;
c.    pemustaka yang dilayani.
Melalui langkah sebagai berikut;
a.    mengumpulkan alat seleksi;
b.    memilih judul / seleksi;
c.    mencatat data judul terpilih ke dalam kartu desiderata;
d.    melakukan pengecekan untuk menghindari duplikasi;
e.    melakukan pengecekan kartu desiderata;
f.     membuat daftar pesanan;
g.    melakukan penerimaan.
4.    Jenis Alat Bantu Seleksi
Guna menjaga mutu bahan pustaka, dalam pengadaan bahan pustaka perlu diadakan pemilihan atau seleksi. Untuk seleksi bahan pusaka dibutuhkan alat bantu antara lain;
a.    Katalog penerbit
b.    Daftar buku IKAPI;
c.    Berita Bibliografi;
d.    Bibliografi Nasional Indonesia / Bibliografi Daerah;
e.    Daftar buku berarnotasi dengan rekomendasi;
f.     Daftar terbitan dari penerbit, instansi atau lembaga pemerintah maupun swasta;
g.    dan lain-lain.

Penyiangan Bahan Pustaka
1.    Pengertian
Penyiangan merupakan kegiatan mengeluarkan bahan pustaka dari jajaran bahan pustaka yang ada di perpustakaan. Seharusnya perpustakaan sekolah mengadakan penyiangan satu kali setahun, apabila bahan pustakanya masih sedikit. Untuk perpustakaan sekolah yang besar sebaiknya dilakukan setiap tiga tahun sekali agar beban pekerjaan tidak terlalu berat.
2.  Kriteria Penyiangan
Bahan pustaka yang disiangi harus berdasarkan pada kriteria penyiangan sebagai berikut:
a.    Kondisi Fisik Bahan pustaka
Bahan pustaka yang sudah rusak sekali, robek, tidak lengkap, huruf terlalu kecil, kualitas suara sudah jelek (kaset), piringan hitam dengan goresan dan sebagainya. Jika dari segi isi bahan tersebut masih berguna maka perlu diusahakan penggantinya misalnya kopi baru, judul sama tetapi dalam bentuk lain seperti microfilm atau judul serupa (alih media).
b.    Isi
Isi yang sudah ketinggalan jaman, data tidak akurat lagi, tidak bermanfaat, karena ada perubahan dalam kurikulum atau program studi, sudah ada edisi baru, tidak sesuai lagi dan dilihat dari segi minat pemustaka nilai instriktik tidak ada lagi, dan sebagainya, bahan pustaka tersebut perlu dikeluarkan.
c.    Penggunaan
Bahan pustaka yang kurang dipakai atau sudah lama tidak dipakai. Dasar untuk mengeluarkan bisa dilihat dari statistik penggunaan atau peminjaman dari bagian sirkulasi.
d.    Duplikasi
Jika jumlah eksemplar suatu judul bahan pustaka cukup banyak, maka bahan pustaka tersebut layak untuk dilakukan penyiangan. Kecuali jika rasio pemustaka pengguna bahan pustaka tersebut memang sesuai (banyak).

Inventarisasi
Bahan  pustaka  yang  ada  di  perpustakaan  biasanya  berasal  dari  pembelian, sumbangan,  hadiah  atau  tukar  menukar.  Sebelum  bahan  pustaka  digunakan  haruslah terlebih  dahulu  didaftarkan  dalam  buku  induk  perpustakaan. Kegiatan  pendaftaran koleksi inilah  yang disebut inventarisasi bahan pustaka. Kegiatan inventarisasi bahan pustaka  ini  dapat  dilakukan  secara  manual  atau  elektronik. Yang  membedakan keduanya yaitu pada media yang digunakan dalam proses pencatatan data koleksi. Bila dilakukan secara  manual, proses pencatatan data  koleksi dilakukan  secara  manual ke dalam  buku  induk  atau  buku  inventaris. Pada  inventarisasi  bahan  pustaka  yang dilakukan  secara  elektronik,  proses  pencatatan  data  koleksi  menggunakan  bantuan komputer.
Pada  intinya,  kegiatan  inventarisasi  bahan  pustaka  itu  adalah  kegiatan pencatatan  semua  bahan  pustaka  milik perpustakaan  yang  dilakukan  oleh petugas  perpustakaan  atau  pustakawan. Kegiatan  inventarisasi  bahan  pustaka bila  dijabarkan  terdiri  dari  tiga  tahap,  yaitu:  1).  Pemberian  cap/  stempel kepemilikan perpustakaan, 2). Pemberian nomor inventaris buku/ nomor induk buku  ,  dan  3)  Pencatatan  data  koleksi  ke  dalam  buku  induk  atau  buku inventaris. 
Contoh format buku induk untuk buku:


Garis besar pencatatan mencakup:
a.         Pencatatan harus berdasarkan kronologis menurut tanggal penerimaan
b.        Buku induk terdiri dari kolom dan lajur tertentu, diisi sesuai dengan bahan pustaka yang diterima
c.         Tiap buku mempunyai satu nomor induk
d.        Tiap tahun buku induk dapat dimulai dengan nomor baru, tetapi juga dapat dilanjutkan dari tahun ke tahun
e.        Jika  bukunya hilang, dicatat pada kolom keterangan.

Klasifikasi
Klasifikasi adalah kegiatan pengelompokkan bahan pustaka/koleksi  berdasarkan ciri-ciri yang sama dan memisahkan bahan pustaka/koleksi yang mempunyai ciri yang berbeda, misalnya ciri kepengarangan, ciri bentuk fisik, ciri subyek, dan sebagainya.
Pada dasarnya di perpustakaan dikenal dua jenis klasifikasi, yaitu
1.       Klasifikasi artifisial (artificial classification) adalah klasifikasi bahan pustaka berdasarkan ciri-ciri yang ada pada bahan pustaka, misalnya  berdasarkan warna kulit buku, ukuran, dan sebagainya.
2.       Klasifikasi fundamental (fundamental classification) adalah klasifikasi bahan pustaka berdasarkan subjek/isi bahan pustaka. Pengelompokkan  bahan  pustaka  berdasarkan  sistem  ini mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya:
  1. Bahan pustaka yang subyeknya sama atau hampir  sama, letaknya berdekatan.
  2. Dapat  digunakan  sebagai  bahan  pertimbangan  dalam  menilai  koleksi  yang  dimiliki dengan melihat subyek mana yang lemah dan mana yang kuat.
  3. Menudahkan pemakai dalam menelusur informasi menurut subyeknya.
  4. Memudahkan pembuatan bibliografi menurut pokok masalah.
  5. Untuk membantu penyiangan atau weeding koleksi.
Cara yang kedua inilah yang banyak digunakan di perpustakaan, karena sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Sistem Klasifikasi
Terdapat beberapa system klasifikasi di dunia perpustakaan, namun yang umum digunakan adalah sebagi berikut:
a.       Dewey Decimal Classifications (DDC)
Klasifikasi Persepuluhan Dewey mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan yang disusun secara sistimatis dan teratur. Pembagian ilmu pengetahuan dari yang bersifat umum kemudian yang bersifat khusus.
Sistem klasifikasi ini banyak digunakan di Amerika Serikat dan di Indonesia
b.      Universal Decimal Classification (UDC)
Klasifikasi ini merupakan system klasifikasi persepuluhan yang teliti dan universal. Sistem ini mencakup semua cabang ilmu pengetahuan yang dibagi menjadi sepuluh cabang dan dinyatakan dalam pecahan persepuluhan (desimal).
c.       Library of Congress Classification (LCC)
Klasifikasi ini menggunakan notasi kombinasi huruf dan angka, mempunyai indeks sendiri-sendiri, tetapi belum ada indeks secara keseluruhan.

Analisis Subyek
Sebelum melakukan klasifikasi, langkah awal adalah melakukan analisis subyek, yaitu proses meneliti, mengkaji dan menyimpulkan isi yang dibahas dalam suatu bahan pustaka. Terdapat 2 hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan analisis subyek:
1.       Jenis Konsep
Dalam bahan pustaka dapat dikenali 3 (tiga) jenis konsep, yaitu:
  1. Displin ilmu, yaitu istilah yang digunakan untuk satu bidang atau cabang ilmu pengetahuan (misal: Hukum, Ekonomi, Kedokteran, dan sebagainya).
a)      Disiplin Fundamental. Meliputi bagian-bagian utama ilmu pengetahuan. Oleh para   ahli disiplin fundamental dikelompokkan menjadi 3 yakni ilmu-ilmu sosial, ilmu -ilmu  pengetahuan alam , dan ilmu-ilmu kemanusiaan. 
b)      Sub disiplin, merupakan bidang spesial dalam satu disiplin fundamental.  Misalnya  dalam disiplin ilmu fundamental alam, sub disiplinnya terdiri atas fisika, kimia,  biologi, dsb.
  1. Fenomena (topik yang dibahas) merupakan wujud/benda yang menjadi obyek kajian dari disiplin ilmu. Misalnya: Sejarah Nabi, “Sejarah” merupakan disiplin ilmu dan “Nabi” merupakan obyek atau fenomena yang dikaji oleh disiplin ilmu sejarah.
  2. Bentuk, merupakan cara bagaimana suatu subyek disajikan. Dalam hal ini dibedakan 3 (tiga) bentuk:
1)      Bentuk fisik, yakni medium atau sarana yang digunakan dalam menyajikan suatu subyek. Misalnya: dalam bentuk buku, majalah, pita rekaman, dsb.
2)      Bentuk penyajian, yakni bentuk yang menunjukkan pengaturan atau organisasi isi bahan pustaka. Ada 3 (tiga) bentuk penyajian, yaitu:
·         Menggunakan lambang-lambang dalam penyajiannya, seperti bahasa, gambar, dan lain-lain.
·         Memperlihatkan tata susunan tertentu, misalnya abjad, kronologis, sistematis, dan sebagainya.
·         Penyajiannya untuk kelompok tertentu, misalnya “Resep memasak untuk pemula”, “psikologi untuk remaja’. Kedua bahan pustaka tersebut adalah mngenai ‘masakan’ dan ‘psikologi’, bukan mengenai ‘pemula’ dan ‘remaja’
3)      Bentuk intelektual, yakni aspek yang ditekankan dalam pembahasan suatu subyek, misalnya ‘filsafat islam’, disini yang menjadi subyeknya adalah ‘islam’ sedangkan ‘filsafat’ adalah bentuk intelektual atau tekanan dalam pembahasan subyek islam.
Contoh-contoh:
“Kamus peternakan”
Analisis subyeknya:
Pertanian                    ======>                Disiplin ilmu
Peternakan                                ======>                Fenomena
Kamus                          ======>                Bentuk
2.       Jenis Subjek
Pada dasarnya ada 4 (empat) jenis subyek, yaitu:
1)      Subyek dasar, yaitu subyek yang hanya terdiri dari satu disiplin ilmu atau sub disiplin ilmu saja.
 Misalnya:
“Pengantar ilmu fikih” yang menjadi subyek dasarnya “fikih”.
“Bunga Rampai Bahasa Indonesia” yang menjadi subyek dasarnya “Bahasa Indonesia”
2)      Subyek sederhana, yaitu subyek yang terdiri dari satu subyek dasar disertai satu fenomena.
Misalnya:
“Penyakit jantung koroner” subyek dasarnya ‘kedokteran’ dan fenomenanya ‘Penyakit jantung’
3)      Subyek majemuk, yaitu subyek yang terdiri dari subyek dasar disertai dua atau lebih fenomena.
Misalnya:
“Hukum syariah di Indonesia” subyek dasarnya ‘Hukum’ dan fenomenanya ‘syariah’ dan ‘Indonesia’
4)      Subyek kompleks, yaitu subyek yang terdiri dari dua atau lebih subyek dasar dan saling berinteraksi antara satu dengan yang lain.
Misalnya:
“ Ekonomi Pertanian” subyek dasarnya ‘Ekonomi’ dan ‘Pertanian’
Cara Praktis Menentukan Subyek Suatu Bahan Pustaka
Untuk  mengetahui  subyek  suatu  bahan  pustaka  dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah praktis berikut:
1.       Melalui  Judul,  dengan  melihat,  mempelajari  dan  memahami  judulnya  saja suatu  bahan  pustaka  sudah  dapat  ditentukan  subyeknya.  Namun cara ini tidak dapat dilakukan pada semua bahan koleksi.
2.       Melalui  daftar  isi,  jika  melalui  judul  kita belum  dapat  mengetahui  subyeknya,  maka dengan melihat daftar isi bahan pustaka tersebut dapat diketahui subyeknya.
3.       Kata  pengantar  atau  pendahuluan.  Dengan  membaca  pengantar atau pendahuluan, kita dapat mengetahui subyek suatu bahan pustaka. Karena beberapa pengarang menyebutkan inti atau topik dan ruang lingkup sebuah bahan pustaka dalam kata pengantar.
4.       Daftar  bahan  pustaka  atau  bibliografi,  dapat digunakan  dalam menentukan subyek dari sebuah bahan pustaka.
5.       Jika  melalui  langkah-langkah  di  atas  masih  belum  membantu  menetapkan subyek  bahan  pustaka,  maka  hendaklah  dengan  membaca  sebagian  atau  keseluruhan dari isi karya tersebut.
6.       Atau menggunakan  sumber  lain,  seperti:  Bibliografi,  katalog,  kamus,  biografi,  ensiklopedi, tinjauan buku dan sebagainya.
7.       Dan jika masih juga belum dapat  membantu menentukan subyek bahan pustaka, hendaknya menanyakan kepada orang yang ahli di bidang subyek tersebut (subject specialist).
Tajuk Subyek
Tajuk subyek dalam ilmu perpustakaan adalah frase atau kosakata yang terkendali dan berstruktur yang digunakan untuk menyatakan topik suatu bahan pustaka. Tajuk subyek biasanya berupa kata benda, kata benda dengan kata sifat, frase atau bentuk lainnya.
Klasifikasi Persepuluhan Dewey (DDC)
Klasifikasi persepuluhan Dewey ( Dewey Decimal Classification) yang lebih dikenal dengan singkatan DDC merupakan skema klasifikasi perpustakaan modern yang banyak digunakan di dunia termasuk di Indonesia. Skema klasifikasi ini disusun oleh Melvyl Dewey dari Amerika Serikat, edisi pertama terbit tahun 1876.
Prinsip dasar pembagiannya disebut desimal. Hal ini dikarenakan DDC membagi semua ilmu pengetahuan ke dalam 10 kelas subyek utama dengan notasi 000 sampai 900. begitu seterusnya setiap pembagian kelas diuraikan 10 bagian subyek yang lebih khusus.
Pada prinsipnya DDC memiliki ciri-ciri umum:
a.       DDC merupakan klasifikasi ilmu pengetahuan yang melakukan pembagian subyek secara hirarkis, artinya pembagian subyek dari umum ke khusus.
b.      DDC menggunakan prinsip desimal, artinya DDC membagi semua bidang ilmu pengetahuan ke dalam 10 kelas utama.
c.       DDC hanya mampu memberikan notasi kelas bagi satu subyek. Dalam menghadapi subyek bahan pustaka yang lebih dari satu, DDC harus memilih salah satu subyek yang paling dominan.
BAGAN DDC
KELAS UTAMA
DIVISI
SEKSI
000 - Karya Umum
100 - Filsafat
200 - Agama
300 - Ilmu-ilmu Sosial
400 - Bahasa
500 - Ilmu-ilmu Murni
600 - Teknologi
700 - Kesenian
800 - Kesusasteraan
900 - Geografi dan Sejarah umum
600 - Teknologi
610 - Ilmu Kedokteran
620 - Ilmu Teknik
630 - Pertanian dan Teknologi
          yang Berkaitan
640 - Kesejahteraan Rumah
          Tangga
650 - Manajemen
660 - Industri dan Teknologi Kimia
670 - Pengolahan Bahan Industri
          dalam Pabrik
680 - Industri Lain
690 - Bangunan

630 - Pertanian dan teknologi yang
          berkaitan
631 - Teknik, prosedur, alat-alat
632 - Kerusakan, penyakit, dan
           hama pertanian
633 - Tanaman ladang
634 - Tanaman buah-buahan,
           kehutanan
635 - Hortikultura, sayur-sayuran
636 - Peeternakan
637 - Industri pengolahan susu
638 - Pemeliharaan serangga
639 - Perkebunan, perikanan,
          konservasi

Katalogisasi
NS Sutarno dalam bukunya Manajemen Perpustakaan (2006: 182) menyatakan bahwa; “Katalogisasi adalah kegiatan membuat dekripsi data bibliografi suatu bahan pusta menurut aturan tertentu”. Selanjutnya Sutarno NS membagi katalogisasi menjadi 3 bagian yaitu:
1.         Katalogisasi sederhana, adalah kegiatan katalogisasi yang hanya mencantumkan informasi data bibliogafis, tingkat (level) 1 berdasarkan Anglo American Kataloging Rules (AACR II) yaitu: judul asli, pengarang, edisi, penerbit, tempat terbit, dan nomor standar seperti International Standard Book Number(ISBN).
2.         Katalogisasi kompleks, adalah kegiatan katalogisasi yang mencantumkan informasi data bibliografis tingkat 1 ditambah antara lain judul paralel, judul-judul seri, judul terjemah, dan pengarang tambahan.
3.         Katalog salinan adalah kegiatan menyalin data bibliografi bahan pustaka dari sumber bibliografi lain dengan atau tanpa menambah informasi yang diperlukan.
Karalogisasi kompleks
Katalogisasi kompleks, adalah kegiatan katalogisasi yang mencantumkan informasi data bibliografis tingkat 1 ditambah antara lain judul paralel, judul-judul seri, judul terjemah, dan pengarang tambahan. Dalam melakukan katalogisasi kompleks, pengelola perpustakaan perlu mengetahui perbedaan antara katalogisasi sederhana dan katalogisasi kompleks.
Perbedaan katalogisasi sederhana dan kompleks dapat digambarkan pada tabel sebagai berikut:
Tabel 1. Tabel perbedaan katalogisasi sederhana dan kompleks
NO
DESKRIPSI
SEDERHANA
KOMPLEKS
1
Daerah judul dan penanggung  jawab/kepengarangan
Hanya Judul utama/asli saja
Judul utama disertai judul pararel / judul seri / judul terjemahan
Hanya 1 orang pengarang saja
Lebih dari 1 orang pengarang, (termasuk editor, penerjemah, dll)
2
Daerah edisi

Edisi & Cetakan
3
Daerah penerbitan (impresum)
·      Kota terbit
·      Nama Penerbit
·      Tahun terbit
·    Kota terbit
·    Nama Penerbit
·    Tahun terbit
4
Daerah deskripsi fisik (Kolasi)

·    Halaman
·    Ilustrasi
·    Ukuran
·    Bahan yg disertakan
5
Daerah Seri
Sesuai keadaan
Sesuai Keadaan
6
Daerah Catatan
Sesuai keadaan
Sesuai Keadaan
7
Daerah ISBN, Jilid dan Harga
Sesuai keadaan
Sesuai keadaan

Tujuan Katalogisasi
Membantu  pemakai  perpustakaan  memperoleh informasi  yang  cepat  dan  tepat melalui  pengarang,  judul atau  subyek.
Fungsi Katalogisasi
Fungsi katalogisasi di perpustakaan antara lain sebagai berikut:
1.         Sebagai wakil dokumen yang dimiliki perpustakaan.
2.         Alat temu kembali  inforrrtasl (lnformation  Retrieval).
3.         Membantu dalam pemilihan bahan pustaka

Sumber Informasi untuk katalogisasi
1.         Halaman Judul
2.         Halaman Verso (halaman  dibalik  halaman judul)
3.         Kata Pengantar
4.         Daftar Isi
5.         Halaman Belakang/Kolopon (Colophon)
6.         Jaket Buku
7.         Informasi lain
Bentuk Katalog
Bentuk fisik berkembang sesuai dengan perkembangan jaman, maka bentuk katalog  ini  berkembang antara lain  :
1.         Buku katalog (book catalog) yaitu kumpulan lembar katalog yang kemudian dijilid  sehingga berbentuk buku;
2.         kartu katalog (card catalog) biasanya dibuat dari bahan karton kertas tebal dengan ukuran  standard international 12,5 X 7,5 cm. Dibagian tengah  bawah kartu dibawah  kartu  dibuatkan lubang agar dapat dilewati kawat sebagai penekan dan pengaman kartu bila kartu tersusun  dalam laci katalog;
3.         katalog bentuk lembaran (sheat  catalog);
4.         Katalog terpasang (OPAC = Online Public Access Catalogue).

Garis Besar Susunan Elemen Deskripsi
Garis besar berikut menunjukkan susunan daerah deksripsi dengan elemennya serta tanda-tanda baca yang sudah ditentukan untuk mengawali tiap elemen.
Tabel 2. Tabel tanda baca (elemen) deskripsi bibliografi
NO

DAERAH

TANDA
BACA
ELEMEN

1
Daerah judul dan pernyataan tanggung jawab

Judul sebenarnya
[   ]
Pernyataan jenis bahan umum
=
Judul paralel
:
Judul lain, judul tambahan atau anak judul
/
Pernyataan tanggung jawab pertama
;
Pernyataan tanggung jawab kedua
2
Daerah Edisi
.--
Pernyataan edisi
/
Pernyataan tanggung jawab pertama
sehubungan dengan edisi tersebut
;
Pernyataan tanggung jawab kedua
3
Daerah Data Khusus
.--
Hanya untuk peta, penerbitan berseri, musik dan file komputer
4
Daerah terbitan dan penyaluran / pengedaran
.--
Tempat terbit, penyalur, pengedaran
(kota pertama)
;
Kota kedua
:
Nama penerbit, penyalur, distributor
[   ]
Pernyataan fungsi penerbit, distributor
,
Tahun terbitan, penyaluran, pengedaran
(
Tempat pembuat
:
Nama pembuat
,
Tahun pembuatan - diikuti oleh tanda kurung tutup
5
Daerah deskripsi fisik (dimulai pada paragraph baru atau diawali, --)
.--
Jumlah satuan dan jenis bahan
:
Data fisik lain, misalnya Jenis rekaman, Warna dan sebagainya (sesuai dengan bahan yang dideskripsikan) Ukuran
:
Pernyataan bahan yang diikutsertakan
+
(lampiran)
6
Daerah seri (dicatat dalam kurung biasa)
.--
Pernyataan judul seri
=
Judul paralel seri
:
Keterangan judul lain
/
Pernyataan penanggung jawab pertama berkaitan dengan seri
;
Penanggung jawab tambahan
,
Nomor standar seri (ISSN)
;
Nomor seri
.
Pernyataan judul sub seri
7
Daerah catatan


8
Daerah nomor standar, harga serta syarat-syarat penjualan/penyaluran (dimulai pada paragaf baru atau diawali)
.--
Nomor standar Judul ringkas Harga dan syarat penjualan/penyaluran

Deskripsi Bibliografi Monograf (Buku)
Sebelum membuat deskripsi bibliografi perlu disadari bahwa pembuatan deskripsi bibliografi jenis bahan pustaka buku tidak sama dengan bahan pustaka lainnya. Disamping itu perlu memahami cara menentukan tajuk entri utama, karena akan mempengaruhi dalam memilih format katalog tersebut.
1.         Daerah judul dan penanggung jawab/kepengarangan
a.     Judul
Informasi judul diperoleh pada halaman judul dan ditulis seperti yang tertera pada halaman judul, namun yang memakai huruf besar hanya pada huruf pertama, atau berupa nama kota/negara/orang. Apabila judul terlalu panjang dapat disingkat/dipotong dengan memberi tanda titik tiga (...) tanpa mengurangi arti esensial.
Judul paralel dicantumkan menurut urutan yang terdapat dalam halaman atau menurut keadaan cetakan halaman judul dengan diberi tanda ( = ). Contoh : Hukum pidana = Penal Law / Fakultas Hukum Universitas Tanjung Pura Informasi judul lain / anak judul dicantumkan sesudah judul biasa atau judul paralel
Contoh : Kepustakawanan Indonesia : potensi dan tantangan/ editor Antonius Bangun [et.al.]
b.    Kepengarangan
Keterangan kepengarangan ditulis seperti yang tertera pada halaman judul atau di salah satu tempat pada publikasi tanpa mencantumkan gelar akademik. Bila keterangan kepengarangan tidak diambil dari halaman judul , maka penulisannya dimasukkan dalam kurung siku [ ]. Bila pengarang lebih dari satu dan memiliki kedudukan yang sederajat, maka antara pengarang satu dengan lainnya diberi tanda koma ( , ) . Apabila setelah pengarang utama ada penerjemah, editor, ilustrator dll, yang mempunyai kedudukan tidak sama, maka diberi tanda titik koma ( ; ).
2.         Daerah Edisi
Dalam menentukan apakah suatu keterangan merupakan suatu edisi atau tidak, yang dilihat adalah adanya kata "edisi" atau yang identik dengannya.
Contoh : First edition ditulis 1st. ed.
         Abridged ed, 2nd ed.
         Cet.4
         4th ed.
3.         Daerah Penerbitan (Impresum)
Keterangan impresum menujukkan dimana buku diterbitkan/kota terbit, nama penerbit, dan tahun terbit.
a.     Tempat terbit
Tempat terbit diambil dari nama kota dimana bahan pustaka tersebut diterbitkan.
Apabila kota terbit dimungkinkan sama maka dapat diikutkan nama propinsi/negaranya.
Apabila suatu penerbit mempunyai kantor lebih satu tempat, maka dipilih tempat yang dianggap terpenting atau ditulis juga yang lainnya dengan tanda titik koma (;) atau setelah kota yang dianggap terpenting diberi tanda dsb. dalam kurung siku. Contoh : Bandung [dsb.]
Apabila kota terbit tersebut diragukan, maka dapat ditulis dalam kurung siku. Contoh : [Jakarta]
Apabila kota terbit tidak diketahui maka ditulis dengan tanda [ S.l.] yang merupakan singkatan dari Sine Loco
b.    Nama Penerbit
Nama PT, CV, CO pada penerbit dihilangkan, kecuali Press dapat dicantumkan. Misalnya : UI Press.
Apabila ada dua nama kantor penerbit, maka dipilih yang paling populer, namun bila keduanya sama populernya, maka dapat dipilih yang pertama kali.
Apabila nama penerbit tidak diketahui maka diberi tanda [S.n.] yang merupakan singkatan dari Sine Nomine.
c.     Tahun Terbit
Tahun terbit ditulis dalam angka arab sesuai tahun yang tercantum pada publikasi. Apabila yang diketahui tahun hak cipta / copy right atau tahun pencatatan, maka tahun tersebut dapat dijadikan sebagai pengganti. contoh c1954.
Apabila tahun terbit tersebut diragukan/diperkirakan maka dapat ditulis dalam kurung siku. Contoh [1954 ?]
Apabila tahun terbit tidak diketahui, maka ditulis dengan tanda [S.a] yang merupakan singkatan dari Sine Anno.
4.         Daerah Deskripsi Fisik (kolasi)
Daerah ini meliputi : jumlah halaman atau jumlah jilid, keterangan gambar / ilustrasi ukuran dan bahan yang diikutsertakan.
a.     Keterangan jumlah halaman atau jilid
Apabila suatu buku terdiri dari beberapa jilid, maka disebutkan jumlah jilidnya.
Contoh:  4 jil
5 jil (850 hlm.)
Pada buku yang tidak berjilid, maka penulisannya dapat dimulai dari anak halaman, jumlah halaman. Contoh: viii, 250 hlm.
325 hlm.
b.    Keterangan ilustrasi
Hal ini menunjukkan bahwa pada suatu publikasi tersebut memilki gambar. Jenis-jenis gambar tertentu yang terdapat dalam suatu publikasi seperti denah, peta, potret, musik dapat diperinci setelah singkatan "ilus". Contoh: 492 hlm. :Ilus, peta
c.     Ukuran
Tinggi kulit luar buku diukur tingginya dan dibulatkan keatas. Umpama tinggi 21,3 cm. Dibulatkan menjadi 22 cm.
Bila dimensi suatu bentuk dari suatu publikasi tidak biasa, misalnya lebarnya lebih besar daripada tingginya, maka dapat ditulis sebagai berikut: 2l cm. X 30 cm. Artinya tinggi buku tersebut 21 cm dan lebarnya 30 cm. Bila dalam buku berjilid dan berbeda-beda ukurannya, maka dapat ditulis sebagai berikut: 4 jil., 24-28 cm.
d.    Bahan yang diikutsertakan
Bahan yang diikutsertakan dimaksudkan untuk digunakan dalam hubungan dengan publikasi itu disimpan bersama sebagai satu kesatuan. Contoh: 271 hlm.: ilus; 22 cm. + CD.
5.         Daerah Seri
Judul seri ditulis apa adanya, apabila ada nomor serinya didahului tanda titik koma (;) (seri manajemen ; 13)
6.         Daerah Catatan
Untuk menambahkan informasi yang dianggap penting diketahui oleh pemakai dan petugas perpustakaan perlu dibuatkan catatan. Contoh :
-     Judul asli :          
-     Bibliografi hlm. 48-50.
-     Ada indeks
7.         Daerah ISBN, Jilid dan Harga
Apabila ada nomor ISBN (International Standart Book Number) agar ditulis sebagai berikut:
Contoh : ISBN : 979-521-672-3

Shelving
Shelving adalah kegiatan penjajaran koleksi ke dalam rak/tempat koleksi berdasarkan sistem tertentu. Kegiatan ini merupakan langkah terakhir dari proses pengolahan bahan pustaka. Tujuannya agar koleksi dapat ditemukan dengan mudah dan dapat dikenali oleh pengguna atau pustakawan.
Sistem penjajaran koleksi ke dalam rak ada dua macam:
a.     Berdasarkan jenis, yaitu disusun berdasarkan jenis koleksi dalam bidang apapun dijadikan satu susunan. Sistem ini cocok untuk penjajaran koleksi referensi.
b.    Berdasarkan sandi pustaka atau call number, yaitu disusun berdasarkan urutan nomor kelas sesuai dengan tata susunan koleksi. Sistem ini cocok untuk penjajaran koleksi buku teks.
Dalam penjajaran buku ini perlu diperhatikan hal-hal berikut:
a.    rak tidak diisi penuh untuk memudahkan penambahan dan pergeseran,
b.    digunakan standar buku,
c.     buku tidak disusun berlapis atau ditumpuk,
d.    rak hendaknya mudah dipindahkan,
e.    dan desain rak hendaknya disesuaikan agar sirkulasi udara baik (Lasa Hs, 2007:156).

PENUTUP
Perpustakaan sekolah/madrasah memerlukan sumber daya manusia yang memiliki pemahaman yang baik tentang berbagai aspek dalam pengelolaan bahan pustaka. Mulai dari pengembangan bahan pustaka, inventarisasi, klasifikasi, katalogisasi, dan shelving. Keseluruhan kegiatan tersebut perlu dilakukan secara menyeluruh agar kualitas bahan pustaka yang disajikan kepada pemustaka menjadi baik.
Selain pemahaman yang baik, pengelola perpustakaan juga perlu mencari dan menggunakan cara pengelolaan bahan pustaka yang paling sesuai, efektif dan efisien. Hal ini penting dilakukan agar perpustakaan sekolah/madrasah memiliki sumber daya dan alokasi waktu yang cukup untuk kegiatan perpustakaan lainnya. Karena masih banyak kegiatan lain yang merupakan tugas pokok perpustakaan dalam menunjang pembelajaran siswa disekolah.

Daftar Bacaan
____________. Pedoman Pengelolaan Perpustakaan Madrasah. Yogyakarta : Lembaga Pemberdayaan Perpustakaan dan Informasi, 2000.
Hamakonda, Towa P. Pengantar Klasifikasi Persepuluhan Dewey. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009.
Lasa Hs. Manajemen Perpustakaan Sekolah. Yogyakarta: Pinus Book Publisher, 2007.
Nurcayono. Pengembangan Koleksi. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2010
Mastini Hardjoprakoso. Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: 1992.
Yusuf, Pawit M., Yaya Suhendar, Yaya. Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Kencana. 2005.
Upriyadi. Klasifikasi dan Tajuk Subjek. Jakarta : Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, 2004.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar